PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA.

BEBERAPA TEMUAN YANG MENJADI LATAR BELAKANG DALAM TULISAN INI ADALAH SEMENJAK OTORITAS NEGARA GENCAR MELAKUKAN UPAYA–UPAYA PENANGGULANANGAN TERORISME DI INDOENSIA TENYATA UPAYA PEMERINTAH TERSEBUT TELAH MEMAKSA PELAKU DAN KELOMPOK JARINGAN TERORISME DI INDONESIA MENCARI INOVASI BARU DALAM MELANCARKAN SERANGAN TEROR, MENYUSUN RENCANA, MEMBERIKAN PELATIHAN , PEMBIAYAAN, DAN REKRUITMENT, MENGHARUSKAN MEREKA MENGUBAH MODUS OPERANDI YANG BERSIFAT KONVENSIONAL MENJADI MO MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INTERNET
UPAYA PENANGGULANGAN TERORISME DI INDONESIA BELUM PARIPURNA DAPAT MELAKUKAN UPAYA PENCEGAHAN , PENANGGULANGAN DAN PENINDAKAN TERHADAP TERORISME , SEBAGAI CONTOH ADALAH BELUM TERDAPAT PRODUK HUKUM POSITIF YANG SECARA JELAS MENGATUR PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME SEBAGAI UNDANG UNDANG YANG DAPAT MENJERAT ORANG YANG MEMBERIKAN ATAU MEMUAT KONTEN BERNADA PROVOKATIF MAUPUN MEMUAT KEBENCIAN ( HATE SPEECH ) DAN KONTEN LAIN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MELANCARKAN SERANGAN TEROR TERHADAP SUATU KELOMPOK DALAM MASYARAKAT INDONESIA.
PASCA SERANGAN BOM BALI I , KETIKA IMAM SAMUDRA MENERBITKAN BUKU BERJUDUL “ AKU MELAWAN TERORIS “ BUKU TERSEBUT KINI DIJADIKAN SUMBER INSPIRASI BAGI PELAKU TEROR UNTUK MEMANFAATKAN INTERNET, SECARA KUALITAS DAN KUANTITAS SERANGAN YANG TIMBUL KEMUDIAN SEMAKIN BERKEMBANG CONTOHNYA ADALAH KASUS TERORISME TERKAIT LANGSUNG DENGAN MUATAN RADIKAL DISUATU SITUS INTERNET.

MENCERMATI KEBIJAKAN NEGARA DALAM PENANGGULANGAN TERORISME YANG MENDORONG SUATU PEMIKIRAN MENGAPA FENOMENA PENGGUNAAN INTERNET DALAM KEGIATAN TERORISME PERLU MENDAPATKAN PERHATIAN LEBIH SERIUS ADALAH DENGAN MELIHAT KEPADA PARADIGMA BAHWA TERORISME DISEPAKATI SEBAGAI SUATU KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN , HAL INI DITEGASKAN DALAM UU PEMBERANTASAN TERORISME DENGAN HUKUM SEBAGAI GARDA TERDEPAN, PEMERINTAH INDONESIA SEPAKAT UNTUK MELAKUKAN UPAYA PENANGGULANGAN TERORISME SEBAGAI SUATU UPAYA DENGAN PENDEKATAN PENEGAKKAN HUKUM, DIMANA PENEGAKKAN HUKUM TERSEBUT MELIPUTI UPAYA YANG BERSIFAT HARD APPROACH DAN SOFT APPROACH, SEHINGGA SEHARUSNYA PADA TATARAN IDEAL UPAYA PENANGGULANGAN TERORISME DI INDONESIA ADALAH BUKAN MERUPAKAN NOT A POLICE JOB ALONE, DIBUTUHKAN KESAMAAN VISI ANTAR APARATUR NEGARA BAHWA PENAGGULANGAN TERORISME SEBAGAI KEJAHATAN TERHADAP KEMANUSIAAN MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB DAN TUGAS BERSAMA SEPERTI APA YANG DITEKANKAN OLEH PRESIDEN DALAM RAKERTAS BIDANG POLHUKAN DI ISTANA CIPANAS. 7 JANUARI 2013.

DIHADAPKAN DENGAN KONDISI RIIL BAGAIMANA INTERNET DIGUNAKAN DALAM KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA SAAT INI ADALAH : BAGAIMANA KEUNGGULAN TEKNOLOGI INTERNET TELAH DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL BAGI KEPENTINGAN TERORISME DI INDOENSIA , FAKTOR KEUNGGULAN BERUPA ANONIMITAS, BORDERLESS, MURAH DAN MUDAH UNTUK DIAKSES BAGI MASYARAKAT INDONESIA MERUPAKAN PELUANG YANG BENAR-BENAR DIMANFAATKAN DALAM RADIKALISASI DAN TERORISME ITU SENDIRI, KEMUDIAN CELAH –CELAH HUKUM DALAM UU DI INDONESIA JUGA DIMANFAATKAN SECARA OPTIMAL OLEH KELOMPOK TERORISME YANG MENGERTI BAHWA PRODUK UU TERKAIT TERORISME BELUM MAMPU MENAJNGKAU SELURUH ASPEK YANG MEMBERIKAN KEUNTUNGAN BAGI MEREKA, SITUS DI INTERNET YANG MENGADUNG MUATAN JIHADI RADIKALIS BELUM SECARA PENUH DAWASI BAHKAN DITUTUP AGAR TIDAK DAPAT DIAKSES MASYARAKAT INDOENSIA, UPAYA KONTRA NARASI BELUM MELUAS SEBAGAI STRATEGI MELAWAN RADIKALISASI DAN TERORISME MENGGUNAKAN INTERNET.

KUTIPAN DARI CHIEF OF NYPD POLICE , COMMISIONER RAYMOND KELLY YANG MENYEBUTKAN BAHWA : INTERNET ADALAH AFGANISTAN BARU, DISANALAH PELATIHAN MENJADI TERORIS DILAKUKAN, DAN DI INTERNET PULA DIGUNAKAN SEBAGAI TEMPAT RADIKALISASI , SEHINGGA INTERNET SAAT INI DAPAT DIKATAKAN SEBAGAI SUATU ALAT YANG SANGAT BERHARGA BAGI KEPENTINGAN TERORISME, DENGAN MENGUTIP KATA KATA DARI KEPALA KEPOLISIAN NEW YORK TADI ADALAH UNTUK MENJELASKAN GUGAHAN RASA INGIN TAHU TENTANG FENOMENA PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA SAAT INI BAGAIMANA PENGGUNAAN INTERNET DALAM KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA ADALAH DENGAN MELIHAT BAHWA INTERNET DIGUNAKAN SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI DAN ASISTENSI TERORISME DI INDONESIA DAPAT SAYA SAMPAIKAN SEBAGAI BERIKUT :
BEBERAPA PERISTIWA SEBAGAI BUKTI ADANYA PENGGUNAAN INTERNETUNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA DAPAT DILIHAT PADA : PEMBUNUHAN TERHADAP ANGGOTA POLRI DI POLRES BIMA , UPAYA PERACUNAN TERHADAP KANTIN ANGGOTA POLRI , BOM BUNUH DIRI DI GEREJA KEPUNTON DAN BOM BUNUH DIRI DI MESJID MAPOLRESTA CIREBON, TERMASUK PADA TAHUN 2013 ADANYA RENCANA PEMBOMAN TERHADAP KEDUTAAN MYANMAR DALAM ISSUE ROHINGYA, KEGIATAN LAINNYA ADALAH BAGAIMANA SESEORANG DENGAN MUDAH MENGIDENTIFIKASI DIRINYA SEBAGAI PEJUANG JIHAD SETELAH MEMBACA PEMAHAMAN JIHAD RADIKAL HANYA LEWAT INTERNET, PROSES REKRUITMEN SAAT INI TELAH BERUBAH DENGAN MENEMPATKAN PESATREN DAN KELOMPOK PENGAJIAN SEBAGAI BUKAN SATU-SATUNYA MEDIA UNTUK MELAKUKAN INDOKTRINASI DAN RADIKALISASI LEWAT CHATTING DI MEDIA SOSIAL SEPERTI NAHNUMUSLIM DAN AT TAWBAH, DAN PALING MENGEJUTKAN ADALAH BAGAIMANA SEJUMLAH UANG SEBESAR HAMPIR 5 MILYAR SUKSES DIDAPATKAN LEWAT UPAYA FA,I MENGGANTIKAN PERAMPOKAN TERHADAP TOKO EMAS DAN BANK UNTUK MEMBIAYAI KEGIATAN TERORIS DI INDONESIA.

DINAMIKA PENGGUNAAN INTERNET DALAM KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA, SAYA RUMUSKAN MENJADI PERNYATAAN BAHWA PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DIPENGARUHI OLEH PERTUMBUHAN PENGGUNAAN INTERNET DI INDONESIA YANG SEMAKIN PESAT, SELAIN KARENA KEUNGGULAN INTERNET SECARA TEKNOLOGI, JUGA BELUM ADANYA PRODUK HUKUM YANG MAMPU MENYENTUH MASALAH PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME SECARA SPESIFIK, PEMANFAATAN INTERNET DALAM KEGIATAN TERORISME BELUM DIIKUTI UPAYA NYATA UNTUK MELAKUKAN BLOKIR / PENUTUPAN SITUS YANG MENGADUNG MUATAN RADIKAL JIHADI SEMENTARA SAAT INI UPAYA PENUTUPAN DAN SENSOR MARAK HANYA PADA SITUS BERMUATAN PORNOGRAFI SAJA, DARI PERNYATAAN TERSEBUT MEMUNCULKAN RUMUSAN MASALAH UNTUK MENGUNGKAP BAGAIMANA INTERNET DIGUNAKAN DALAM KEGIATAN TERORISME YANG DILAKUKAN OLEH RIZKI GUNAWAN , CAHYA FITRIYANTA DAN MAWAN KURNIAWAN SEBAGAI STUDI KASUS PENDANAAN TERORISME , DIMANA FENOMENA INI JUGA BISA TERJADI KEPADA SIAPA SAJA DAN APA YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH KEPOLISIAN SEBAGAI BAGIAN DARI REAKSI APARATUR NEGARA DAN MASYARAKAT YANG DISERAHI TUGAS UNTUK MELAKUKAN UPAYA PENEGAKKAN HUKUM DI INDONESIA.

JEJAK LANGKAH IMAM SAMUDERA TIDAK TERLEPAS DARI BAGIAMANA PEMANFAATAN INTERNET DALAM JIHAD RADIKAL DI INDONESIA TERMASUK MEMBERIKAN ARAH DALAM PERWUJUDAN MEDIA JIHAD ONLINE SAMPAI HARI INI, PASCA BOM BALI I INTERNET SEMAKIN INTESIF DIGUNAKAN ( LIHAT PADA TABEL ) MUALI PROPAGANDA, CYBER PARAMILITARY TRAINING , REKRUITMEN SAMPAI KEPADA PENDANAAN , SALAH SATU PROPAGANDA YANG MENGOBARKAN PERLAWANAN JIHAD DENGAN MENGGUNAKAN INTERNET ADALAH KETIKA EKSEKUSI TERHADAP TRIO BOM BALI, ADANYA FOTO DAN TULISAN YANG DIIKUTI SERANGAN CYBER SECARA FAKTUAL TERJADI TERHADAP SITUS DEPKOMINFO WAKTU ITU SECARA GARIS BESAR WUJUD MEDIA JIHAD ONLINE YANG TERUS EKSIS SAMPAI SAAT INI ADALAH TERDIRI DARI SITUS BERITA JIHAD, SITUS DAKWAH RADIKAL, FORUM JIHAD/KOMUNIKASI DAN REKRUTMEN SERTA MEDIA JIHAD CAMPURAN, SEBAGAI CATATAN BAHWA YAYASAN PRASASTI PERDAMAIAN MENEMUKAN SAMPAI PADA TAHUN 2013 INI TERDAPAT LEBIH KURANG 45 ALAMAT SITUS RADIKAL YANG RENTAN DISALAHGUNAKAN UNTUK JIHAD YANG DISESATKAN.

LEMERT DALAM MUSTOFA (2013:199) MENJADI PANDUAN UNTUK MENJELASKAN BAGAIMANA REALITAS PENYIMPANGAN YANG DILAKUKAN
, BAGAIMANA REAKSI SOSIAL TERHADAP PENYIMPANG, RIWAYAT HIDUP PENYIMPANG, DAN BAGIMANA PARTISIPASI SOSIAL PENYIMPANG DALAM MASYARAKAT OLEH MK, CF DAN RG .SEHINGGA DARI PENDAPAT LEMERT INI DAPAT DIJELASKAN BAGAIMANA TAHAPAN RADIKALISASI TERJADI, FAKTOR APA YANG BERPENGARUH DAN BAGAIMANA HASIL RADIKALISASI YANG DIJALANI OLEH MK,CF DAN RG.
RABASA (2010) MENJELASKAN HUBUNGAN ANTARA KADAR/ BOBOT MATERI JIHAD RADIKAL DENGAN DURASI RADIKALISASI TERHADAP KOMITMEN JIHAD RADIKAL SESEORANG, SEMAKIN LAMA DURASINYA DAN SEMAKIN BERBOBOT MATERINAYA MAKA SESEORANG AKAN MEMILIKI KOMITMEN YANG MAKIN RADIKAL ( HARD CORE, ACTIVIST, NEW COMER , SYMPATISER , SUPPORTER), LATAR BELAKANG RG DAN CF TELAH MENGALAMI PROSES RADIKALISASI SECARA SISTEMATIS BAHKAN DENGAN MENGIKUTI PELATIHAN MILITER DI POSO, TELAH MENJADIKAN MEREKA BERDUA SEBAGAI HARDCORE RADIKAL YANG BERGERAK DENGAN MENGGUNAKAN KEMAMPUAN TI UNTUK AMALIAH , SEDANGKAN BAGI MK , AKIBAT DURASI DAN BOBOT MATERI RADIKALISASI MASIH RENDAH MAKA DIRINYA BELUM MENJELMA MENJADI SEORANG HARDCORE MAUPUN ACTIVIST NAMUN MASIH BERKISAR SEBAGAI SYMPATHISER SAJA. KOMITMEN RADIKALISASI DARI KETIGA ORANG TERSEBUT TIDAK TERLEPAS DARI PENDAPAT DAVIS DAN GRAGIN(2009) YANG MENYEBUTKAN BAHWA FAKTOR PENARIK DAN PENDORONG TIDAK TERLEPAS DARI BAGAIMANA SESEORANG DIREKRUT MAUPUN TEREKRUT DALAM JARINGAN RADIKAL. SECARA GARIS BESAR BAGAIMANA TAHAPAN RADIKALISASI TERJADI DAPAT DILIHAT DARI VISUALISASI TEORI RADIKALISASI MENURUT GOLOSE(2008) BERIKUT INI ( GAMBAR OPERASIONALISASI TEORI), DAN BAGAIMANA TAHAPAN ITU DIJALANKAN DALAM KONTEKS KASUS PENDANAAN TERORISME TADI DAPAT DILIHAT DALAM GAMBAR ALUR PENGUNGKAPAN KASUS (GAMBAR UNGKAP KASUS ).

SEBAGAI SEBUAH PENELITIAN , MENEMUKAN BAHWA REAKSI NEGARA TERHADAP FENOMENA PENDANAAN TERORISME YANG DILAKUKAN OLEH CF, RG DIBANTU MK DILAKUKAN SETEALAH KEJAHATAN TERJADI,OTORITAS PERBANKAN YANG SEHARUSNYA MENARUH CURIGA TERHADAP TRANSAKSI TIDAK WAJAR DARI CF DAN RG TIDAK MEMBERIKAN SINYAL PERINGATAN KEPADA POLRI MAUPUN PPATK,DEMIKIAN JUGA PADA UPAYA PENEGAKKAN HUKUM DENGAN MENGGUNAKAN UU ITE, UU TERORISME , DAN UU TPPU, SAAT PENYIDIKAN DILANGSUNGKAN UU PENDANAAN TERORISME MASIH BERUPA RUU YANG BELUM DIBERLAKUKAN. RUMUSAN STRATEGI PENAGGULANGAN YANG LEBIH PROAKTIF JUSTRU MUNCUL PADA SAAT FGD YANG DIADAKAN OLEH DIVKUM MABES POLRI UNTUK MEMBAHAS RUU TP PENDANAAN TERORISME, TITO KARNAVIAN DEPUTI II BNPT (2011) MENYARANKAN DALAM MEMUTUS RANTAI TERORISME SELAIN DENGAN UPAYA PENINDAKAN TERHADAP TERSANGKA ( FOLLOW THE SUSPECT ) JUGA DILAKUKAN PENINDAKAN TERHADAP PEMBERI SOKONGAN DAN SUMBER DANA( FOLLOW THE MONEY) TITO KARNAVIAN MENEGASKAN BAHWA EKSITENSI JARINGAN TERORISME SANGAT DITENTUKAN OLEH ADANYA DUKUNGAN DANA OPERASIONAL.PENDAPAT SERUPA YANG MENDUKUNG PENDAPAT TITO KARNAVIAN ADALAH MUHAMMAD YUSUF, S.H., M.H. (KEPALA PPATK) YANG MENYATAKAN BAHWA UPAYA PENGAWASAN TERHADAP TRANSAKSI PENDAAN TERORISME MEMERLUKAN KERJASAMA SECARA KEBIJAKAN , KELEMBAGAAN DAN SISTEM DAN METODE YANG BAIK.

PIHAK CIVIL SOCIETY MEMBERIKAN PEMBAHASAN TERKAIT PERMASALAHAN INTERNET DAN DAMPAK DALAM KEHIDUPAN MANUSIA DIJELASKAN DALAM GAMBARAN BAGAIMANA TIDAK SECUILPUN PERIKEHIDUPAN MANUSIA YANG TAK TERPENGARUH INTERNET SAAT INI, ADANYA POLA-POLA KOMUNIKASI BARU YANG MAMPU MENEMBUS BATAS-BATAS BAHASA DAN MENCIPTAKAN BENTUK –BENTUK EKSPRESI KREATIF YANG BARU MENYEBABKAN KINI INTERNET LEBIH MENJADI URUSAN FENOMENA SOSIAL KETIMBANG SEKEDAR FENOMENA TEKNOLOGI. KURBALIJA (2010:141), DIMANA PENDAPAT INI JUGA SELARAS DENGAN PENDAPAT DARI M. SOLLAHUDDEIN DARI ID SIRTII YANG MEMBERIKAN PENDAPATNYA BAHWA POLEMIK TERKAIT KONSEP KEBIJAKAN PENYARINGAN NAMPAKNYA TERBAGI DALAM 2 PENDAPAT MAINSTREAM. YANG PERTAMA, KONSEP SELF FILTERING (PENYARINGAN SENDIRI) YANG BANYAK DIDUKUNG OLEH KOMUNITAS SIPIL DAN PELAKU INDUSTRI INTERNET SELAKU PEMANGKU KEPENTINGAN, DAN KEDUA ADALAH KONSEP FILTERING BY DESIGN (PENYARINGAN TERSTRUKTUR) YANG BANYAK DIDUKUNG OLEH PARA AHLI PRAKTISI KEAMANAN INTERNET DAN PEMERINTAH.
RUMUSAN STRATEGI OTORITAS NEGARA DAN MASYARAKAT SELAIN DENGAN MELAKUKAN PENGEJARAN TERHADAP SUMBER UANG ( FOLLOW THE MONEY ) ADALAH DENGAN MELAKUKAN STRATEGI COUNTER NARATIVE, COUNTER OPINI DAN MEREBUT KEMBALI RUANG CYBER YANG DIDOMINASI MUATAN JIHADI RADIKAL SEBAGAI UPAYA MELEMAHKAN JARINGAN TERORISME SEPERTI YANG DISAMPAIKAN OLEH AUDREY SEBAGAIMANA DIKUTIP DALAM CRONIN (2009:95) UNTUK MENJELASKAN ATAS PILIHAN REAKSI BERUPA REPRESSION ATAU TINDAKAN TEGAS DENGAN MENGGUNAKAN KEKUATAN KEKERASAN YANG BERSIFAT MEMAKSA ATAU MENGHANCURKAN JARINGAN TERORIS, SEBAGAI SUATU CARA YANG PALING UMUM DILAKUKAN, NAMUN DALAM PELAKSANAANYA SANGAT MEBUTUHKAN KEHATI-HATIAN, SEHINGGA UPAYA KONTRA RADIKALISASI DAN KONTRA OPINI DAPAT DIMANFAATAKAN UNTUK SEBESAR BESARNYA MENGEKSPLOITASI EMPAT SUMBER KEGAGALAN JARINGAN TERORIS YANG BERASAL DARI DALAM, YAITU : KEGAGALAN ALIH ESTAFET KEPEMIMIPINAN, PERSELISIHAN PENDAPAT ANTAR ANGGOTA JARINGAN, KEHILANGAN KENDALI OPERASIONAL LAPANGAN DAN ADANYA TAWARAN PENGAMPUNAN DAN KOMPENSASI SEBAGAI JALAN KELUAR

INTERNET DIGUNAKAN SECARA EFEKTIF DALAM KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA , PADA STUDI KASUS PENDANAAN TERORISME INI, DIMULAI DARI PROSES REKRUITMEN SAMPAI PROSES RADIKALISASI YANG BERUJUNG DENGAN TAHAPAN JIHAD YG DISESATKAN BERUPA KEGIATAN HACKING ATAS NAMA AMALIAH/ JIHAD.
REAKSI NEGARA SANGAT DITENTUKAN OLEH : BAGAIMANA KEBIJAKAN DARI LEMBAGA NEGARA TERHADAP FENOMENA PENGGUNAAN INTERNET UNTUK TERORISME , BAGAIMANA KONDISI KELEMBAGAAN DALAM KOLABORASI DENGAN LEMBAGA NEGARA LAINNYA TERMASUK KERJASAMA DENGAN PIHAK CIVIL SOCIETY YANG PADA AKHIRNYA AKAN MEMBERIKAN PENGARUH TERHADAP SISTEM DAN METODE YANG DIIMPLEMENTASIKAN MENANGGULANGI PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA.

SARAN PRAKTIS : PERBAIKAN KEBIJAKAN NEGARA MELAWAN PENYEBARAN KONTEN RADIKAL JIHADI, PENINGKATAN PERAN KELEMBAGAAN DALAM KONTEKS KERJASAMA CIVIL SOCIETY DAN PEMERINTAH DAN MENYEMPURNAKAN RUMUSAN SISTEM DAN METODE YG MENYELURUH SELAIN FOLLOW THE SUSPECT JUGA DENGAN FOLLOW THE MONEY DALAM KASUS PENDAAAN TERORISME DI INDONESIA
SARAN AKADEMIS : SEBAGAI SEBUAH DISKUSI BAHWA PENELITIAN YANG TELAH SAYA LAKUKAN PERLU DIDUKUNG DENGAN PENELITIAN LANJUTAN TERKAIT BAGAIMANA RUMUSAN KERJASAMA PENANGGULANGAN PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME ANTARA OTORITAS NEGARA DAN CIVIL SOCIETY , PENELITIAN TERKAIT DENGAN PRODUK HUKUM SEBAGAI INDIKATOR PENGUKURAN KONTEN RADIKAL YANG MENGADUNG MUATAN HATE SPEECH, DAN PENELITIAN TENTANG PENINGKATAN KEMAMPUAN DARI LEMBAGA YANG MENANGANI PENGGUNAAN INTERNET UNTUK KEGIATAN TERORISME DI INDONESIA
TERIMA KASIH “WHEN A MOUSE BECOME AS DANGEROUS AS WEAPON AND BOMBS”