Belum habis berita demo yang berujung rusuh didepan Mapolres Meranti , kini ada lagi berita pembakaran Mapolsek akibat kesalahpahaman masyarakat atas tindakan kepolisian

Melihat adanya berbagai peristiwa penyerangan dan perusakkan pada akhirnya menimbulkan pertayaan ada apa dengan Polri dan Masyarakat, apakah peristiwa ini murni merupakan suatau pelampiasan atas adanya sumbatan komunikasi timbal balik dari Polri kepada masyarakat ataukah ada ‘pinjam tangan” pihak tertentu dalam konstelasi proxy war yang didengung dengunkan menggejala saat ini.

apapun ceritanya Mapolsek ampupun Polres adalah lambang eksistensi negara dalam melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, yang artinya bilamana terdapat anggota Polri yang melakukan kesalahan adalah suatu kewajiban bagi organisasi melakukan penertiban pun demikian berarti Polri mungkin saja kalau dianggap perlu harus dibubarkan, namun Kepolisian sebagai fungsi harus tetap ada ditengah peradaban manusia.

Dari beberapa sumber pemberitaan yang sengaja dikutip pada tulisan ini adalah agar pembaca bersama sama dapat menelaah bagaimana sebenarnya pemetaan masalah dari fenomena penyerangan dan perusakaan kantor Polisi di Indonesia.

Secara statistik memang terlihat adanya jumlah angka yang sangat banyak , tiap tahun terdapat markas maupun fasilitas ataupun personil Polri yang diserang atau menjadi korban amuk massa.

kalau boleh saya klasifikasikan dari kumpulan data yang dihimpun mulai tahun 2010 sampai sekarang ( sumber open source di Internet ) terdapat setidaknya beberapa sumber permasalahan :

adanya bentuk Arogansi dan perilaku tidak profesional anggota Polri dalam melaksanakan tugas dilapangan terhadap masyarakat yang harus dilayani ;  resiko menjadi Polisi di daerah rawan maupun musuh bersama jaringan terorisme ; Imbas bentrok kekerasan antar aparat negara ( berseragam)

dari 3 kategorisasi ini, kita berangkat kedalam diskusi antara lain :

  1. ketika arogansi dan sikap tidak porfesional yang ditampilkan oleh personil polri menemukan peritiwa pemicu seperti penangkapan disertai kekerasan dan tindakan yang tidak sepatutnya maupun praktek-praktek penyalahgunaan wewenang tidak mengherankan masyarakat akan bergerak untuk menuntuk keadilan.lihat pada peristiwa :

http://www.beritasatu.com/nasional/382031-tito-sesalkan-aksi-penyerangan-mapolres-meranti.html

“Prinsipnya situasi sudah kondusif. Cuma saya menyesalkan peristiwa ini terjadi. Seharusnya tidak perlu terjadi. (Sebabnya ada) peristiwa anggota polisi yang dibunuh karena hanya rebutan perempuan kalau saya tidak salah dan kemudian pelakunya ditangkap,” lanjut Tito.

Pelakunya ini, katanya, Tito melanjutkan, melakukan perlawanan sehingga kemudian dilakukan upaya kekerasan sehingga akhirnya dia meninggal dunia. Buntutnya masyarakat disana marah dan kemudian mempertanyakan kenapa pelaku sampai meningga dunia di tangan polisi.

“Dalam commader wish saya sangat jelas saya katakan tidak boleh melakukan kekerasan eksesif yang berlebihan kepada siapapun termasuk kepada pelaku. Anggota ini sedang kita periksa dan saya tegas kepada Kapolda,” lanjutnya.

belum lagi adalah akibat upaya pemolisian yang tidak profesional, pendekatan positive hukum seringkali menjadi dasar dalam tindakan kepolisian yang berdimensi kacamata kuda, tidak salah memang karena semenjak awal pendidikan menjadi anggota Polisi pendekatan penegakkan hukum yang diajarkan adalah sifatnya positivistik , sesuai dengan syarat formil dan materiil hukum.

belum banyak yang berani melakukan upaya upaya restorative justice selain pendekatan hukum dengan model seperti ini belum ada yang berani ( secara kelembagaan) memberikan ruang yang lebih luas untuk diterapkan, alhasil yang terjadi adalah manusia untuk hukum bukan hukum untuk manusia.

penegakkan hukum untuk kasus pelanggaran lalu lintas seringkali berakhir dengan kericuhan dan kegaduhan seperti penyerangan minimal demo di depan kantor Polisi, antara keinginan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban dan legalitas serta legitimasi masyarakat melihat pelayanan lalu klintas Polri yang sering lebih rumit dan panjang dari yang seharusnya.

 

http://www.balikpapantoday.net/sering-di-tilang-sopir-angkutan-demo/

Ratusan sopir angkot G03, Jurusan Kalideres-Kotabumi Kota Tangerang, Banten, menggelar aksi demonstrasi karena resah sering kali di tilang para supir  mendatangi kantor pos polisi depan mal Robinson, Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang. Mereka kesal karena sering di tilang saat melintasi jalur lambat khusus angkot, padahal angkutan umum lain diperbolehkan untuk menggunakan jalur tersebut.

para sopir memarkirkan angkot mereka di tengah jalan hingga menutup seluruh badan jalan. Hal tersebut membuat kemacetan panjang. Kendaraan dari arah Daan Mogot, Jakarta Barat, juga tidak bisa melalui jalan tersebut pada siang hari ini.

 

2. resiko menjadi Polisi di daerah rawan maupun menjadi  musuh bersama jaringan terorisme ;

Polisi adalah wujud kehadiran negara dalam tugas pemolisian negara terhadap masyarakatnya, data yang dihimpun oleh IPW sebagaimana yang saya sertakan tautan dibawah ini perlu juga menjadi kajian bersama dimana data yang dihimpun secara susah payah malah menimbulkan multitafsir, betapa tidak bahkan situs ar rahman pun mengutip data yang sama kemudian memberikan beberapa tambahan tulisan termasuk mengajak untuyk menyebarkan tulisan bersumber data mentah yang dihimpun sebagai amalan ibadah yang notabenenya adalah menciptakan rasa benci tanpa logika terhadap institusi Polri.

memang secara statistik pasti terdapat bilangan angka yang besar dan membuat miris bahwa pos polisi dan beberapa infrastruktur kepolisian lainnya tiap tahun bertambah yang dirusak massa, padahal kalau mau lebih cermat terdapat bias informasi didalamnya, yakni terdapat beberapa pos maupun markas kepolisian yang memang  ” akan diserang dan dihancurkan ” oleh sekelompok orang bukan karena perilaku negatifnya namun justru karena identitas Polisi dan tugasnya sebagai aparat negara , lihat pada kutipan berita berikut :

http://news.liputan6.com/read/446563/polda-ntb-selidiki-amuk-massa-di-lombok

Liputan6.com, Lombok: Polda Nusa Tenggara Barat menyesalkan kasus penyerangan massa terhadap tahanan hingga tewas di Markas Polsek Kediri, Lombok Timur. Terlebih, penyerangan tersebut dipicu isu melalui pesan singkat telepon genggam yang menyebut korban merupakan pelaku penculikan dan penjual organ tubuh. Demikian dikatakan Kabid Humas Polda NTB I Gusti Ketut Suarya di Lombok, Senin (22/10).

 

 

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/09/100922_polsek.shtml?print=1

Kantor Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Sumatera Utara, diserang oleh sekelompok orang tak dikenal Rabu (22/09) dini hari.

“Kurang lebih Pukul 00.30 WIB terjadi penyerangan secara mendadak terhadap Polsek Hamparan Perak. Pelakunya diduga berjumlah kurang lebih 12 orang dengan menggunakan enam sepeda motor,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Iskandar Hasan, kepada wartawan BBC Indonesia, Sigit Purnomo.

 

belum lagi dengan kondisi di wilayah seperti Poso Sulteng dan Papua, dimana saat ini situasi kamtibmas masih belum sepenuhnya kondusif, siapapun yang berada di kedua lokasi tersebut ataupun siapa saja yang menyandang atribut Polisi saat ini dalam konteks melawan terorisme dan separatisme hampir dipastikan akan senantiasa menjadi target dan sasaran serangan , baik terhadap markas yang ditempati sebagai representasi kedaulatan negara termasuk keselamatan diri pribadi.

 

Kesimpulan

bahwa fenomena adanya aksi kekerasan dan amuk massa terhadap fasilitas kepolisian perlulah dicermati asal muasal peristiwanya, data berupa angka yang kerap dikutip seringkali menimbulkan bias pendapat yang berujung pada bias solusi pemecahan masalah

sudah saatnya ada tindakan yang  lebih praktis kedalam internal polri dengan melakukan proses penyidikan terhadap oknum penyebab amuk massa   secara  terbuka dan berkeadilan serta keluar ( kepada masyarakat) harus ada upaya penegakkan hukum dengan tidak melakukan pembiaran terhadap provokator atau aktor lapangan yang secara sah dan meyakinkan lewat alat bukti yang ditemukan melakukan tindakan kekerasan dan anarkhisme terhadap failitas milik negara yang bernama markas Kepolisian secara terbuka dan berkeadilan juga.

Sebagai penekanan dalam tulisan ini saya mengutip pendapat seorang rekan yg mengatakan

Sebelum membahas pertahanan & keamanan Mako, alangkah baiknya kita melakukan identifikasi sbb:

1) Mengapa Masyarakat begitu beraninya membakar Polsek..?

2) Apakah petugas yang menjalankan tugasnya dipastikan tidak melukai perasaan rakyat..?

3) Apakah betul betul sudah sesuai prosedur tahapan mulai lidik / sidik hingga membawa salah satu masyarakat..?

4) Apakah yang dilakukan petugas tsb demi kepentingan bersama & bahkan merugikan negara..?

5) Apakah sudah adil dalam menindak, atau tebang pilih…?

Insya Allah, jika kerja polisi sudah baik, masyarakat peduli dan memerlukan Polisi, serta menjalin hubungan baik.., maka masyarakat akan turut menjaga kantor kantor polisi yang ada.

Mohon maaf jika berpendapat beda, krn sekedar menyegarkan pikiran.

2016 :

http://nasional.sindonews.com/read/1134649/13/14-kantor-polisi-dirusak-selama-2016-kenapa-warga-mudah-marah-1472358809
JAKARTA – Indonesia Police Watch (IPW) mencatat selama delapan bulan terakhir pada 2016 terdapat 14 kantor polisi dan fasilitas Polri yang dirusak serta dibakar warga.

Selain itu ada 11 polisi yang tewas dan 45 lainnya luka akibat diamuk massa. Kasus terakhir terjadi di Rantaupanjang, Merangin, Jambi. PolsekKantor Polsek Tabir diserbu dan dibakar massa akibat polisi menangkap penambang liar kelas kecil dan membiarkan penambang liar kelas kakap tetap beroperasi. (Baca juga: Mapolsek Tabir Dibakar dengan Bom Molotov)

2015 :
http://www.ekpos.com/sepanjang-tahun-2015-22-kantor-polisi-diserang-dan-dibakar-massa
Neta S Pane, Ketua Presidium Ind Police Watch mengungkapkan, sebanyak 22 kantor polisi dan fasilitas Polri lainnya diserang, dirusak, ditembaki, serta dibakar massa di sepanjang tahun 2015. Meski jumlahnya menurun, tingkat emosional massa terhadap polisi masih cukup tinggi di tahun 2015. Sehingga massa terlalu gampang terprovokasi untuk merusak, menembaki dan membakar kantor polisi, ujarnya pada wartawan melalui siaran pers.

“Ind Police Watch (IPW) mencatat, peristiwa terakhir terjadi pada 27 Desember 2015 malam. Polsek Sinak, Puncak, Papua diserang dengan tembakan. Tiga polisi tewas tertembak, satu luka, dan tujuh senjata dibawa kabur pelaku. Dengan adanya peristiwa ini di tahun 2015 ada 21 polisi tewas dan 75 luka,” imbuhnya.

Tambahnya, di sepanjang 2015 ada 18 peristiwa penyerangan dan pembakaran, yang menyebabkan 21 fasilitas Polri rusak. Yakni 10 pos polisi, 5 polsek, satu polres, tiga rumah, dua mobil, dan satu sepeda motor polisi. Dari jumlah itu 8 yang dibakar, 13 dirusak massa, dan satu ditembaki. Para pelakunya, 5 warga, 6 orang tak dikenal, dua Brimob, satu TNI, satu suporter bola, dan lainnya tiga orang.

2014 :

2013 :
Tahun 2013 misalnya ada 58 kantor polisi dirusak dan dibakar massa.

2012 :
“Tahun 2012 lebih banyak lagi, yakni 85 fasilitas Polri yang dirusak massa, terdiri dari 56 kantor polisi, 18 mobil, 10 motor, dan satu rumah dinas yang dirusak dan dibakar massa,” ujarnya. http://beritajatim.com/hukum_kriminal/255416/kantor_polisi_ditembaki,_dirusak,_dibakar.html

2011 :
https://www.arrahmah.com/read/2012/01/03/17176-ipw-rilis-jumlah-kantor-polisi-yang-dirusak-selama-2011.html

pada tahun 2011 ada 65 kantor dan fasilitas polisi yang dirusak serta dibakar masyarakat. Yakni terdiri dari 48 kantor polisi, 12 mobil polisi, dan lima rumah dinas,” ujar Neta S.Pane Ketua IPW melalui rilisnya dikirim via email, Selasa (3/1).

Berikut 65 kantor/fasilitas polisi yang dirusak/dibakar massa selama 2011

– 28 Des 2011: Pos Polisi di depan kampus UMS di Sukoharjo, Jateng dirusak mahasiswa dalam aksi demo memprotes penembakan di Bima, NTB.

– 26 Des 2011: Sekitar 300 massa merusak Polsek Lembor, Manggarai NTT gara-gara tahanan polsek tersebut Arnaldus Hapong (40) tewas disiksa polisi. Aksi ini reda setelah aparat kodim setempat turun tangan.

– 26 Des 2011: Pos Polantas Jl Urip Sumarjo Makassar dirusak massa dalam aksi demo. Aksi Front Rakyat Menggugat (Forgat) dilakukan untuk memprotes penembakan aparat di Bima. Dalam aksinya, massa Forgat menyerang berbagai sisi pos polantas yang ditinggal penghuninya, dengan menggunakan batu dan balok kayu.

– 25 Des 2011: Tiga Pos Polisi dirusak ratusan mahasiswa asal Bima di Makassar, Sulsel. Massa turun ke jalan memprotes aksi penembakan warga di Pelabuhan Sape, Bima, NTB. Dalam aksinya, mahasiswa yang tergabung dlm Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Granat) menyerang pos polisi. Yakni Pos Polisi di depan rumah jabatan Gubernur Sulsel, Pos Polisi di depan kantor konsulat Jepang, dan Pos Polisi Operasi Lilin Lipu di depan Mall Ratu Indah di Jalan Ratulangi.

– 24 Des 2011: Lima kantor polisi di Bima, NTB dirusak dan dibakar warga. Yakni kantor polres dan empat polsek. Ratusan warga yang sedang demo semakin marah setelah mendapat perlakuan represif dari polisi. Massa juga membakar rumah dinas kapolsek, empat unit asrama polisi, dan gedung BTN. Kantor unit pelaksana teknis daerah kehutanan, kantor dinas pemuda dan olahraga, tiga bangunan BTN, gedung kantor urusan agama, dan 25 rumah warga dirusak.

– 28 Nov 2011: Ratusan warga di Desa Gunung Endut, Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, merusak tiga Pos Polisi (Pospol). Yakni, Pospol Simpang Tiga Cibadak, Pospol Pasar Cibadak, dan Pos Lalu Lintas Pamuruyunan. Sikap anarkis ini dilakukan massa, pasca mengikuti sidang penganiayaan yang menewaskan Genta (20) di PN Cibadak.

– 24 Nov 2011: Delapan belas pos polisi dan 11 mobil polisi di Batam dibakar ribuan massa buruh yang demo. Pos polisi yang dibakar itu antara lain Pos Lubuk Baja, Simpang Kabil, Pinguin, Simpang Jam, Pelita, Jodoh, Muka Kuning, Batam Center, Nagoya Hills, Nagoya Niaga, Simpang Panbil, Perumahan Aviari, dan Simpang Harmoni.

– 20 Nov 2011: Tujuh Pos Polisi dirusak massa di Ambon, Maluku pasca pemakaman Dany Polanunu (17) yg tewas diduga akibat dipukul polisi lalulintas. ketujuhnya adalah kantor Dirlantas Polda Maluku, Pospol Tugu Trikora, Pospol Jl Babullah, Jl Samratulangi, Ambon Plaza, Mardika, dan Batu Merah.

– 28 Ags 2011: Satu mobil patroli Polsek Cireunghas, Kota Sukabumi jadi korban amukan warga Kampung Cikaso, Desa Cibencoy. Aksi ini dipicu tindakan polisi yang melarang warga bermain bedil lodong (meriam tradisional terbuat dari bambu). Mobil patroli itu nyaris dibakar warga.

– 21 Ags 2011: Pos Polantas di Jl Iskandar Muda, Medan, dirusak gerombolan genk motor. Kaca pos polisi pecah terkena lemparan batu. Beberapa rumah makan yang tutup, juga menjadi korban kebrutalan massa.

– 2 Juni 2011: Polsek Uluere, Bantaeng, Sulawesi Selatan, porak poranda setelah ribuan warga dari tiga desa melakukan penyerangan. Polsek itu rata dengan tanah setelah dibakar massa. Aksi ini merupakan buntut penembakan yang dilakukan polisi kepada tiga warga yang diduga sebagai pelaku pencurian. Akibat penembakan itu satu tewas dan dua lainnya luka-luka. Ketiganya ditembak saat sedang menghadiri resepsi pernikahan.

– 17 Mei 2011: Polsek Kampar, Riau dirusak belasan orang. Massa menghancurkan kursi dan meja. Massa berambut cepak itu datang untuk membebaskan seorang sopir truk pengangkut kayu tanpa dokumen. Selain mencari kapolsek, massa juga sempat membakar kursi plastik yang ada di ruang piket.

– 9 Mei 2011: Pos Polmas di Palu, Sulteng dirusak massa yang kecewa karena teman mereka tertembak aparat Polres Donggala saat membubarkan bentrokan antar dua kelompok massa di daerah tersebut.

– 15 April 2011: Mesjid Ad Zikra di Polresta Cirebon dibom, 1 tewas (pelaku bom bunuh diri) dan 30 luka, termasuk kapolresta.

– 13 April 2011: Polsek Kamu, Dogiyai, Papua dirusak massa dan anggotanya Mardi Marpaung dikeroyok dan senjata apinya dirampas. Perusakan ini bermula dari penangkapan terhadap sejumlah orang yang bermain togel. Lalu muncul aksi demo yang menuntut pembebasan dan berlanjut pada kerusuhan, 4 truk, 27 motor, 48 kios dirusak massa.

– 6 April 2011: Pos Polisi Parkir Timur Jakarta dirusak massa dalam keributan usai pertandingan antara Persija vs Persiwa. Dalam peristiwa itu Kapolsek Cempaka Putih Kompol Djoko Dwi luka-luka.

– 17 Maret 2011: Sebanyak 40 anggota Marinir Lantamal XI Merauke, Papua, menyerang bangunan Satuan Lalu Lintas di jalan raya Mandala, Kota Merauke. Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Letusan senjata api sempat terdengar dari kedua kelompok yang bertikai.

– 23 Februari 2011: Ratusan warga mengepung dan melempari Polsek Kampar, Riau dengan batu. Akibatnya polsek rusak parah. Warga menyerbu untuk menuntut pembebasan seorang warga yang diduga salah tangkap oleh polisi.

2010 :
Sedangkan di tahun 2010 hanya 20 kantor polisi yg dirusak dan dibakar masyarakat. Perusakan terbanyak di tahun 2011 terjadi di Batam dalam aksi buruh yang disikapi secara represif oleh polisi. Ada 18 kantor polisi yang dibakar buruh.