Dulu pernah juga saya sekedar menulis iseng iseng bagaimana sebenarnya manajemen pengamanan event sepak bola maupun event lain yang melibatkan banyak penonton dapat terselenggara.https://jurnalsrigunting.wordpress.com/2014/10/23/rusuh-bola-di-solo-dan-potret-manajemen-pengamanan-event/

nah kejadian lagi di GBK , laga antara Persija Jakarta VS Sriwijaya FC dalam perhelatan  Torabika Soccer Champhionship justru di bulan suci ramadhan tahun ini menyisakan bagaimana sebenarnya manajemen pengelolaan pengamanan penyelenggaraan event bola di Indonesia ?

urusan maen bola bagi khalayak Indonesia bukan sekedar sepak , giring dan jaringkan kuit bundar ke gawang lawan , bisa jadi urusan sepak bola bisa jadi urusan hidup mati betulan di Indonesia.https://youtu.be/kSm7kIp1Kio

 

baca- baca beberapa postingan kawan terkait tragedi pengamanan laga bola di GBK barusan adalah sebagai berikut :

Tangkap..provokator……………..Kalau sudah begini pimpinan mau bilang apa. Paling turut berduka cita an SOP apa yang saat ini harus di terapkan, sudah banyak pengalaman yang memprihatinkan dalam pengamanan sepak bola atau giat massa lainnya, harusnya di inventarisir dimana kelemahan kita ( Polri dan Panitia)  dan menyusun pola pengamanannya.

Kebetulan  insiden beginian  juga pernah terjadi seperti ketika mengalami kegagalan dalam pam konser Ungu sehingga penonton mati 11 orang di pekalongan, mungkin sudah saatnya Polisi Menerapkan bukan saja manajemen operasional kepolisian, tapi Manajemen Risiko Operasional Kepolisian dalam menghadapi setiap tugas, yang mana hal ini belum pernah tercantum dalam kirka Intel ataupun Ren ops Polri.

Para komandan atau pemimpin ditingkat manapun punya kewajiban untuk melatih anak buahnya dari hal hal tampaknya sepele namun bisa fatal akibatnya, contoh : Jika terjadi kerusuhan dan personel jumlahnya hanya 1 regu tapi berjauhan satu dan lainnya;  Jika Jaraknya berdekatan bagaimana ; Jika salah satu anggota terancam bagaimana cara melindungi rekannya; jika 1/2 regu bagaimana caranya pamnya. dan sebagainya.

Polri PMJ tentunya berada ditengah dilema antara mengijinkan pertandingan Bola yang seharusnya penuh sportifitas  ditengah pelaksanaan bulan Ramadhan yang seharusnya damai dan tentram.

Tidak ada salahnya juga mulai kita memetakan bahwa terdapat beberapa permasalahan pokok yang selama ini selalu menjadi potensi gangguan kala menggelar pertandingan bola  yang tidak mungkin akan diselesaikan dengan pendekatan polisional :

  1. tidak ada satupun stadion yang biasa digunakan  untuk pertandingan bola di Indonesia menerapkan sistem  kursi per penonton, artinya jumlah penonton yang masuk dan mengisi lapangan bukan didasarkan jumlah kapasitas kursi yang tersedia namun berdasarkan kira-kira kebiasaan daya tampung imajiner stadion semata. bisa sekitar 1000an bahkan 10.000an penonton asalkan masih muat.
  2. belum pernah ada upaya pengkondisian psikologis penonton dan pemain bola agar siap menang dan siap kalah dalam sebuah permainan yang menjunjung tinggi sportifitas di lapangan rumput, berapa kali kita mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan lantas seluruh pengunjung stadion berdiri dan bernyanyi bersama ?atau lagu-lagu apakah yang diperdengarkan sebelum dan saat jeda turun minum pertandingan ? coba lihat video berikut  : https://youtu.be/eR4bZxC2W5s coba video-video semacam ini diputar sebelum pertandingan dimulai, daripada teriak teriak  PENONTON TETAP TENANG  atau HARAP TENANG  mungkin lebih baik disetelin lagu-lagu nasional seperti padamu negeri atau dari sabang sampai merauke atau mungkin juga sekalian lagu goyang dumang.
  3. bentrok terjadi kadangkala menjadi moment yang ditunggangi banyak kepentingan, urusan rebutan cewek apalagi tweet di sosmed yang provokatif  pun bisa menjadi pemicu ledakan, dibutuhkan kerja keras yang tidak berkesudahan untuk menjerakan provokator termasuk menjatuhkan sangsi lebih berat kepada klub atas ulah supporternya.
  4. ledakan kekerasan kadang menyasar sepanjang jalan pulang dari stadion, peran pemerintah daerah , swasta dan masyarakat untuk andil menjerakan para hooligans, dengan kamera cctv dimana mana diyakini ulah supporter brengsek akan segera terdeteksi dan bisa dimintai pertanggung jawaban, teori  anomie memberikan ruang dimana dalam ruang publik yang seolah-olah tidak diawasi ( tidak ada aturan ) maka seseorang cenderung lebih mudah melakukan kejahatan. sorotan kamera snapshoot  di dalam dan sekitar lingkungan stadion kemudian ditayangkan secara real time di super big screen memberikan makna tersirat ” you are on our eyes”. kamu DIAWASI. https://youtu.be/vqhREU6h0M4   &   https://youtu.be/Kck3qyWpggs
  5. Berdayakan dan gunakan unit Satwa seperti Anjing dan Kuda Kepolisian, secara psikologis manusia males berurusan dengan anjing dan kuda , resikonya juga besar,bisa bisa satwa tersebut jadi korban amuk massa, tetapi lebih baik dari pada anggota polisi yang jadi korban keganasan kelompok atau massa.