Saya salut dengan Adik2 yang peduli dengan kasus sandera ini karena dampaknya cukup serius bila tidak berhasil ditangani dengan baik. Ide dan saran Adinda Arvan dan Nurcholis baik sekali.
Ijin urun rembuk karena nama saya sudah disebut oleh Abang yang jadi idola saya Jenderal Jacky Uly. Meskipun ini kisah masa lalu, yang berlaku pada jamannya, tapi mungkin ada manfaatnya. Sangat jarang media mengangkat proses pembebasan sandera Resmiyadi (kapten kapal) karena namanya saja operasi intelijen. Yang tahu persis secara detail perkembangan hari demi hari hanya Kapolri (Jenderal Da’i Bachtiar dan Jenderal Sutanto), Menlu RI, dan Katua Komisi I DPR, karena jalur pelaporannya memang sangat terbatas.
Mencermati perkembangan terkini, disatu sisi TNI siap gelar operasi tetapi disisi lain pemerintah Philipina menyatakan menolak bantuan militer Indonesia dengan alasan konstitusi dan tentunya pertimbangan keamanan yaitu pembalasan kelompok Abu Sayyaf.
Proses diplomasi dan lobby-lobby sedang berjalan di tingkat atas. Opsi operasi militer menjadi opsi terakhir. Apa yang (bisa) dilakukan oleh Polri?
Saya yakin dan optimis dengan banyaknya perwira2 muda Polri yang pernah mengikuti pelatihan di luar negeri di bidang ini dan banyaknya perwira2 yang berpengalaman menangani terorisme maka banyak alternatif penanganan yang dapat dilakukan.
Secara garis besar pengalaman saya menangani kasus penyanderaan 3 awak kapal tahun 2004-2005 di Philipina Selatan:
Saya diperintah Kapolri berangkat ke Manila gabung dg Tim Terpadu (BIN, Polhukam, Kemlu, Polri, KBRI). Berangkat pula Tim Komisi I DPR RI dipimpin Pak Fanny Habibie. Lobby dilakukan melalui jalur diplomatik, kepolisian, militer, intelijen, parlemen, tokoh agama, termasuk kelompok garis keras.
Hasilnya, operasi militer berhasil membebaskan 2 sandera krew kapal, tetapi 2 informan intelijen militer dibunuh karena dicurigai membocorkan posisi sandera. Terbukti memang benar 2 informan tadi yang menyuruh 2 sanderan kabur pada malam hari menuju lokasi penjemputan oleh tim militer.
Sandera Resmiyadi dibawa kabur ke lokasi persembunyian lain oleh penyandera. Militer menjanjikan dalam 2 minggu akan mampu membebaskan sandera Resmiyadi.
Namun setelah ditunggu sampai satu bulan lebih, tidak ada berita perkembangannya. Akhirnya Tim Terpadu bubar sendiri, masing2 kembali ke kesatuannya.
Suatu malam HP saya berdering, ketika saya lihat nomornya dari luar negeri. Begitu saya angkat, yang bicara nadanya membentak dan mengancam dengan bahasa inggris logat philipina, tagalog campur sedikit melayu. itulah awal teror selama 3 bulan yang harus saya hadapi setiap tengah malam menjelang pagi. Rupanya isteri sandera memberikan nomor HP saya ke penyandera karena sudah tidak kuat diteror  dengan mendengarkan tangisan suaminya. Itulah awal saya belajar praktek sebagai negosiator. Langkah yang saya lakukan kemudian adalah :
– menghubungi perusahaan kapal agar tidak melayani permintaan tuntutan dan putuskan komunikasi.
– mengumpulkan teman2 wartawan yang masih meliput kasus itu untuk diberikan penjelasan dan pengertian ttg kerugian yang ditimbulkan bila media tetap  membesarkan berita ini.
– menghubungi keluarga sandera agar tidak melayani media dan tidak melayani komunikasi penyandera.
Jadi, komunikasi hanya satu pintu, yaitu negosiator.
Setelah itu saya mulai terbang ke beberapa negara yang pernah menangani kasus serupa, bertukar data dan informasi, dan best practice. Di Manila saya membeli buku2 tentang pengakuan para mantan sandera dan operasi pembebasan sandera. Ini sangat membantu.
Dengan bahan itu, saya mulai membangun jaringan, sampai masuk ke para mantan kelompok Abu Sayyaf yang melarikan diri karena konflik internal mereka. Akhirnya saya bertemu dengan Hj. M, mantan Komandan Batalyon Abu Sayyaf. Melalui dialah saya dengan cepat tahu siapa kelompok yang menyandera dan dimana (tehnis operasi tidak dapat saya uraikan disini). Proses negosiasi terus berjalan dan proses operasi pembebasan juga berjalan beriringan. Saya dapat informasi bahwa  penyandera berasal dari daerah dan etnis yang memiliki budaya yang menarik. Sosok Ibu sangat dihormati dan ditakuti, tidak demikian dengan ayah. Oleh sebab itu, saya menggunakan pendekatan Antropologi budaya (Guru saya Prof Parsudi Suparlan Alm), mempelajari sistem kekerabatannya dan sebagainya. Hal ini sangat bermanfaat ketika saya melakukan pendekatan dan negosiasi sampai berhasil.
Waktu pembebasan meleset dari rencana semula karena cuaca buruk, ekor badai  sampai ke daerah operasi. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di suatu bandara, saat mau melalui pemeriksasan imigrasi, saya lupa kalau paspor sandera sudah mati. Sandera ditahan. Saat itulah saya terpaksa membuka kedok dan meminta bantuan imigrasi negara itu untuk mengijinkan kami berangkat. Akhirnya perjalanan kembali ke tanah air berjalan lancar. Rencana semula sandera akan diterima Presiden SBY di istana tapi batal karena tertunda 3 hari, sehingga SBY sudah berangkat ke luar negeri. Serah terima sandera kemudian dilakukan di Menkopolhukam. Saat konferensi pers, tidak disebutkan bahwa operasi pembebasan dilakukan oleh personil Polri, karena banyak pihak yang sibuk tampil sebagai pihak yang berjasa. Rupanya Ketua Komisi I Pak Fanny Habibie memperhatikan hal itu. Mendadak Beliau memanggil saya maju kedepan, sambil mengangkat tangan saya Beliau bersuara lantang :”……ini dia yang membebaskan sandera ini”. Tapi sekali lagi, karena ini operasi intelijen maka jangan berharap kita diakui atau jadi populer, seperti kalau pengungkapan kasus yang selalu diliput media tiap hari.
Untuk menghadapi kasus yang sekarang, sambil menunggu upaya diplomasi, kalau boleh saya ingin memberikan saran praktis (mungkin sudah dilakukan?) :
1. Segera tunjuk negosiastor yang mumpuni dan bekali dengan informasi yang cukup.
2. Hubungi perusahaan agar jangan melayani komunikasi dan permintaan tebusan dari penyandera. Batas waktu dan ultimatum penyandera, selama ini sebatas gertakan, tapi perlu diwaspadai. Memenuhi tuntutan penyandera berarti kalah dan kedepan akan terulang kembali atau akan ada “pajak gelap” setiap kapal melintas.
3. Pertemuan dg wartawan atau Pemred ttg pemberitaan. Penyandera melakukan pressure ke pemerintah melalui media, sumbernya dari keluarga, penyandera, atau pihak lain yang ingin mendiskreditkan pemerintah.
4. Bentuk Tim ops intelijen. Mungkin pola operasinya sebagian masih bisa menggunakan yang lalu atau disesuaikan dengan perkembangan terkini dilapangan.
5. Gunakan dukungan IT intelijen, disamping human intelijen.

Itulah sekelumit cerita masa lalu. Saya beruntung pernah tugas di NCB Interpol, Tim Terpadu Kemenkopolhukam, Tim Terpadu Kemlu, Interogator teroris ke beberapa negara (Afganistan, Pakistan, Malaysia, Philipina, Singapore, Thailand, Australia, Perancis). Kesempatan itu saya juga gunakan   untuk membangun jaringan intelijen dengan negara2 terkait. Kunci membangun jaringan intelijen adalah Trust, timbal balik, responsif, bina hubungan personal yang baik dan harus dipelihara terus. Hubungan personal yang baik dapat mengatasi kendala birokrasi dan aturan yang berbelit-belit. Dengan modal itulah maka saya dapat memanfaatkannya untuk kepentingan penugasan lainnya, termasuk pembebasan sandera.
Terima kasih.
Benny J. Mamoto.
Sekretaris Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian
Pascasarjana Universitas Indonesia.