Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Timor Leste sempat mengalami beberapakali ujian, salah satunya adalah ketika terjadi upaya percobaan pembunuhan terhadap Presiden Timor Leste. Mr. Jose Ramos Horta dan Perdana Menteri Timor Leste, Mr. Xanana Gusmao, percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Mayor Alfredo,sempat menimbulkan polemik di dunia Internasional dengan adanya sangkaan bahwa Indonesia berada dibalik layar peristiwa dan mendukung gerakan makar yang dilakukan Mayor Alfredo.

Gerah dengan informasi yang menyudutkan Indonesia atas peristiwa di Timor Leste menyebabkan Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono bergegas memanggil Kapolri Jenderal Polisi Drs. Sutarman untuk segera memberikan bantuan kepada Pemerintah Timor Leste dalam mengungkap percobaan pembunuhan tersebut sekaligus memulihkan nama baik Indonesia di mata internasional.

Pada tanggal 14 April 2008, lewat Surat Perintah Kapolri No. Pol . : Sprin/547/IV/2008, Mabes Polri menugaskan Satgas Bom Mabes Polri untuk melakukan upaya yang dianggap perlu guna membuat terang peristiwa yang terjadi, Satgas Bom langsung dipimpin langsung oleh Kabareskrim Komjen Pol. Drs. H. Bambang Hendarso Danuri, MM dengan didukung 46 personil Polri pilihan lainnya, dimana sebagian besar personil yang dilibatkan merupakan personil Korbrimob Polri (36 orang) yang sejatinya merupakan anggota Striking Force yang sedang standby untuk melakukan upaya penegakkan hukum terhadap kejahatan intensitas tinggi di Indonesia.

Tim akhirnya dibagi menjadi 3 untuk melakukan surveillance sekaligus pengumpulan bahan keterangan yang dianggap perlu, tim I berangkat dengan penerbangan khusus dari Jakarta menuju kota Dilli Timor Leste guna bertemu dengan Prosecutor General / Jaksa Agung Timor Leste  Mr. Longuinhos Monteiro, kemudian tim II langsung berangkat menuju Atambua NTT dari Jakarta via Denpasar guna melakukan penyekatan di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, sedangkan tim III bertugas melakukan kegiatan surveillance di Jakarta, khususnya pada kantong-kantong pemukiman masyarakat yang berasal dari Timor Leste.

Sebuah peristiwa yang layak dicatat sejarah, dimana dalam praktek hubungan Internasional, tidak akan ditemukan sebuah Negara mengijinkan sekelompok orang berkewarganegaraan lain, dengan menenteng persenjataan bisa masuk dan berkegiatan dalam yuridiksi Negaralain, bisa jadi dengan kredibilitas Satgas Bom Mabes Polri yang dikenal dunia Internasional memiliki standar profesionalisme dan komitmen tinggi dalam upaya penegakkan hukum akhirnya menjadi “free pass” memasuki wilayah hukum Timor Leste tanpa banyak tetek bengek urusan administrasi.

Personel Satgas Bom Mabes Polri khususnya pada unit tindak dan surveillance, merupakan personil terbaik Korbrimob yang dipilih melalui serangkaian tes secara selektif, selain memiliki fisik yang prima selayaknya standar pasukan khusus adalah dibutuhkan moral pengabdian Merah Putih  serta tingkat intelegensia diatas rata-rata pasukan lainnya.

Kegiatan koordinasi dan pengumpulan bahan-bahan keterangan di Dilli membawa kepada informasi bahwa kaki tangan jaringan Mayor Alfredo telah berhasil melarikan diri ke Atambua NTT dan ke Jakarta untuk bersembunyi. Perintah pengejaran ke Atambua dan Jakarta segera diberikan kepada Tim II dan III.

Berbekal informasi yang diperoleh menggunakan perpaduan  metode Humint (Human Intelligent) berupa sebaran jejaring agen-agen surveillance yang dimiliki Polri, didukung hasil intercept (Sigint : Signal Intelligent ) terhadap komunikasi pihak-pihak yang terlibat dan dukungan limpahan informasi dari dunia maya (Osint :Open Source Intelligent

) memberikan info final bahwa terdapat beberapa anak buah  jaringan Mayor Alfredo yang diduga sebagai aktor -aktor utama  pelaku  kekerasan bersenjata sedang bersembunyi di sebuah kompleks pemukiman di bilangan Kebon Jeruk Jakarta.

Upaya surveillance di bilangan Kebon Jeruk Jakarta dilakukan bukannya tanpa resiko, adalah kemungkinan tertangkap dan dihakimi massa dengan tuduhan sebagai pencuri maupun pemetik curanmor, mengingat saat itu sedang panas-panasnya hubungan antara beberapa kelompok pemuda  dari 2 etnisyang berbeda di wilayah Jakarta.

Setelah hampir 1 minggu pengintaian menggunakan kedok sebagai tukang ojek dan penjual bakso disekitar rumah sasaran, akhirnya Kabareskrim memerintahkan untuk mengadakan rapat gelar persiapan penindakan, diputuskan dalam rapat bahwa nantinya 6 personil Striking Force  Brimob bertindak sebagai pasukan penindak ditambah beberapa personil Reserse Polda Metro sebagai pengamanan perimeter luar.

Keraguan sempat melanda manakala sampai menjelang jam J, masih sangat minim informasi yang menyebut lokasi pasti sasaran berada (kompleks pemukiman terletak di sebuah  jalan yang kanan kirinya merupakan milik Mr. X maupun keluarga dan anak buahnya.)

Element of surprise yang dilakukan tim penindak adalah dengan menggunakan kecepatan gerak dan pendadakan menggunakan 2 mobil pribadi, dengan jam J adalah tepat pukul 01.00 dinihari, tiba dilokasi tim langsung berpencar menuju rumah induk milik Mr X dan rumah pengawal Mr. X yang berdampingan.

Tanpa membuang waktu tim langsung bergerak taktis, dan sesuai dugaan bahwa pada jam J penindakan, seluruh penghuni rumah dalam keadaan tertidur lelap akibat pengaruh minuman keras, tidak ada perlawanan berarti karena Tim tindak sudah lebih dahulu mengambil inisiatif serangan, walaupun salah seorang target operasi sempat akan mengambil senjata api dari balik pinggang, namun urung karena kalah cekatan dengan anggota tim tindak yang berhasil membanting lebih dahulu tubuh TO ke bawah meja makan.

Mengingat lokasi sasaran berada di tengah pemukiman padat Kebon Jeruk Jakarta, tim III tidak membuang waktu lama, seluruh orang (kecuali wanita) yang ditemukan dalam kedua rumah segera diborgol menggunakan borgol plastik, berhimpitan dalam dua buah mobil,tim III berhasil membawa para tersangka untuk proses identifikasi lebih lanjut ke Mapolda Metrojaya, operasi berjalan sukses tanpa ada satupun korban maupun peluru yang diletuskan, TO berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada perwakilan pemerintah Timor Leste untuk direpatriasi.