multikulural merupakan berkah Sang Maha Pencipta dengan segala nama dan penyebutannya.
menjadi tergelitik ketika membaca pesan dari sebuah grup yang kebetulan saya jadi anggotanya.

semakin saya baca maka semakin dalam rasa bangga saya menjadi Indonesia sekaligus semakin besar rasa khawatir saya atas identitas ke Indonesia an saya nanti.

negara multikultur , multi etnis bahkan multi religi membutuhkan kesadaran dari tiap tiap penduduknya bahwa Saya orang indonesia yg dari Suku A dan agama B , bukan Saya beragama A dan tinggal di Indonesia.
berikut kutipan pesan yg saya copy, mohon maaf saya nggak menemukan identitas siapa yg memposting pertama kali.
walaupun demikian kayaknya tidak begitubpenting lagi siapa yg ngomong tapi lebih penting adalah isi dan makna omongannya.

patas saja dikisahkan dalam cerita penciptaan surga dan nerAka, bagaiman iblis diusir dari surga karena sombong, nah bagaimana manusia biasa yang belom dijamin masuk surga malah lebih sombong dari iblis.

perbedaan adalah rahmat dan agama adalah kebaikan ,
salam Nusantara Jaya. berbeda tetapi tetap satu …………….

BALI YANG SYARIAH

Saya 2 tahun tinggal di Bali.

Saya rela keluar dari kerjaan lama dan memulai kerja dari bawah lagi hanya supaya bisa tinggal di Bali.

Bali itu eksotik sekaligus misterius. Disana terjadi pertemuan dua arus besar antara dunia modern dan ketatnya unsur tradisional. Menariknya, kedua unsur yg sebenarnya berbeda ini bukannya saling menolak, malah saling berkait. Di Bali begitu mudah kita menemukan kendaraan terbaru semudah kita menemukan patung2 yang bercerita tentang legenda masa lalu.

Orang Bali itu aneh menurut saya. Mereka begitu terbukanya terhadap pendatang baru, tetapi mereka bisa menjaga adat istiadat mereka dengan sangat kuat sehingga tidak kehilangan identitas dirinya. Bandingkan dengan Jakarta misalnya, dimana ciri masyarakat Betawi harus dipaksa dilestarikan supaya tidak hilang tergerus arus modernisasi. Anak muda di Bali-pun bangga dengan pakaian tradisional mereka, sebangga mereka menyanyikan lagu2nya Rihanna.

Meskipun begitu, karena saya muslim, terkadang saya harus menahan diri terhadap rasa mual melihat makanan sejenis lawar, yang tampak seperti daging babi dan darahnya diaduk menjadi satu dan menjadi makanan lezat bagi masyarakat Bali. Tapi lama2 saya terbiasa juga melihat teman saya yg asli Bali makan dengan lahapnya di samping saya.

Dengan semua kelebihan yang ada pada Bali dan membuat saya jatuh cinta pada suasana, keluguan dan kebaikan masyarakatnya, saya menjadi heran ketika pemerintah hendak menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata syariah.

Pemerintah seharusnya paham, bahwa kata “syariah” itu berarti aturan yg tunduk pada ketetapan Tuhan dan dalam hal ini syariah identik dengan Islam. Lalu, bagaimana Bali yang mayoritas Hindu bisa menerima begitu saja identitas agama lain disematkan kepada mereka ?

Pemerintah juga seharusnya peka, bahwa Islam yg selama ini dikenal oleh warga Bali adalah Islam fundamentalis yang sudah mengacak2 periuk makan mereka dengan bom Bali 1&2. Peristiwa yang menghancurkan tiang ekonomi mereka yang sepenuhnya bergantung pada pariwisata. Dan menyematkan kata “syariah” memunculkan kembali trauma mereka.

Pemerintah harus sadar bahwa Bali tidak ingin mengganti pemandangan pantai mereka yang indah dengan gurun pasir yang banyak onta. Bali sudah sangat cukup dengan turis Eropa, Jepang dan Australia sehingga tidak membutuhkan turis timur tengah yg sangat pelit tapi permintaannya banyak luar biasa.

Warga Bali juga paham bahwa “syariah” yang dimaksud bukan meng-Islamisasi Bali, melainkan hanya menyediakan restoran Islami, hotel Islami. Tapi kenapa mesti harus bicara syariah ? Selama ini disana kalau ingin mencari masakan muslim, cukup cari rumah makan Jawa atau Padang. Itu sudah ciri yang melekat halal-nya, tidak usah lagi pake label syariah2an. Kalau hotel ngapain juga pake konsep syariah ?

Warga Bali tidak perlu mengemis turis, justru turis-lah yang harus beradaptasi dengan adat dan budaya mereka. Tidak perlu dengan alasan untuk meningkatkan pendapatan dari sisi pariwisata, Bali adalah penyumbang pendapatan pariwisata terbesar di Indonesia. Bahkan Bali bisa lebih terkenal diluar daripada nama Indonesia.

Pemerintah harus memahami Bali dan menghargai berapa lama mereka mempertahankan ciri khas mereka dengan meminta gedung2 yang ada di Bali harus mempunyai ciri Bali, lalu untuk apa pemerintah memaksa mereka harus bernuansa timur tengah ?

Biarkan Bali dengan Bali-nya. Selama ini mereka tenteram, damai dan orang Hindu disana sebagai mayoritas menjaga minoritas lainnya dengan tanggung-jawab dan amanah. Jangan mereka digesek2an sehingga keluar ego keagamaannnya.

Coba, beranikah pemerintah memaksa warga Aceh untuk mendirikan sebuah pura disana ? Wong, gereja aja dibakar apalagi pura yang asumsi masyarakat sana adalah menyembah patung. Biarkan semua berkembang sesuai dengan budaya yang ada tanpa harus dipaksa mereka menerima. Pemerintah jangan karena alasan menambah devisa dari pariwisata, tidak bertanya dulu kepada masyarakat sekitar apakah menerima atau tidak ? Jangan main paksa.

Pada waktu kerusuhan Mei 98, berbondong2 warga Jakarta mengungsi ke Bali. Pada waktu kerusuhan Ambon, warga Ambon juga banyak yg mengungsi ke Bali. Itu tandanya Bali masih teridentifikasi sebagai tempat aman, jangan pula malah dijadikan tempat yang tidak aman.

Begitu banyak wisata syariah yang bisa dibangun di daerah yg sesuai, kenapa mesti memaksa Bali ? Kalau yang dimaksud wisata syariah adalah wisata reliji, bukankah selama ini Bali juga menyediakan wisata reliji tanpa harus gembor2 ?

Bali ya Bali, mereka tidak bisa dipaksa menjadi Sulawesi. Nasar ya Nasar, ia tidak bisa dipaksa menjad atlet angkat besi. Bisa aneh jadinya, ketika tangannya yang kekar dan berotot mengacung di depan kamera sambil jarinya di kuncupkan ke atas dan berkata dengan suara gemulai, “sini, kuremas punyamu…”

image