Copas from Doctor Chrisnanda

image

Preman Baru dalam ranah Demokrasi

Tatkala Polisi Dianggap Lemah, banyak kejadian / hal2 yg menyudutkan Polisi seolah olah, tdk mampu, lemah, bahkan melakukan kesalahan. Banyak kekesalan2 bahkan plesetan2 + ungkapan kedongkolan pun dimunculkan. Label2 buruk trs saja ditabur dan dihisap oleh para provokator untk trs mengompor2i + mengobarkan kebencian2. Apapun urusanya mjd urusan polisi, apapun masalahnya jd salahnya polisi. Apakah ini murni salah polisi, atau kelalaian + kelemahan polisi atau by design. Bs jd yg ke3 itu yg dibuat. Polisi lemah berarti perlu tenaga bantuan, perlu dukungan rakyat semesta dan banyak hal berbagai akal sehat di sampaikan. Dr ide2 keamanan insani, ketahanan di semua lini, pengerahan kekuatan TNI mjd multi fungsi sampai ke pelatihan ratusan ribu untk bela negara. Jangan2 akan mempersenjatai rakyat nya jg? Kegiatan2 ombyokan yg bersifat semesta, akan banyak diisi kaum penganggur yg demi perut + uang mau mengerjakan apa saja + siap disuruh apa saja (lihat surat terbuka YB mangun wijaya kpd presiden habibi 8 pebruari 1999). Ini semua sebenarnya akan menghasilkan preman2 baru. Tatkala preman2 ini semakin kuat mereka akan menuntut pengakuan, meminta fasilitas, menginginkan previlage dan banyak hal yg ingin mereka dapatkan. Hal ini bs mjd bumerang atau senjata makan tuan.

Keamanan yg merupakan kebutuhan bagi masyarakat untk dpt hdp tumbuh dan berkembang, mulai diperdebatkan dr makna sampai ranah2 nya. Aneh kedengaranya tatkala kekuasaan + penguasaan diudag udag diawul awul sampaai muyer semua dan seolah olah mjd darurat dan sdh di ranah krisis / daarurat militer. Berbagai issue dikembangkan dan mungkin di design ala proxy war, nabok nyilih cangkem. Cara pandang ksatria Don Kisot dipakainya dan disitulah memamerkan keunggulanya, walau ngawur2 dan salah sasaran selalu saja dianggapkan sbg kepahlawanan + patriotisme yg bgt besar.Dongeng2 ttg keluguan dan kedunguan nasarudin hoja, plesetan2 dagelan gareng petruk bagong pun spt nya sdg diimplementasikan pd kehidupan alam demokratis ini.

Sumber daya sangat menggiurkan dan menjd dy tarik shg mjd potensi konflik. Siapa kuasa, siapa kuat akan mampu mendominasi + mengangkanginya dr hulu sd hilir. Aturan legal formalpun dibuatnya demi sumber daya. Tatkala negara ini hanya mengaku demokrasi, namun melemahkan polisinya dan bersiap siap menggantinya dg preman 2 baru maka sebenarnya demokrasi adalah milik yg berkuasa + yg mempunyai massa saja. Sudah barang tentu rakyat yg semestinya berdaulat akan jd ampas dan bulan2an serta dikorbankan saja. Ini mjd bukti supremasi hukum hanya lip service saja, percaturan kekuasaan diisi kaum kroni dan cantrik2nya. Bentuk pelayananya kpd publik bs dibayangkan + dipastikan seadanya, sebisanya yg parah lagi seenaknya aparatnya. Jangankan transparan + akuntabel, baru akan nanya pasti sdh dimarah, diancam atau diberi pilihan roti / borgol? Yg jelas sang penguasa sumberdaya yg seharusnya (rakyat) hanya akan kecipratan2 saja dan sbg org kecipratan hrs siap ngawulo+ngalap berkah.

Penguasa hanyalah boneka golekan saja yg tergantung dalangnya. Siapa penguasa sesungguhnya? Para broker, selang tukang sedot + pembisik saja. tanpa resiko aman, nyaman + penghasilan paling besar.