Masa masa libur lebaran kali ini adalah tumpah ruahnya manusia dari berbagai penjuru hilir mudik untuk satu tujuan : ….mudik

Mudik yang mensyaratkan hal lain adalah balik,,,, ketempat kerja , tempat usaha dan yang pasti sumber penghidupan .

Termasuk dalam hingar bingar arus mudik dan balik adalah siswa -siswa pendidikan pembentukan baik TNI dan Polri, di terminal bus , stasiun kereta api dan tentu juga bandara .

Siswa -siswa pembentukan TNI dan Polri yg berada di ruang publik sedikit banyak menarik perhatian masyarakat. Mulai dari cukuran kepala yg plontos , pakaian dinas yang masih kedodoran sampai bawaan mulai ransel , koper bahkan kardus oleh oleh yang katanya buat pelatih maupun pembina di lemdik.

Satu hal yg menarik adalah bagaimana pola komunilkasi antara siswa spn X dengan spn Y ! Apalagi antar matra tni dan polri , satu kekhawatiran adalah ketika benih -benih egosentris mulai tertanan dalam konsep in group dan out group.

Lewat pengamatan sekilas terlihat penguatan identitas aku dan kamu terlihat sangat kuat , antara siswa pusdik x dengan pusdi Y tidak saling menyapa bahkan untuk saling mendekat dan bersalaman , konsep in group semakin menguat bila dilihat pada hubungan antar matra ! ( Tni dan polri ) , sedikit yg masih terjalin kontak berupa komunikasi ( saling mendekat dan jabat tangan) adalah ketika taruna tni dan polri bertemu di lobby bandara .

Secara tidak sadar , dan perlahan konsep in group dan out group akan semakin meguat seiring makin lama dan makin berkualitas proses penguatan identitas internal dalam kelompoknya.

akibatnya adalah akan muncul militansi yang memang sangat dibutuhkan oleh pekerja-pekerja bidang keamanan seperti tni dan polri menghadapi tantangan tugas yang sangat berat . Militansi dibentuk melalui keyakinan bahwa ingroup merupakan tempat individu mendapatkan kenyamanan dan perlindungan .

Namun efek samping yang bisa jadi muncul seiring militansi adalah adanya sikap arogansi berlebihan berupa anarkhisme atas nama korsa dan kesatuan ( in group) bahwa dirinya dan kelompoknya lah yang paling begini dan paling begitu .

Strategi kacang hijau dan olah raga bersama sering menjadi pilihan reaktif atas keputus asaan pimpinan satuan tni dan polri melihat ada saja ulah oknum -oknumnya yang saling adu jago hanya karena lirik lirikan semata .

Fenomena tanding jago yang mungkin setua sejarah masing masing kesatuan bersenjata berdiri , dan mungkin juga tradisi menyiapkan bubur kacang hijau , kemudian olah raga bersama berupa senam poco-poco plus dangdutan senantiasa menjadi opsi terakhir selain ancaman hukuman disiplin dan pidana bagi kedua oknum yg terlibat tanding .

Militansi yg mengarah kepada anarkhisme antara dua identitas yg saling berbeda ternyata memerlukan lebih dari sekedar bubur kacang hijau sebagai penawarnya , dengan melihat basis pembentukan militansi adalah adanya penguatan nilai nilai internal dalam group yang mampu mengeliminir berbagai identitas awal menjadi identitas baru bernama TNI dan Polri atau yang lainnya , maka dengan membalik proses militansi dengan memberikan identitas alternatif selain A atau B adalah merupakan sebuah keharusan .

Pola pandangan yang berpijak dari fakta bahwa setiap manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki identitas primordial seperti SARA ytermasuk adalah merupakan mahluk sosial yang membutuhkan kesenangan sebagai sarana rekreasi .

Dengan membandingkan fenomena ” tidak saling kenal ” antara sesama siswa SPN X dan Y di satu ruang publik dengan paguyuban perantau suku X di jakarta, pengurus gereja dan paduan suara X , dan pengurus organisasi selam , menembak dan terjun payung ( olah raga khas angkatan ) adalah terdapat kesimpulan bahwa :

Fenomena in group dan out group yang muncul sebagai akibat adanya identitas berbeda ( tni dan polri ) secara berangsur angsur melebur menjadi sebuah identitas baru ( identitas alternatif ) yang disebut senagai : sesama perantauan suku X di jakarta yg beranggotakan berbagai profesi, sesama pengurus masjid , maupun gereja yg berlatar belakang berbagai kesatuan , dan juga sesama penggiat dan pengurus olah raga selam , menembak dan terjun payung sebagai sesama komunitas .

Identitas asli berupa TNI dan Polri memang tidak hilang , dan tetap merupakan identitas latent yang sewaktu waktu muncul menjadi militansi bahkan anarkhi, namun adanya identitas alternatif (sesama perantauan X dan pengurus komunitas ) bisa menjadi katup penyelamat dari mampatnya saluran komunikasi antar kelompok , lewat orang orang didalamnya komunikasi kedua kelompok ( antar group ) bisa lebih terbuka untuk menemukan …. Ini salah pahamnya disini dan solusi yang saling menghormati adalah begini.

Sudah saatnya bukan hanya level perwira yang kebetulan berlatar belakan akademi tni maupun akpol bertemu dalam forum kegiatan integrasi seperti latsitarda maupun porsitar , mungkin kelak harus ada giat TMMD yang melibatkan polri didalamnya secara aktif dan terintegrasi atau sebaliknya bulan bhakti kamtibmas yg digagas polri dengan melibatkan TNI , dimana kedua gagasan tadi sedapat mungkin melibatkan siswa siswa pembentukan bintara dan tamtama tni polri sejak awal, bersama sama menemukan identitas alternatif ” kami “selain identitas “aku” dan “kamu”

Saya menulis,maka saya ada.