PEMANFAATAN DECISION SUPPORT SYSTEM DALAM MENDUKUNG TUPOKSI
BAGIAN PENELITIAN PERSONIL DIVPROPAM POLRI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Divpropam Polri merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada dibawah Kapolri yang bertugas membina dan menyelenggarakan fungsi pertanggungjawaban profesi dan pengamanan internal termasuk penegakan disiplin dan ketertiban di lingkungan Polri serta pelayanan pengaduan masyarakat tentang adanya penyimpangan tindakan anggota Polri atau PNS Polri.
Ropaminal merupakan unsur pelaksana utama yang berada di bawah Kadivpropam Polri yang bertugas membina dan menyelenggarakan fungsi pengamanan internal, yang meliputi pengamanan personel, materiil, kegiatan dan bahan keterangan termasuk penyelidikan terhadap pelanggaran atau penyimpangan dalam melaksanakan tugas Polri pada tingkat Mabes Polri.
Sebagai biro yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan fungsi pengamanan internal Biro Paminal telah melakukan kegiatan sebagaimana tugas dan tanggung jawabnya baik berupa kegiatan operasional maupun mengumpulan data dan fakta guna menunjang keberhasilan pelaksanaan tugas yaitu memberikan informasi yang akurat bagi pimpinan sbagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan terkait pembinaan personel Polri.
Namun dalam perkembangan sistem pendataan dan pengarsipan yang dilakukan oleh saat ini, kebutuhan informasi yang tinggi kadang jika tidak diimbangi dengan penyajian informasi yang memadai, sering kali informasi tersebut masih harus di gali ulang dari data yang jumlahnya sangat besar. Kemampuan teknologi informasi untuk mengumpulkan dan menyimpan berbagai tipe data jauh meninggalkan kemampuan untuk menganalisis, meringkas dan mengekstrak pengetahuan dari data. Metode tradisional untuk menganalisis data yang ada, tidak dapat menangani data dalam jumlah besar. Pemanfaatan data yang ada di dalam sistem informasi untuk menunjang kegiatan pengambilan keputusan, tidak cukup hanya mengandalkan data operasional saja, diperlukan suatu analisis data untuk menggali potensi-potensi informasi yang ada.
Berdasarkan pengalaman penulis selama bertugas di Biropaminal Divpropam Polri masih ditemui adanya kelemahan dalam pengolahan maupun penyiapan data/ informasi yang seringkali dibutuhkan kesegeraan, maupun pengambilan keputusan berdasarkan data manual saja yang terkadang belum uptodate.
Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas kinerja Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri, dinilai perlu menggunakan Decision Support System (DSS) yang dapat memberikan kontribusi kepada para Kabag dan Kasubbag untuk memberikan dukungan dalam pengambilan keputusan.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud
Maksud dari penulisan ini adalah membuat penulisan yang bersifat analitik mengenai pemanfaatan Decision Support System yang terkait dengan Tupoksi Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri.
2. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah membuat suatu Decision Support System guna mendukung tugas pokok dan fungsi Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri.
C. RUANG LINGKUP
Penulisan ini dibatasi pada pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri sebagai database yang dapat mendukung Kabag Litpers dan para Kasubbag dalam mengambil suatu keputusan berdasarkan hasil penelitian personil yang telah tersedia dalam bentuk data warehouse.

BAB II
DATA DAN FAKTA
Banyak indikator yang dapat dijadikan petunjuk bahwa sosok Polri idaman belum sepenuhnya dapat diwujudkan. Indikator-indikator tersebut antara lain: masih banyaknya anggota Polri yang melakukan pelanggaran maupun tindak pidana yang secara langsung maupun tidak langsung menyakiti hati rakyat, rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri dan buruknya citra Polri di masyarakat.
Data Pelanggaran Anggota Polri Periode 2004-2009
TAHUN PELANGGARAN DISIPLIN PELANGGARAN PIDANA PTDH
TOTAL SELESAI PROSES TOTAL SELESAI PROSES
2004 3.835 2.243 1.592 1.072 886 186 131
2005 2.830 2.142 688 697 411 286 254
2006 2.961 1.681 1.280 961 549 412 150
2007 5.703 4.228 1.475 357 301 56 160
2008 7.035 4.517 2.518 1.164 272 892 252
2009 5.454 1.582 3.872 1.082 108 974 270
Sumber: Mabes Polri,11 Desember 2009

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri masih rendah. Hasil penelitian yang dilakukan Kompas yang dimuat pada tanggal 31 Januari 2011 menunjukkan betapa rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri hanya 6,5 %. Tingkat kepercayaan ini lebih rendah dibandingkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga agama dan media massa yaitu 7,2 % .
Rendahnya tingkat kepercayaan diikuti dengan merosotnya citra Polri di masyarakat. Hasil survei beberapa lembaga penelitian yang pernah dilangsir selama era reformasi ini menambah lengkap bukti kemerosotan citra Polri di mata masyarakat Indonesia. Salah satu hasil survei LSM Transparansi Internasional Indonesia pada Desember 2007 menyebutkan bahwa citra Polri menduduki peringkat tertinggi sebagai institusi terkorup dengan skor 4,2 yang disusul lembaga pengadilan dan parlemen . Hasil survei tersebut menguatkan hasil penelitian mahasiswa PTIK terhadap institusi Polri sebagai tempat mereka mengabdi sekitar tahun 2005 yang menyimpulkan bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme di tubuh Polri sudah mengakar .
Masyarakat tidak puas terhadap kinerja Polri dalam banyak hal. Survei imparsial yang dilakukan oleh Lembaga Penggiat Hak Asasi Manusia terhadap kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Polri menunjukkan ketidakpuasan tersebut. Survei dilakukan di Jakarta pada tanggal 17 Juni sampai 14 Juli 2011 meliputi populasi warga Jakarta dengan responden 500 orang terdiri dari umumnya berumur 17 tahun dan sudah menikah. Metode yang digunakan dalam penarikan sampel adalah multistage random sampling dengan tingkat kesalahan 4 persen. Hasil survei menunjukkan bahwa ketidakpuasan masyarakat mencapai 61,2 persen.

Tabel 2
Tingkat Ketidakpuasan Masyarakat Jakarta terhadap Kinerja Polri
NO BIDANG YANG DINILAI TINGKAT KETIDAKPUASAN (%) KET
1. Penanganan Kasus Korupsi 78,4
2. Penanganan Lalu Lintas 76,6
3. Penanganan Pencurian Kendaraan 67
4. Penegakkan Hukum dan HAM 58
5. Penanganan Lahgun Narkoba 53,2
6. Penanganan Premanisme 53,2
7. Penanganan Sara 40
8. Reformasi Polri gagal 61,2
9. Persepsi keterlibatan dalam KKN 74
10. Keterlibatan dlm Pembuatan SIM 75,8
11. Keterlibatan dlm pungli 61,6
12. Keterlibatan dlm dagang narkoba 59,2
13. Keterlibatan lakukan siksa dlm sidik 49,4
14. Keterlibatan dlm mafia hukum 65,8
15. Kemampuan selesaikan kasus mafia hukum 58,2
Sumber: Hasil Survei Imparsial oleh Lembaga Penggiat HAM di jakarta pada 17 Juni sampai 14 Juli 2011.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. DECISION SUPPORT SYSTEM

Turban (1995) mendefinisikan secara lebih spesifik dengan, sesuatu yang interaktif,flexible dan dapat menyesuaikan diri (adaptable) dari sistem informasi berdasarkan komputer, khususnya pengembangan untuk mendukung pemecahan masalah dari non-struktur management, untuk meningkatkan pengambilan keputusan. Dengan menggunakan data, mendukung antar muka yang mudah digunakan dan memberikan wawasan untuk sang pengambil keputusan.
Istilah dari decision support system telah digunakan dengan banyak cara (Alter 1980) dan menerima banyak definisi yang berbeda menurut pandangan dari sang penulis (Druzdzel dan Flynn 1999). Finlay (1994) dan lainnya mendefiniskan DSS kurang lebih sebagai sebuah sistem berbasis komputer yang membantu dalam proses pengambilan keputusan.
Decision Support System dapat dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik.
Definisi lainnya bisa jadi gugur dibandingkan dengan dua pandangan ekstrim berikut, Keen dan Scott Morton (1978), DSS adalah dukungan berdasar kan komputer untuk para pengambil keputusan management yang berurusan dengan masalah semi-struktur. Sprague dan Carlson (1982), DSS adalah sistem berdasarkan komputer interaktif yang membantu para pengambil keputusan menggunakan data dan model-model untuk memecahkan masalah yang tak terstruktur(unstructured problem). Menurut Power (1997), istilah DSS mengingatkan suatu yang berguna dan istilah inklusif untuk banyak jenis sistem informasi yang mendukung pembuatan pengambilan keputusan. Dia dengan penuh humor menambahkan bahwa jika suatu sistem komputer yang bukan OLTP, seseorang akan tergoda untuk menyebutnya sebagai DSS.
Seperti yang kita lihat, DSS memiliki banyak arti dengan maksud yang kurang lebih hampir sama, yaitu suatu sistem komputer yang berguna bagi para pengambil keputusan untuk memecahkan masalah mereka yang kurang lebih berhadapan dengan masalah non-struktur atau semi-struktur.

Tujuan dari Decision Support System (DSS) antara lain adalah :
• membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi struktur
• mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya
• meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan seorang manajer dari pada efisiensinya.

Tahap-tahap dalam pengambilan keputusan antara lain adalah :
• kegiatan intelijen,
• kegiatan merancang,
• kegiatan memilih dan menelaah.
Kegiatan intelijen ini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk mengetahui kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki. Kegiatan ini merupakan tahapan dalam perkembangan cara berfikir. Untuk melakukan kegiatan intelijen ini diperlukan sebuah sistem informasi, dimana informasi yang diperlukan ini didapatkan dari kondisi internal maupun eksternal sehingga seorang manajer dapat mengambil sebuah keputusan dengan tepat.
Kegiatan merancang merupakan sebuah kegiatan untuk menemukan, mengembangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang mungkin untuk dilakukan. Tahap perancangan ini meliputi pengembangan dan mengevaluasi serangkaian kegiatan alternatif. Pertimbangan-pertimbangan utama telah diperkenalkan oleh Simon untuk melakukan tahapan ini, apakah situasi keputusan ini terprogram atau tidak. Sedangkan kegiatan memilih dan menelaah ini digunakan untuk memilih satu rangkaian tindakan tertentu dari beberapa yang tersedia dan melakukan penilaian terhadap tindakan yang telah dipilih.
Jenis-jenis DSS menurut tingkat kerumitan dan tingkat dukungan pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut:
• Mengambil elemen-elemen informasi.
• Menaganalisis seluruh file.
• Menyiapkan laporan dari berbagai file.
• Memperkirakan dari akibat keputusan.
• Mengusulkan keputusan.
• Membuat keputusan.
Model DSS terdiri dari:
a. Model matematika;
b. Database;
c. Perangkat lunak.

Perangkat lunak DSS sering disebut juga dengan DSS generator. DSS generator ini berisi modul-modul untuk database, model dan dialog manajemen. Modul database ini menyediakan beberapa hal, seperti: creation, interrogation dan maintenance untuk DSS database. DSS database memiliki kemampuan untuk menemukan sistem database yang telah disimpan. Sedangkan modul model digunakan untuk menyajikan kemampuan membuat, menjaga dan memanipulasi ke dalam bentuk model matematika. Model dasar ini menampilkan electronic spreadsheet. Model dialog digunakan untuk menarik perhatian para pengguna untuk berhubungan langsung antara pengguna dengan komputer dalam mencari solusi.
Setelah kita lihat dan selami tentang data warehouse, kita dapat menyimpulkan bahwa data warehouse adalah sebuah model database yang berguna untuk menyimpan dan memproses data dengan pendekatan kepada kegunaan data dalam pengambilan keputusan bagi EIS atau DSS.
Sebuah DSS (tergantung dengan yang disupport-nya)membutuhkan data warehouse agar dapat menjalankan kerjanya dengan baik. Dan memang data warehouse sendiri dibangun untuk memenuhi kebutuhan DSS.
Karakteristik dan kemampuan ideal dari suatu DSS antara lain: 1) DSS menyediakan dukungan bagi pengambil keputusan utamanya pada situasi semi terstruktur dan tak terstruktur dengan memadukan pertimbangan manusia dan informasi terkomputerisasi, 2) Dukungan disediakan untuk pelbagai level, manajerial yang berbeda, mulai dari pimpinan puncak sampai manajer di lapangan, 3) Dukungan disediakan bagi individu dan juga bagi group, 4) Menyediakan keputusan ke pelbagai keputusan yang berurutan atau saling berkaitan, 5) Mendukung pelbagai fase proses pengambil keputusan: intelligence, design, choice dan implementation, 6) Mendukung pelbagai proses pengambilan keputusan style yang berbeda – beda, 7) Selalu bisa beradaptasi sepanjang masa, 8) Mudah digunakan, 9) Mencoba untuk meningkatkan efektifitas dari pengambilan keputusan, lebih daripada efisiensi yang bisa diperoleh, 10) Pengambil keputusan memiliki kontrol menyeluruh terhadap semua langkah proses pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah.
Komponen DSS: 1) Data Management, termasuk database yang mengandung data yang relevan untuk pelbagai situasi dan diatur oleh software yang disebut Database Management System ( DBMS ), 2) Model Management , melibatkan model finansial, statistikal, management science, atau pelbagai model kuantitatif lainnya, sehingga dapat memberikan ke sistem suatu kemampuan analitis dan manajemen software yang diperlukan, 3) Communication ( dialog subsystem ), user dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada DSS melalui subsystem ini, 4) Knowledge Management, subsystem optional dapat mendukung subsystem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri.
Data Management Subsystem terdiri dari dari elemen – elemen: 1) DSS database, 2) Database Management System, 3) Data Directory, 4) Query Facility.
Sistem adalah kumpulan dari obyek – obyek seperti orang, resource, konsep, dan prosedur yang ditujukan untuk melakukan fungsi tertentu atau memenuhi suatu tujuan. Sistem terbuka adalah sangat tergantung pada lingkungannya. Sistem ini menerima in put ( informasi, energi, material ) dari lingkungannya dan bisa juga memberikan out putnya kembali ke lingkungan tersebut.
Dua ukuran utama dari sistem adalah efektifitas dan efisiensi. Efektifitas adalah derajat seberapa banyak tujuan sistem tercapai. Ini mengacu pada hasil atau out put pada suatu sistem. Efisiensi adalah ukuran penggunaan in put ( atau resource ) untuk mencapi tujuannya.
Karakteristik utama DSS adalah adanya kemampuan pemodelan. Model adalah representasi sederhan atau penggambaran dari kenyataan. Terdapat 3 jenis model : 1) Iconic, yaitu replika fisik dari sistem, biasanya dalam skala tertentu dari bentuk aslinya, 2) Analog, yaitu tak seperti sistem yang sesungguhnya tetapi berlaku seperti itu. Lebih abstrak dari model Iconic dan merupakan representasi simbolis dari kenyataan, 3) Matematis, yaitu kompleksitas hubungan dalam sistem organisasi tak dapat direpresentasikan dengan iconic atau analog, karena kalaupun bisa akan memakan waktu lama dan sulit. Analisis DSS menggunakan perhitungan numerik yang dibantu dengan model matematis atau model kuantitatif lainnya.
Keuntungan model: 1) Biaya analisis model lebih murah daripada percobaan yang dilakukan pada sistem yang sesungguhnya, 2) Model memungkinkan menyingkat waktu, 3) Manipulasi model ( perubahan variabel ) lebih mudah dilakukan bila diterapkan pada sistem nyata, 4) Akibat yang ditimbulkan dari kesalahan – kesalahan suatu proses trial and error lebih kecil daripada penggunaan model langsung di sistem nyata, 5) Lingkungan sekarang yang makin berada pada ketidakpastian. Penggunaan pemodelan menjadikan seorang manajer dapat menghitung resiko yang ada pada proses – proses tertentu, 6) Penggunaan model matematis bisa menjadikan analisis dilakukan pada kemungkinan – kemungkinan solusi yang banyak sekali, bahkan bisa tak terhitung. 7) Model meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan pelatihan.
Proses Pemodelan: 1 ) Trial And Error dengan sistem nyata, tapi ini tak berjalan bila terlalu banyak alternatif untuk dicoba, akibat samping dari error yang terjadi besar pengaruhnya, lingkungan itu sendiri selalu berubah, 2) Simulasi, 3) Optimisasi, 4) Heuristic.
Pengambilan Keputusan adalah proses pemilihan, diantara pelbagai alternatif aksi yang bertujuan untuk memenuhi satu atau beberapa sasaran. 4 fase Pengambilan Keputusan: 1) Intelligence, 2) Design, 3) Choice, 4) Implementation. Fase 1 sampai 3 merupakan dasar pengambilan keputusan, yang diakhiri dengan suatu rekomendasi, sedangkan pemecahan masalah adalah serupa dengan pengambilan keputusan ( fase 1 sampai 3 ) ditambah dengan implementasi dari rekomendasi ( fase 4 ). Pemecahan/ penyelesaian masalah tak hanya mengacu ke solusi dari area masalah/ kesulitan – kesulitan tapi mencakup juga penyelidikan mengenai kesempatan – kesempatan yang ada.
Intelligence Phase, di mana proses yang terjadi pada fase ini: 1) Menemukan masalah, 2) Klasifikasi masalah, 3) Penguraian masalah,4 ) Kepemilikan masalah.
Design Phase, tahap ini meliputi pembuatan, pengembangan, dan analisis hal – hal yang mungkin dilakukan termasuk juga di sini pemahaman masalah dan pengecekan solusi yang layak. Juga model dari masalahnya dirancang, dites dan divalidasi. Tugas – tugas yang ada pada tahap ini merupakan kombinasi dari seni dan pengetahuan yaitu: 1) Komponen – komponen model, 2) Struktur model, 3) Seleksi prinsip – prinsip pemilihan ( kriteria evaluasi ), 4) Pengembangan ( penyediaan ) alternatif, 5) Prediksi hasil, 6) Pengukuran hasil, 7) Skenario.
Choice Phase adalah fase pendekatan pencarian pilihan di mana ada dua pendekatan yaitu: 1) Teknis Analitis, menggunakan rumusan matematis, 2) Algoritma, langkah demi langkah proses. Suatu DSS menurut definisinya adalah merekomendasikan tetapi tidak membuat suatu pilihan sebagai tambahan untuk menggunakan model yang secara cepat mengidentifikasi alternatif terbaik, DSS dapat mendukung Choice Phase melalui analisi “ what – if “ dan “ goal seeking “. Skenario – skenario yang berbeda dapat dites untuk pilihan yang diinginkan yang bisa memperkuat keputusan akhir.
Impelementasi, di mana pada fase ini ternyata keuntungan yang didapat dari DSS juga sepenting atau malah lebih penting dibanding penggunaan DSS pada fase – fase sebelumnya. Keuntungannya adalah dalam memberikan ketajaman dan detail dari analisis dan out put yang dihasilkan.
Cognition adalah aktifitas suatu individu dalam mengatasi perbedaan antara cara pandangnya dari dalam lingkungan dan apa yang memang benar – benar ada dalam lingkungan itu. Dengan kata lain kemampuan untuk mempersepsi dan memahami informasi.
Pengambil keputusan berfikir dan bereaksi terhadap suatu masalah, berpersepsi, memahami nilai- nilai dan kepercayaan yang dianut, berbeda-beda dari satu individu ke individu yang lain dan juga dari situasi ke situasi yang lain. Sehingga tiap orang akan membuat keputusan yang berbeda – beda. Perilaku bagaimana manajer mengambil keputusan ( dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain ) menjelaskan gaya keputusan mereka.
B. PERBANDINGAN

Berikut ini ulasan Studi Penerapan DSS di Bengkel Manchining Center PT. IPTN (PT. DI) menggunakan Decision Support System sebagai perbandingan dengan Sistem Database Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri.

Bengkel Manchining Center PT. IPTN menerima pemesanan dari Engineering Office. Pesanan yang datang berupa Jadwal Induk Produksi lengkap dengan struktur produk, routing sheet dan lead time tiap item produk. Manajer bengkel harus memutuskan dengan segera mampu atau tidak mampu melayani pesanan tersebut. Tanpa bantuan suatu sistem yang mampu menghitung kapasitas yang tersedia dari bengkel tersebut dan yang juga mampu menghitung dengan cepat kebutuhan kapasitas akan pesanan tersebut, keputusan dari manajer tidak dapat segera terwujud. Kalaupun manajer dapat segera memutuskan mampu, keputusan tersebut tentunya hanya berdasarkan pengalaman masa lalu dan keberanian semata dalam mengambil keputusan. Sehingga hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan.

Suatu sistem pendukung keputusan yang mampu membantu manajer menghadapi masalah tersebut diatas telah berhasil dirancang dalam tesis Antonius Sarwedi (Teknik Industri ITB, 1995) yang berjudul ‘Rancangan Sistem Pendukung Keputusan Untuk Menentukan Waktu Penyelesaian Produk Dan Penentuan Harga Pokok Barang’. Untuk dapat diterapkan di bengkel Machining Center PT. IPTN pada kondisi riil sistem tersebut perlu dimodifikasi.

Sistem Pendukung Keputusan telah berhasil dimodifikasi dengan memperhitungkan penjadwalan ditingkat shop floor sehingga didapatkan JPI realistis. Akan tetapi ternyata sistem ini tidak dapat diterapkan di bengkel Machining Center PT. IPTN pada kondisi riilnya. Hal ini disebabkan karena di bengkel tersebut tidak tersedia data struktur produk, data routing sheet dan data kapasitas mesin tersedia.

Dibandingkan dengan Sistem Pendukung Keputusan Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri yang pada kondisi riilnya telah menyediakan berbagai data dan arsip yang diperlukan untuk menjalankan sistem DSS yang dirancang secara sederhana dalam makalah ini, Sistem DSS dalam tesis Antonius Sarwedi (Teknik Industri ITB, 1995) menurut pendapat penulis tidak diimbangi dengan pengetahuan atau informasi secara riil dan terperinci dari data warehouse dan data mining yang dimiliki secara manual oleh bengkel Machining Center PT. IPTN.

Manajer bengkel seharusnya mengatur cara pengumpulan dan penyimpanan data dan informasi dengan baik, walaupun hanya secara manual namun dapat memutuskan dengan segera mampu atau tidak mampu melayani suatu pesanan. Pada intinya pembuatan sistem suatu perusahaan ataupun suatu satuan kerja memerlukan dua sisi pengetahuan ( DSS dan pengumpulan dan penyimpanan database secara riil) dimana keduanya harus digabungkan pada saat membuat sistem DSS.

BAB III
PENERAPAN DAN IMPLEMENTASI

A. PENERAPAN
Sebuah aplikasi berupa Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) mulai dikembangkan pada tahun 1970. Decision Support Sistem (DSS) dengan didukung oleh sebuah sistem informasi berbasis komputer dapat membantu seseorang dalam meningkatkan kinerjanya dalam pengambilan keputusan. Seorang manajer disuatu perusahaan dapat memecahkan masalah semi struktur, dimana manajer dan komputer harus bekerja sama sebagai tim pemecah masalah dalam memecahkan masalah yang berada di area semi struktur. DSS mendayagunakan resources individu-individu secara intelek dengan kemampuan komputer untuk meningkatkan kualitas keputusan.

Data dan Informasi dimasukkan kedalam database dari Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri. Isi Database digunakan oleh Perangkat Lunak Penulisan Laporan, menghasilkan laporan periodik maupun khusus. Laporan periodik disiapkan sesuai jadwal dan biasanya dihasilkan oleh perangkat lunak yang dikodekan dalam suatu bahasa prosedural seperti COBOL (Common Business Oriented Language) yang merupakan bahasa pemrograman generasi ke-3. Laporan khusus disiapkan sebagai jawaban atas kebutuhan informasi yang tak terduga dan berbentuk database query oleh pemakai yang menggunakan query language dari DBMS atau bahasa pemrograman generasi keempat.

Penerapan DSS pada Bagian Penelitian Personil pada Divpropam Polri digunakan karena Anggaran Satker yang tidak memadai, Bagian Penelitian Personil juga dihadapkan pada meningkatnya jumlah data dan arsip yang harus disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, disamping itu peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah kasus personil Polri dan data/ informasi menonjol yang berkaitan dengan Personil Polri yang bermasalah serta Sistem komputer tidak mendukung peningkatan tujuan satuan kerja dalam hal efisiensi, efektifitas dan membuat laporan serta analisa dan evaluasi secara periodik khususnya setiap tahun.

  1. Dampak Pemanfaatan DSS
    Dampak dari pemanfaatan Decision Support System (DSS) antara lain :
    • Masalah-masalah semi struktur dapat dipecahkan.
    • Problem yang kompleks dapat diselesaikan.
    • Sistem dapat berinteraksi dengan pemakainya.
    o Dibandingkan dengan pengambilan keputusan secara intuisi, pengambilan keputusan dengan DSS dinilai lebih cepat dan hasilnya lebih baik.
    o Menghasilkan acuan data untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Kasat/ Kanit yang kurang berpengalaman.
    o Untuk masalah yang berulang, DSS dapat memberi keputusan yang lebih efektif.
    o Fasilitas untuk mengambil data dapat memberikan kesempatan bagi Kabag Litpers untuk berkomunikasi dengan lebih baik.
    o Meningkatkan produktivitas dan kontrol dari Kabag Litpers dan para Kasubbag.
  2. Faktor Pendukung DSS
    Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh :
    • Faktor teknologi
    • Faktor kompleksitas struktural
    • Faktor stabilitas politik
    • Faktor intervensi pemerintah
    • Faktor informasi yang berkaitan dengan masalah tersebut,
    • Faktor gaya pengambilan keputusan dan
    • Faktor kemampuan (intelegensi ,persepsi, dan falsafah)

Pertimbangan pengambil keputusan. Pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan ketidakpastian dari hasil keputusan yang diambil. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian tersebut, keputusan membutuhkan informasi yang sahih mengenai kondisi yang telah, dan mungkin akan terjadi, kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa alternatif pemecahan masalah sebagai bahan pertimbangannya dalam memutuskan langkah yang akan dilaksanakannya, sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat menberikan keuntungan yang maksimal dengan menggunakan aplikasi Computer Base Information System (CBIS) untuk lingkungan kelompok, seperti: Electronic Meeting System (EMS) dan Group Decision Support System (GDSS). Sistem Pendukung Keputusan Kelompok (group decision support system).

B. IMPLEMENTASI

APLIKASI DATA SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN
BAGIAN PENELITIAN PERSONIL DIVPROPAM POLRI

  1. APLIKASI PENGOLAH DATA HISTORY PERSONIL
    Merupakan aplikasi yang menyediakan informasi mengenai data litsus personil/anggota Polri dan PNS serta history mereka selama berkarir dalam organisasi Polri, mulai dari saat mereka masuk sebagai polisi / PNS sampai dengan status pangkat dan jabatan terakhir, pendidikan yang pernah mereka ambil baik pendidikan kepolisian atau latar belakang pendidikan awal mereka, kemudian prestasi apa saja yang pernah mereka lakukan, pernah atau tidaknya mereka melakukan pelanggaran atau tindak pidana selama bertugas serta penghargaan atau hukuman apa yang pernah mereka terima sesuai dengan tanggal perubahan yang terjadi. Selain itu aplikasi ini juga menyediakan informasi mengenai latar belakang keluarga personil yang berguna untuk menarik benang merah latar belakang keluarga mereka terhadap bahaya laten seperti keterlibatan dengan aliran komunisme ataupun jaringan Teroris / Radikalisme.
    Aplikasi ini akan memudahkan Kabag Litpers Divpropam Polri dalam mendapatkan informasi mengenai anggota Polri secara cepat dan efektif terutama pada saat mereka menyelidiki setiap anggota Polri yang pernah atau sedang terjerat masalah pelanggaran maupun tindak kriminal, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian sanksi terhadap para anggota yang terjerat kasus ataupun sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kelayakan personil dalam kenaikan pangkat atau jabatan.
  • APLIKASI PENGOLAHAN ARSIP DATA PERSONIL
    Merupakan aplikasi yang menyediakan informasi berupa arsip – arsip hasil scan mengenai anggota tertentu, sehingga dapat mengurangi penggunaan arsip secara fisik yang beresiko mengalami kerusakan ataupun hilang sekaligus mempermudah proses pencarian arsip penting mengenai personil Polri pada saat dibutuhkan baik oleh Satker Polri lain maupun kebutuhan di Divpropam Polri dalam melakukan penyelidikan pada anggota Polri yang terlibat kasus. Aplikasi ini juga berguna dalam memudahkan proses pengiriman data arsip secara digital untuk keperluan Satker lain seperti halnya jika ada personil di Satker lain yang mengajukan kenaikan pangkat, sehingga membutuhkan arsip digital sebagai bukti penghargaan ataupun hukuman yang mereka terima selama karir mereka.
    ARSITEKTUR DSS DALAM DALAM MENDUKUNG TUPOKSI BAGIAN PENELITIAN PERSONIL DIVPROPAM POLRI
    WAREHOUSE DATA :

  • internal. : berupa riwayat histori personil yang terdapat pada bag litpers divpropam polri.
  • eksternal : catatan khusus terkait pelayanan pengaduan masyarakat, skep hukuman dan copy vonis pidana dari pengadilan .
    dalam merancang DSS untuk mendukung tupoksi bagian penelitian personil divpropam polri diperlukan konsep implementasi yang disesuaikan sesuai dengan tugas pokok dari bag litpers divpropam polri, adalah sebagai filter terhadap segenap aspek etika profesi polri selakau pelindung , pengayom dan pelayan masyarakat , dimana penilaian yang dikeluarkan oleh litpers divpropam merupakan dasar pertimbangan oleh satker lain untuk kelangsungan karir , promosi , jabatan serta pengembangan organisasi polrisecara lebih luas . berkenaan dengan tugas pokoknya bag litpers selanjutnya akan mengolah data dan informasi terkait etika profesi seseorang anggota polri untuk dinyatakan layak, atau ytidak layak bekerja sebagai anggota polri.
    tumpukan data terkait histori personil maupun data catatan khusus akan diolah melalui manajemmen pengelolaan data / Database Management System ( DBMS) , untuk kemudian dikelola, dengan dipilih dan dilihat hubungan dari masing masing data yang ada untuk menetukan kriteria kelayakan etika dan profesi personil yang bersangkutan.
  • Manajemen pengelolaan data berdasarkan Entitas dan atribut data
    ENTITAS DATA CATATAN KHUSUS/ KUMPLIN RIWAYAT HIDUP PERSONIL PENGADUAN MASYARAKAT
    ATRIBUT DATA Identitas personil identitas personil identitas personil
    jenis pelanggaran pendidikan jenis pelanggaran
    jenis hukuman jabatan identitas korban
    lama hukuman keluarga kerugian yang timbul
    kinerja pasca hukuman prestasi upaya yang telah dilakukan
    frekuensi pelanggran pelanggaran
    nama penyidik kualifikasi

    Dengan pendekatan Quantitative Model dapat melakukan pemilihan dan perhitungan secara parsial dan komulatif sesuai ketentuan terhadap data-data kuantitatif yang ada, meliputi: hasil ada atau tidak ada catatan khusus/ kumplin, rangking hasil pendidikan dan kejuruan,ada atau tidak ada laporan pengaduan masyarakat
    KNOWLEDGE MANAGEMENT
    Dalam Penyiapan data personil terkait aspek ETIKA dan profesi, bila terdapat penilaian negative yang bersumber dari data KUMPLIN , maupun adanya YANDUMAS maka , berdasarkan peraturan kapolri yang digunakan, untuk personil tersebut dinyatakan tidak layak untuk diberikan kenaikanpangkat, promosi jabatan, mutasi sampai terdapat suatu perbaikan dan pemberian hukuman / selesai melaksanakan hukuman sesuai pelanggaran yang dilakukan
    ALGORITMA :
    1. IF ANGGOTA = TERDAPAT DALAM DAFTAR KUMPLIN THEN KATEGORI = PENGAWASAN ; SOLUSI TIDAK BOLEH DAPAT PROMOSI SAMPAI MASA PENGAWASAN SELESAI.
    2. IF ANGGOTA = TIDAK TERDAPAT DALAM DAFTAR KUMPLIN NAMUN ADA YANDUMAS THEN KATEGORI = PENGAWASAN ; SOLUSI TIDAK BOLEH DAPAT PROMOSI SAMPAI MASA PENGAWASAN SELESAI.
    3. IF ANGGOTA = TIDAK TERDAPAT DALAM DAFTAR KUMPLIN DAN DAFTAR YANDUMAS THEN KATEGORI = BERSIH ; SOLUSI BOLEH MENDAPAT PROMOSI.

    BAB IV
    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    A. KESIMPULAN

    1. Implementasi DSS akan menyediakan data atau informasi mengenai anggota Polri / PNS secara cepat dan efektif terutama pada saat mereka menyelidiki setiap anggota Polri / PNS yang pernah atau sedang terjerat masalah pelanggaran maupun tindak kriminal.
    2. Dengan Penerapan dan Implementasi Decision Support System, Kabag Litpers Divpropam Polri dapat memperoleh informasi yang memberikan pertimbangan dalam pemberian sanksi terhadap para anggota yang terjerat kasus ataupun sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kelayakan personil dalam kenaikan pangkat atau jabatan.
    3. Aplikasi DSS ini juga berguna dalam memudahkan proses pengiriman data arsip secara digital untuk keperluan Satker lain seperti halnya jika ada personil di Satker lain yang mengajukan kenaikan pangkat, sehingga membutuhkan arsip digital sebagai bukti penghargaan ataupun hukuman yang diterima selama masa dinas Personil yang bersangkutan.
    4. Pertimbangan pengambil keputusan. Pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan ketidakpastian dari hasil keputusan yang diambil. Untuk mengurangi faktor ketidakpastian tersebut, keputusan membutuhkan informasi yang sahih mengenai kondisi yang telah, dan mungkin akan terjadi, kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa alternatif pemecahan masalah sebagai bahan pertimbangannya dalam memutuskan langkah yang akan dilaksanakannya, sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat memberikan keuntungan yang maksimal.

    B. REKOMENDASI

    1. Sebagai sebuah Satuan Kerja yang menangani bidang Penelitian Personil Polri / PNS yang mempunyai Tupoksi melakukan screening dalam rangka menentukan kelayakan para personil Polri / PNS pada tingkat nasional dan di tingkat Mabes pada khususnya, sudah selayaknya menggunakan aplikasi DSS dalam mendukung Tupoksi di masing-masing penugasan yang telah diatur oleh Divpropam Polri.
    2. Dalam rangka mendukung pemanfaatan DSS pada Database Bag Litpers Divpropam Polri perlu dikembangkan kemampuan para personilnya dengan memberikan pelatihan guna mengoperasikan secara tepat dan efisien mengenai aplikasi DSS yang telah dirancang oleh Penulis.
    3. Dukungan Anggaran dalam bentuk kebijakan baru dan motivasi dari Pimpinan perlu ditingkatkan guna mempercepat terlaksananya pemanfaatan DSS secara tepat guna dan efisien demi memajukan penggunaan teknologi di Bag Litpers Divpropam Polri.

    DAFTAR PUSTAKA

     Irfan Subakti, Diktat Mahasiswa STIK, Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System), Jakarta, Juni 2011;
     A.Turban, Efraim; Aronson, Jay, E.; Liang, Ting-Peng. Decision Support Systems and Intelligent Systems. Prentice-Hall ,2005;
     Irfan Subakti, Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System), ITS, Surabaya, 2002.
     Anonimous. 2007. Sistem Pendukung Keputusan Jaringan Saraf Tiruan Untuk Optimasi Pemilihan Multiple Proyek.
    http://arisn.staff.ugm.ac.id/files/10/8/Presentasi Tugas Besar – Optimasi Pemilihan Proyek.pdf.
     Anonimous. 2005. Managerial Decision Making And Decision Support System.
    http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/5/jbptgunadarma-gdl-course-2005-tim pengajar – 202-dss.doc.
     Proposal AIPT 2007: Standar Sistem Informasi Universitas Airlangga
     Santoso, Lucky E. 2006. Mengajarkan Sistem Pendukung Keputusan Dengan Menggunakan Microsoft Excel Dan Visual Basic For Applications. http://www.lesantoso.com.
     Sarwedi, Antonius. 1995. Studi Penerapan Sistem Pendukung Keputusan Di Bengkel Machining Center PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara.
    http://digilib.ti.itb.ac.id/go.php?id= jbptitbti-gdl-s2-1995-antoniussa-1341.