NAPAK TILAS SEJARAH PERJUANGAN BHAYANGKARA POLRI DARI SABANG SAMPAI MERAUKE
TANGGAL 21 AGUSTUS S/D 14 NOVEMBER 2013

Lahir, tumbuh dan berkembangnya Polri tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Polri telah dihadapkan pada tugas-tugas yang unik dan kompleks. Selain menata keamanan dan ketertiban masyarakat di masa perang, Polri juga terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah di berbagai operasi militer bersama-sama satuan angkatan bersenjata yang lainnya, kondisi seperti ini merupakan suatu konsekuensi dimana pada saat itu Polri lahir sebagai satu-satunya satuan bersenjata yang relatif lebih lengkap dan terorganisasi secara mantap.
Berselang hanya empat hari setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 1945, secara tegas barisan polisi saat itu memproklamirkan diri sebagai Pasukan Polisi Republik Indonesia yang dipimpin oleh Inspektur Kelas I (Letnan Satu) Polisi Mochammad Jasin di Surabaya. Langkah awal yang dilakukan selain mengadakan pembersihan dan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang yang kalah perang, M. Jasin juga berhasil membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme seluruh rakyat melawan satuan-satuan bersenjata Jepang yang sedang dilanda depresi akibat kekalahan perang.
Sejarah bergulir pada tanggal 29 September 1945 ketika tentara Sekutu yang diboncengi ribuan tentara Belanda masuk menyerbu Indonesia dengan dalih ingin melucuti tentara Jepang, pada kenyataannya pasukan sekutu tersebut justru ingin membantu Belanda menjajah kembali Indonesia. Puncak pertempuran terjadi pada tanggal 10 Nopember 1945, yang kelak dikenang sebagai “Pertempuran Surabaya”. Dimana tanggal itu kemudian dijadikan sebagai hari Pahlawan secara Nasional yang setiap tahun diperingati oleh bangsa Indonesia.
Andil pasukan Polisi dalam mengobarkan semangat perlawanan rakyat ketika itu sangat besar, selain menciptakan keamanan dan ketertiban didalam negeri, Polri juga dilibatkan dalam berbagai operasi militer untuk menumpas pemberontakan DI/TII, PRRI, PKI, RMS, GAM serta berbagai penumpasan GPK lainnya. Bahkan Polri juga terlibat dalam tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban internasional, berdasarkan kebijakan PBB yang meminta bantuan pasukan polisi, termasuk Indonesia, untuk ikut aktif dalam berbagai operasi kepolisian Internasional.
Dinamika perjalanan sejarah Polri tidak terlepas dari tugas pokok Polri itu sendiri sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Penegak hukum, serta Pelindung, Pengayom dan Pelayan masyarakat. Urutan tugas tersebut tidaklah dimaksudkan untuk lebih mengutamakan yang pertama daripada urutan berikutnya, namun ketiganya harus dilaksanakan secara simultan, sama bobot pentingnya, prioritas dilakukan dengan memperhatikan jenis gangguan keamanan yang dihadapi.
Adalah suatu kebutuhan bagi Lembaga Kepolisian di negara-negara modern untuk mereformasi pelaksanaan tugas pokoknya agar senantiasa mampu beradaptasi terhadap kebutuhan dan dinamika masyarakat, dalam upaya reformasi tersebut senantiasa membutuhkan semangat kejuangan, patriotisme dan soliditas dari seluruh anggota kepolisian sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sesepuh Polri pada awal-awal masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Semangat sekali melangkah pantang menyerah, sekali tampil harus berhasildan jiwa ragaku demi kemanusiaan merupakan bagian dari ciri-ciri Budaya Polri yang harus senantiasa ditanamkan kepada seluruh anggota Polri, lewat proses belajar dengan bentuk kegiatan antara lain melalui kilasan cerita sejarah, upacara dan tradisi korps, lambang, Motto, slogan dan materi.
Implementasi penanaman budaya organisasi dengan menceritakan kisah dan semangat kejuangan dari para pendiri organisasi, kesuksesan organisasi, pengurangan tenaga kerja, reaksi organisasi terhadap kesalahan masa lalu, dan penanganan organisasi itu sendiri bertahan dari terpaan jaman, termasuk penggunaan lambang, motto dan upacara seremonial dalam prakteknya dilakukan sebagai rangkaian aktivitas berulang untuk mengungkapkan dan memperkuat nilai-nilai dasar organisasi, tujuan penting organisasi, orang-orang penting dalam organisasi, sebagai contoh adalah Mars, Hymne perusahaan, Logo, semboyan dan Motto yang digunakan oleh organisasi dan Perusahaan sebagai bentuk ritual yang ditanamkan secara efektif mengikat kedalam anggota organisasi termasuk menjadi identitas pembeda dengan organisasi atau perusahaan kompetitor lainnya.
Kegiatan NAPAK TILAS SEJARAH PERJUANGAN BHAYANGKARA POLRI DARI SABANG SAMPAI MERAUKE, sesungguhnya merupakan sebuah bentuk ritual dan lambangisasi dari upaya penanaman dan pengembangan budaya organisasi Polri dalam menumbuhkan jiwa Patriotisme dan semangat soliditas insan Bhayangkara guna menghadapi perkembangan dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Napak Tilas itu sendiri memiliki makna sebagai sebuah kegiatan mencari atau menelisik jejak-jejak yang memiliki makna historis pada tempat-tempat tertentu, berupa kegiatan berjalan kaki denngan menelusuri jalan-jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan dan Pejuang untuk mengenang perjalanan dan sejarah dikala lampau,sebagamana dipahami bersama bahwa akibat kompleksitas tugas yang dihadapi oleh insan–insan Bhayangkara kerap menyebabkan menurunnya kepercayaan dan simpati masyarakat yang berpengaruh terhadap kinerja kepolisian saat ini.
Dengan diadakannya NAPAK TILAS SEJARAH PERJUANGAN BHAYANGKARA POLRI DARI SABANG SAMPAI MERAUKE, diharapkan dapat menumbuhkan serta membangkitkan kembali semangat juang, patriotisme dan soliditas insan Bhayangkara dalam menghadapi perkembangan dinamika masyarakat yang semakin kompleks.

jadwal dan rute perjalanan NAPAK TILAS SEJARAH PERJUANGAN BHAYANGKARA POLRI DARI SABANG SAMPAI MERAUKE
TANGGAL 21 AGUSTUS S/D 14 NOVEMBER 2013

Copy of JADWAL REVISI yudi