Selama ini yang terdengar atau muncul di media massa nasional adalah bagaimana kondisi papua yang sangat dinamis , dikatakan demikian adalah tidak terlepas dari kondisi kamtibmas yang aman tentram dengan tertib sipil berjalan semestinya namun dalam sekejap dapat berubah menjadi suatu kondisi yang mencekam dan menakutkan.

Beberapa peristiwa penembakan terhadap anggota polri dan aparat tni , pembakaran fasilitas umum dan pemerintah ,agitasi dan teror termasuk sabotase lainnya bahkan serangan terhadap konvoi kendaraan pengangkut bahan makanan kerap terjadi secara tiba -tiba .
99 IGA D P Nugraha
Permasalahan gangguan keamanan di tanah papua menyisakan pertanyaan apakah kondisi ini akan terjadi lagi dikemudian hari ataukah kondisi panas dingin yg menggejala akan dapat dihentikan , lantas apa formulanya.

Membedah permasalahan penyakit panas dingin situasi kamtibmas di papua adalah dengan menganalogikan bagai seorang dokter yang menerima paien dengan gejala tertentu , lewat observasi , dan analisa yg tajam maka nantinya akan ditemukan suatu treatment dan obat yg manjur dengan dosis yang tepat.

fenomena insurgency yang terjadi di Papua bila diibaratkan sebagai analogi sebuah penyakit kronis yang memiliki gejala, perilaku dan bentuk yang khas , akan menunjukkan bahwa insurgency tidak lebih dan kurang sebagai sebuah pertarungan antara sekelompok orang yang tidak berkuasa terhadap pemerintahan yang sah.

Insurgency terjadi apabila kedua belah pihak yang bertarung menggunakan sumber daya politik termasuk kekerasan didalamnya untuk mencapai tujuan politik yang diperjuangkan dalam kancah pertarungan.

Insurjensi adalah merupakan bentuk pertarungan asimetrik, dimana akibat perbedaan atas kepemilikan aset dan pilihan metode yang berbeda dan tidak seimbang , sehingga memaksa adanya pilihan alternatif sebagai suatu rasionalitas bagi pihak yang lebih lemah untuk secara dinamis menggunakan time , space, support dan legitimasi dalam memenangkan pertarungan yang dihadapi.

Dukungan masyarakat dalam insurgency dan lawan insurgency tidak terlepas dari pola pemikiran bahwa rakyat sesungguhnya adalah ruang gerak dan ruang juang yang sesungguhnya , sehingga barang siapa berhasil memenangkan hati dan pikiran rakyat maka aspek time , space , support dan legitimacy akan berda dalam genggaman.

Memenangkan hati dan pikiran rakyat merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi dengan kesegeraan , manakala Rakyat seperti pada umumnya memiliki kecenderungan netral terhadap keberpihakan dalam pertarungan antar kekuatan di sebuah negara, keberpihakan rakyat adalah sebuah pendulum yang senantiasa bergerak sesuai polarisasi kekuatan pemenang dalam tiap pertarungan.

Tujuan utama lawan insurgensi adalah memisahkan insurjen dari masyarakat luas , diikuti dengan mengembalikan mereka yang terindikasi sebagai simpatisan menjadi kembali pro nkri , terakhir diikuti dengan pengejaran , pengejaran dan pengejaran untuk memburu dan menghancurkan secara sistematik susunan bertempur insurgen baik yang berada dipermukaan seperti kepada mereka yang duduk di pemerintahan sebagai pejabat lokal , berkedok LSM, akademisi , maupun meminjam tangan lembaga Keagamaan , termasuk jaringan clandestine dalam dan luar negeri.

Sebagai sebuah tujuan dalam lawan insurgency adalah suatu antitesa terhadap strategi insurgency yang menggunakan : metode Konspirasi, Perang berkepanjangan berlarut dan melelahkan untuk menguras tenaga dan biaya besar , simbolisasi Military foco sebagai bagian dalam kampanye eksistensi jaringan insurgent dan menggunakan tindakan terorisme sebagai suatu bahasa agitasi terhadap lawan dan pendukungnya.

implementasi strategi lawan insurgency bagai sebuah resep dokter atas analisa gejala, perilaku dan dampak yang timbul dari sebuah penyakit adalah dengan penerapan operasi lawan insurgency yakni insurgency harus dilawan dengan insurgency

Minimum of force, merupakan syarat pertama dalam lawan insurgeny , kekuatan bersenjata digunakan dalam taraf seminimal mungkin.

Pertimbangan terhadap kemungkinan collateral damage yang bisa saja muncul dari setiap pelaksanaan operasi lawan insurgency. Haruslah menjadi suatu prioritas yang harus dicegah , manakala time , space , support dan legitimacy menjadi sebuah perebutan antar pihak yang bertarung dengan rakyat berada ditengah pertarungan tersebut.

Hanya kepada mereka yang bisa dengan cerdik menekan dan mencegah secara langsung jatuhnya korban sipil dikalangan masyaraktlah yang akan memenangkan hati dan pikiran rakyat secara luas.

Hit and Run sebagai taktik yang paling umum dilakukan pihak insurgen untuk menguras tenaga , sumber daya dan kekuatan pasukan pemerintah, harus diwaspadai sebagai taktik yang sebenarnya ditujukan untuk memancing kemarahan dari suatu pihak yang dilampiaskan dengan menyerang dan menyakiti rakyat.

Pelampiasan kekesalan atas serangan Hit and Run menjadi racun yang paling mujarab untuk memisahkan rakyat dari pemerintahnya dan menumbuhkan simpati rakyat terhadap insurgen dalam memenangkan suatu pertarungan.

Flexibility tactical unit sebagai syarat kedua merupakan sebuah konsep yang melengkapi bagaimana minimum of force diatas diterapkan dalam konteks lawan insurgency.

Mobilitas dan gerak perpindahan pasukan insurgen yang kerap menyelinap ditengah tengah masyarakat harus diikuti oleh unit unit kecil dengan perlatan memadai dan sumber daya manusia yang tepat.

Daya gempur , daya tembak dan daya gerak unit -unit pasukan taktis harus sedemikian fleksibel, dengan kemampuan diatas rata-rata pasukan reguler , unit-unit ini dapat menjelma sebagai unit pemburu kejahatan yang efektif.

Sebagai unit crime hunter dengan dukungan daya gempur , daya tembak dan daya gerak diatas rata_rata diharapkan diperoleh daya tahan yang mumpuni bergerak secara taktis dengan kemampuan menggunakan kekuatan senjata secara sangat -sangat minimum dan terukur menghindari collateral damage di lingkungan masyarakat luas.

A good soldier wasn’t born , but he has to be made, mengharuskan adanya daur rekruitment,pembentukan dan pelatihan, penugasan dan pengakhiran tugas jauh unit taktis nan flexibel tadi menjadi diatas rata-rata kebutuhan membentuk pasukan reguler.

Jalan panjang membentuk unik taktis nan flexibel sebagai unit pemburu kejahatan , mungkin terdengar sumir dalam konteks Brimob saat ini , manakala kemampuan lawan insurgency brimob saat ini belum mampu mengulang kejayaan masa-masa Resimen Pelopor dahulu kala.

Konsepsi ATM ( amati , tiru dan modifikasi ) dapat diterapkan untuk menyusun dan menghidupkan kembali kemampuan lawan insurgency , beberapa satuan militer yang ada di Indonesia dapat menjadi acuan dalam konteks membangun dan menghidupkan kembali unit-unit taktis nan fleksibel sebagai unit buru sergap insurgent di Indonesia.

Bukan suatu set back manakala Polri dalam hal ini Brimob menghidupkan kembali unit unit taktis nan fleksibel tadi, dan bukanya suatu pengangkangan terhadap semangat reformasi Polri , namun sebagai jawaban yang paling logis dalam menghadapi insurgen yang malang melintang di beberapa wilayah Indonesia dan papua khususnya , dimana dalam ranah penegakkan hukum , apapun jalanya asalakan sah secara hukum ,profesional dalam pelaksanaan dan menggunakan kekuatan terukur dapatlah menjadi pertimbangan bahwa Brimob memang harus menghidupkan kembali kemampuan lawan insurgency yang selama ini secara malu-malu dikembangkan dalam satuan brimob secara terbatas.

Syarat ketiga dalam strategi lawan insurgency adalah dengan adanya Civic -military cooperation, yaitu kerjasama antara kekuatan militer ( bersenjata ) dengan pemerintahan sipil dan masyarakat secara meluas.

Sebagai sebuah upaya mengumpulkan dukungan masyarakat adalah tidak serta merta dengan menggunakan senjata dan sangkur saja , karena dukungan yang timbul dari adanya ketakutan atas kekerasan hanya bersifat semu dan temporer dalam konteks dukungan masyarakat sebagai sebuah pendulum yang bergerak dinamis.

Sebuah pelajaran yang kembali diaktualisasikan adalah ketika senjata , dan sangkur berubah menjadi pena dan kapur , sebagaimana beberapa kegiatan civic-military cooperation yang dilaksanakan oleh satuan brimob di Papua dalam melawan insurgency

Brimob masuk sekolah ! meninggalkan sementara waktu sangkur dan senjata , dan menggantikan dengan kapur dan pena, dengan bermodalkan keberanian dan kesadaran moril pada akhirnya beberapa anggota Brimob di Papua tergerak untuk membantu mendidik tunas-tunas muda dengan menjadi guru pengganti di beberapa sekolah di pedalaman papua.

Seperti dipahami bersama bahwa faktor geografis , sosiokultural dan pertimbangan keamanan selama ini pada akhirnya memaksa guru-guru resmi sekolahan untuk hengkang dari tanah papua, tentunya hal ini sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap kualitas pendidikan di papua dalam membangun konsep wawasan nusantara dalam bingkai NKRI, ke Bhineka Tunggal Ika-an , Pancasila , UU 1945.

Trias pertarungan antara Pemerintah : Masyarakat : dan Insurgency dalam sebuah pemenangan, membutuhkan
Keselarasan antara penggunaan kekuatan secara minimum dan terukur dengan kerjasama antara kekuatan bersenjata dan masyarakat.
Brimob Papua Jaman Dulu(1)
Keselarasan yg diwujudkan dengan program Brimob Masuk Sekolah oleh Sat Brimob Polda Papua, merupakan terobosan kreatif dalam rangka membantu memperbaiki dan meningkatkan pendidikan serta wawasan juga merupakan upaya yang efektif untuk merangkul masyarakat di pedalaman Papua guna membangun kekuatan dan keberanian menolak dan memisahkan diri mereka dari cengkeraman kelompok insurgensi.

Proyeksi kedepan adalah diperlukan suatu kebijakan organisasi terkait implementasi program brimob masuk sekolah yang digiatkan oleh sat brimob Papua menjadi suatu strategi alternatif yg dikedepankan dalam konteks kekhasan papua .

manakala pendekatan pendekatan polisional seperti biasanya. Dengan penegakkan hukm , menjadi tidak efektif dalam merangkul dan memenangkan hati rakyat ,maka upaya mendidik intelektualitas masyarakat papua sebagai suatu prioritas .

Kemudian adalah bagaimana kebijakan dalam upaya merangkul dan memenangkan hati dan pikiran rakyat diikuti dengan kelembagaan yang dinamis.

Sebagai sebuah strategi insurgency lawan insurgency dimana struktur bertempur musuh kadang kadang sedemikian dinamis dan unstruktur maka diperlukan juga kelembagaan yang sifatnya cair dan un structure , mudah berdaptasi dengan orientasi kepada pencapaian hasil ,yang tentunya juga mensyaratkan rantai komando yang singkat , egaliter dan demokratis dalam pegambilan langkah guna implementasi kebijakan memenangkan hati dan pikiran rakyat
Terakhir adalah dengan sistem dan metode yang tepat , kreatifitas yang digagas oleh sat brimob papua dengan menugaskan beberapa anggotanya sebagai tenaga pengajar pengganti di beberapa sekolah pedalaman, membutuhkan pembekalan materi yang sifatnya sederhana , aplikatif dan mudah diduplikasi untuk diterapkan di beberapa tempat lainnya.

Sistem dan metode yang diterapkan berdasarkan SOP tertentu sehingga ketika sangkur dan senjata ditanggalkan sementara menjadi kapur dan pena , aspek keamanan dan keselamatan alat, personil dan kegiatan tetap menjadi perhatian.

Konklusi :
Brimob Masuk Sekolah adalah pilihan alternatif yang perlu digiatkan dalam membangun ketahanan masyarakat , guna mendulang simpati dan dukungan rakyat guna menanggulangi fenomena insurgency di Papua , kegiatan polisionil dan jasa intelijen hanyalah katalisator dalam membangun kekuatan masyarakat papua untuk menyelesaikan fenomena insurgency di Papua , ketika rakyata adalah air dan insurgen adalah ikan , pisahkanlah air sedemikian hingga agar ikan dapat tertangkap kemudian.

Saya menulis, maka saya ada.