hari ini berita di televisi maupun sosial media diramaikan dengan upaya penangkapan jaringan terorisme Indonesia, sampai tulisan ini dibuat , situasi di bandung masih sedang serun serunya diberitakan selang seling dengan kegagalan KPK dalam menyita beberapa barang bukti mobil yang diduga hasil pencucian uang dalam kasus terorisme yang menimpa mantan pimpinan partai tertentu
beberapa hal yang dapat menajdi diskusi adalah ketika bagaimana peran media massa khususnya televisi sedemikian aktif memberitakan upaya penangkapan jaringa teroris yang dilakukan oleh jajaran kepolisian khsusunya Densus 88 mabes Polri, lengkap dengan beberapa komentar dari masyarakat awan disekitar lokasi pengepungan, termasuk beberapa media televisi yang menayangkan pengamat-pengamat teroris di Indonesia , suatu strategi penayangan yang sangat kreatif dan uptodate
salah satu yang menggelitik adalah bagaimana ketika seorang reporter televisi mencoba mengorek opini salah seorang ahli atau mungkin pengamat masalah terorisme secara live , adanya pernyataan yang mengatakan bahwa seharusnya Polisi dalam hal ini Densus 88 untuk tidak demam panggung dengan mencoba menampilkan aksi-aksi teaterikal pengepungan, harusnya polisi sedari dini melakukan pendekatan persuasif dengan mendekati anggota teroris yang terkepung dalam sebuah rumah tadi dengan ucapan ” kalian sudah kami ketahui!!!! segeralah menyerah dan mengurungkan niat “” sedikit menggelitik memang bilamana kita lihat sikap radikal yang dimiliki jaringan teroris selama ini, tampaknya belum pernah terjadi di Indonesia ada anggota terorisem di indonesia yang mau serta merta mau nyerah ( kecuali thorig / pelaku bom tambora )

melihat aksi pengepungan dengan memakan waktu lebih dari 7 jam ,,, tentunya menyisakan pertinyaan .. kok lama banget ????? sangat bertele-tele , sudahlahhh kirim orang lain untuk mengerebek ,,, 15 menit … pasti tuntas.
sedikit mencoba membandingkan dengan kejadian di Beslan Rusia 3-9-2004 yang hampir berlangsung selama 3 hari penuh , dengan 7 jam di bandung.siap-salah.jpg
ketika di beslan , jajaran paramiliter , dan militer rusia berusaha untuk membebaskan sandera disebuah sekolah selama 3 hari , upaya yang ekstra hati hati inipun masih menyisakan beberapa korban jiwa , baik pelaku dan sandera , merujuk kejadian di Bandung yang hampir 7 jam secara taktis adalah :
terdapat perbedaan prinsip yang digunakan antara teknik pengepungan rumah ( selanjutnya disebut PJD / pertempuran jarak Dekat ) menurut doktrin Polisi ( law enforcement diddunia ) yang mengharuskan adanya warning, peringatan, upaya persuasif sebelum aksi penyerbuan pembebasan sandera ataupun penangkapan beresiko tinggi dengan Military style yang mengharuskan kesenyapan , pendadakan dan kecepatan ,ibaratnya kalau dihandel polisi dibutuhkan warning ” perhatian-perhatian kami dari kepolisian , kami sampaikan rumah anda sudah kami kepung, kami minta semua penghuni keluar dengan mengangkat tangan dan menyerah” ( setidaknya lebih dari 1 kali ) , sedangkan dengan military style : cukup perintah operasi , lansung aksi.

selain itu secara naluri pelaku teroris di Indonesia adalah mereka yang telah mengalami proses radikalisasi secara paripurna : dimulai dengan proses rekruitmen pemilihan calon calon anggota teroris, dilanjutkan upaya pengdientifikasian diri bahwa dirinya dalah kelompok a bukan kelompok b, bahwa si C adalah musuh dan si D harus dihancurkan, fase ketiga adalah dengan indoktrinasi, cuci otak sebagai bagian tahapan ini yang menyebabkan seseorang mendapatkan keyakinan yang sangat dalam bahwa dirinya siap mati dalam membela keyakinan dan janji pintu surga sudah menanti bila berani membela perjuangan, dan tahapan terakhir adalah berupa jihad yang disesatkan ( Golose:2008) dimana dalam konteks ini , merampok , membunuh, bahkan melakukan pemboman adalah hala dan sah dalam suatu perjuangan,

satu hal yang menajdi pertimbangan: ketika pelaku yang sedang bersembunyi didalam rumah , dalam keadaaan terkepung, mati adalah menajdi suatu harapan , mati adalah suatu cita-cita , jadi …. mati nggak masalah apalagi kalau Mati saat pengepungan terjadi pelaku sebelum mati sempat membawa penegak hukum yang menerobos ikut mati bersama sama.secara normatif siapapun pasti mengimpikan bisa masuk surga , hampir semua berlomba lomba dan mempersiapkan diri bisa masuk surga namun ketika dipersilahkan masuk surga lebih dahulu , tampaknya jarang ada yang mau masuk lebih dahulu.
Polisiiia
mereka anggota jaringan terorisme yang terkepung dalam rumah dibandung ini sudah siap mati ( karena memang itu cita-citanya ) maka ketika dibutuhkan waktu 7 jam untuk membuat lelah dan menurunkan mental pelaku oleh densus 88 maka tampaknya suatu saat bila ada pengepungan seperti ini lagi , tidak hanya 7 jam,,, tapi bila perlu 3samapi 5 hari dikepung dan diisolasi , asalkan pelaku bisa tertangkap hidup-hidup sehingga bisa menggungkap jaringan lain yang lebih luas
tidak mudah secara teknis , lebih mudah bila sekedar mengamati sambil duduk depan televisi, makan popcorn dan minum kopi panas, apalagi media televisi di Indonesia belum memahami bagaimana akibat pemberitaan media secara live telah membuat Mumbai menajdi demikian berdarah darah, tidakkah media tahu bahwa pelaku teror bisa saja menyalakan televisi atau nonton tv lewat hp yang mereka miliki untuk memantau situasi diluar lokasi pengepungan.

menggali kembali identitas Ke _Indonesiaan
menggali kembali identitas Ke _Indonesiaan