DARI MUMBAI KE BOSTON, SUATU HIKMAH UNTUK KESIAPAN DAN KEWASPADAAN BENCANA BAGI SEMUA PIHAK DI INDONESIA

Aksi bom Panci yang mengguncang Boston Marathon 2013 menyisakan suatu cerita yang tidak habis-habisnya bagi masyarakat Dunia, adalah bagaimana dukungan CCTV di suatu pertokoan sebagai bagian dalam Sistem Manajemen Keamanan suatu fasilitas umum menjadi demikian vital dalam mengungkap kasus kriminal, belum lagi kecepatan dan kecekatan bergerak otoritas penegak hukum di Boston secara terpadu antara penegak hukum lokal, negara bagian dan pemerintah federal saling bahu membahu melakukan pengejaran tersangka bom Panci, urusan penutupan dan blokade alat angkutan umum seperti bus dan layanan kereta api dari dan keluar kota Boston dengan mudah dilakukan , dukungan masyarakat diwujudkan dengan hampir tidak adanya berita televisi maupun internet yang menyebutkan adanya keberatan dan penolakan masyarakat terhadap penutupan fasilitas angkutan publik pasca ledakan bom sampai akhirnya pelaku tertangkap.
IMG_0791
Beberapa fenomena yang disebutkan diatas setidaknya dapat memberikan khasanah baru kepada masyarakat dan pemerintah Indonesia bahwa kejahatan terorisme terlepas dari isu apa yang menjadi latar belakang dan motivasinya adalah memerlukan keterpaduan saling bahu membahu dalam mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban nasional. Entah kebetulan atau tidak beberapa hari sebelum tragedi bom panci di Boston marathon terjadi , di beberapa tempat di Indonesia sempat diselenggarakan latihan bersama penaggulangan teror, seperti di kota Medan dan Kota padang, masyarakat Indonesia berkesempatan melihat dari dekat bagaimana kepiawaiaan para pengawal bangsa (TNI dan Polri serta jajaran lainnya ) bersama –sama beraksi melakukan upaya penanggulangan teror.
20130130-210932.jpg
Pada sebuah skenario latihan yang dilakukan di Kota Padang, serbuan unit lawan teror gabungan TNI dan Polri berhasil menggagalkan upaya penyanderaan dan pendudukan kantor Pajak Kota Padang dari cengkeraman kelompok teroris , dentuman bom, pecahan kaca dan letusan senjata api team gabungan penanggulangan Teror TNI dan Polri mengiringi keberhasilan membungkam perlawanan bersejata kelompok teroris. Format latihan bersama penaggulangan teror TNI dan Polri yang telah beberapa kali digelar dibeberapa tempat di Indonesia perlu mendapatkan apresiasi positif , bahwa upaya penaggulangan teror di Indonesia tidak bisa dilakukan hanya dengan teori-teori semata namun memerlukan latihan dan latihan terus menerus untuk mempertahankan profesionalisme kemampuan penaggulangan teror yang dimilki .
IMG_0701
Kembali belajar dari proses penanggkapan pelaku teror bom panci pada Boston Marathon adalah perlu adanya kesegeraan bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk merumuskan bagaimana standar reaksi yang dapat diberikan oleh pemerintah Indonesia yang tidak hanya terbatas kepada aksi TNI dan Polri semata namun seluruh komponen otoritas negara agar menemukan format baku dalam penanggulangan teror yang bisa saja terjadi di Indonesia, tragedi bom Panci Boston memberikan pelajaran bagaimana Kepolisian Boston ( Kepolisian Lokal ) bersama –sama petugas IMG_4750FBI ( pemerintahan federal ) didukung keterlibatan unit-unit National Guard ( Militer ) dibawah komando Walikota Boston dapat melakukan pembatasan dan bahkan penutupan terhadap fasilitas angkutan transportasi umum untuk mencegah pelarian pelaku teror Bom, dimana konsekuensi logis yang terjadi adalah : adanya keterlibatan pihak otoritas perhubungan dan transportasi publik untuk berperan dalam menyelenggarakan upaya blokade lewat penutupan trasportasi umum, belum lagi terlihat dalam beberapa tayangan televisi adanya peran aktif otoritas lainnya seperti unit layanan kesehatan masyarakat dengan dukungan kendaraan Ambulance dan unit Pemadam Kebakaran milik pemerintah kota tersebar disegala penjuru kota Boston bersama sama membantu upaya pencarian yang dilakukan oleh kepolisian , FBI dan National Guard,sedangkan dari udara dan darat dukungan peliputan lewat Helikopter dan mobil siaran milik pers yang secara real time membantu kepolisian menginformasikan situasi terkini secara live dari beberapa titik.
Harmonisasi kegiatan yang ditunjukkan oleh otoritas kota Boston inilah yang perlu menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia, ketika latihan bersama penaggulangan teror di Indonesia sementara ini baru sebatas menonjolkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki TNI dan Polri , bolehlah kelak dengan melakukan modifikasi terhadap skenario yang biasanya berkisar klasik saja menjadi suatu skenario yang lebih dinamis dimana upaya penanggulangan teror berupa aksi tembak menembak bukanlah menjadi menu utama latihan namun lebih kepada keterpaduan unsur –unsur pemerintahan lainnya yang juga tidak kalah vitalnya ditunjukkan dalam tragedi Boston Marathon.
Rumusan atas modifikasi skenario latihan yang biasanya “itu-itu “ saja dapat dilakukan dengan mengubah sedikit format latihan , bilamana biasanya didahului dengan adanya skenario perampokan atau penculikan dan diakhiri dengan aksi pembebasan sandera , suatu saat kelak dapatlah dirubah menjadi suatu skenario aksi pembebasan sandera yang dilanjutkan dengan bagaimana standar tindakan dalam upaya penutupan kota atau kawasan dengan melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, Kesehatan dan Pemadam Kebakaran bahkan juga PLN dan Gas Negara , apalagi dengan menggandeng ORARI atau RAPI, Organda , termasuk Wartawan didalamnya.
Urgensi latihan secara terpadu dan menyeluruh ini tentulah bukan suatu hal yang berlebihan, selain tragedi Boston Marathon tentunya kita masih ingat bagaimana kacaunya kota Mumbai di India ketika terjadi serangan teror berupa penyanderaan dan penembakan secara membabi buta, dari tragedi Mumbai kita ketahui akibat kelemahan koordinasi dan kurangnya pengalaman otoritas pemerintahan di Kota Mumbai drama kekejaman teror berubah menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan, ketika Team Black Cat sebagai satuan andalan lawan teror India didatangkan langsung dari ibu kota New Delhi, mereka harus berjuang mati-matian bukan melawan pelaku teror tapi justru kehabisan tenaga untuk lolos dari kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas dari bandara ke TKP, belum lagi akibat semangat wartawan yang tidak memiliki pengetahuan tentang taktik dan teknik dalam penaggulangan teror , dengan mengebu –gebu memburu live event report tanpa menyadari bahwa liputan yang dilakukan telah membocorkan strategi unit kepolisian dan Militer dalam menghadapi pelaku teror yang juga senantiasa memantau lewat televisi dari dalam hotel yang diduduki.
Berkaca dari kedua tragedi diatas inilah saatnya kordinasi diterjemahkan kedalam aksi nyata, tidak hanya dalam format penaggulangan teror seperti prolog diatas, namun pemerintah salah satunya dengan menggerakkan BNPB di daerah memberikan ruang dan kesempatan bilamana bencana yang terjadi ( domain tugas BNPB D) tidak hanya ketika natural dissater namun bisa juga berupa man made dissaster terjadi, bagaiman peran Polri, TNI, Satpol PP, PLN, PDAM, Kesehatan , DAMKAR, Dinas Sosial termasuk potensi masyarakat seperti Pramuka, Tagana, Ormas, Wartawan, ORARI dan pihak lain yang ada untuk ikut andil dalam skenario penanggulangan bencana alam maupun akibat ulah manusia sesuai tugas , kewenangan dan kemampuan normatif maupun dalam keadaan darurat yang dapat dilakukan, mari duduk bersama , rumuskan bersama dan latihkan bersama, ketika your flag is my flag too menjadi jawaban pamungkas ketika untung tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak, adalah adanya kesiapan , keterpaduan dan latihan terpadu menyeluruh semua pihaklah yang dapat memberikan suatu arti yang berbeda.