PEER SUPPORT GROUPS & PERASAAN PENYIMPANGAN

Manakala secata teoritis sepertinya pertemuan yang dilakukan dengan kelompok yang terkena dampak sebuah kejahatan atau pelanggaran akan membantu sang korban untuk kembali merasa normal, kenyataannya peer support group (PSG) bisa saja sama sekali tidak memiliki fungsi tersebut. Walaupun tidak ada penelitian di masa lalu yang secara langsung menguji dampak dari partisipasi PSG terhadap perasaan korban tentang penyimpangan, ada beberapa spekulasi tentang bagaimana perasaan semacam itu bisa dipengaruhi, dan ada beberapa bukti yang berlawanan dan tidak langsung dari kajian-kajian tentang PSG. Berikut ini kami akan membahas beberapa masalah dalam PSG yang bisa menyebabkan anggota PSG merasa bertambah asing daripada sebelumnya, dan akhirnya kembali kepada bukti empiris yang ada, termasuk beberapa data awal kami sendiri.

Hambatan-hambatan terhadap Pengurangan Penyimpangan

Dalam interaksi social biasa, manakala korban menggambarkan kesedihan atau perasaan-perasaan yang terkait maka mereka cenderung ditolak oleh yang lain (….). Coates dan Peterseon (1982) menyatakan bahwa norma-norma dalam masyarakat kita sepertinya melarang kita menggambarkan ketidakbahagiaan kita. Ketika orang-orang dating ke PSG, mereka bisa saja menemukan kesulitan untuk meninggalkan aturan-aturan ini yang menyangkut penggambaran emosional diri yang tepat. Wortman dan Dunkel-Schetter (1979) mengkaji ulang bukti-bukti yang menyatakan bahwa ketika korban bertemu di ruang tunggu rumah sakit, mereka kelihatannya mempertahankan hanya komunikasi yang biasa seperti “Bagaimana kabar anda?—Baik! Jelas, jika level komunikasi interaksi yang sepele ini harus terjadi dalam PSG, maka korban yang sebenarnya bisa saja mengalami reaksi negative yang sangat sama akan tidak pernah menemukan bahwa itu lah masalahnya. Konsekuensinya, korban bisa saja merasa lebih menyimpang setelah berpartisipasi dalam kelompok tersebut daripada yang mereka rasakan sebelumnya.

Jelas, maka akan sulit bagi korban untuk belajar bahwa mereka berbagi perasaan yang sama, dan sehingga bisa menyediakan validasi yang saling menguntungkan, jika mereka tidak mengungkapkan perasaan-perasaan tersebut. Untuk mempromosikan validasi tersebut, maka jelas perlu untuk memiliki suasana atau lingkungan yang nyaman dan mendukung dimana orang-orang tersebut menyadari bahwa adalah suatu hal yang bisa diterima dan bahkan diinginkan untuk membahas masalah mereka dan perasaan-perasaan negative. Tetapi suasana seperti itu bisa saja tidak begitu sulit diciptakan, karena ada beberapa indikasi bahwa penderitaan yang sama akan membawa manusia menjadi lebih dekat.

Latane, Eckman dan Joy (1966) membandingkan reaksi pasangan subyek dimana tidak ada seorangpun, salah satu orang atau kedua anggota menerima serangkaian sengatan listrik yang menyakitkan. Mereka menemukan bahwa ketika subyek mengalami pengalaman atau perlakuan tersebut bersama-sama, mereka mengajukan pertanyaan yang lebih banyak dan membuat pernyataan pribadi yang lebih banyak untuk satu sama lain, dan penilai yang lebih baik terhadap level gangguan patner mereka masing-masing, dan lebih saling menyukai. Penyidik-penyidik ini khususnya mengatakan bahwa saling berbagi penderitaan yang sama bisa menjadi sebuah pendorong, yang membebaskan orang-orang dari norma-norma social biasa yang meminta kita untuk menutup mulut, dan memungkin orang-orang tersebut untuk lebih siap mengungkapkan perasaan-perasaan negative mereka satu sama lain.

Bukti-bukti lain menyatakan bahwa orang-orang yang saling berbagi perasaan-perasaan depresif kelihatannya lebih saling menyukai. Beberapa bukti ini agak tidak langsung. Sebagai contoh, manakala mereka tidak mengukur kesukaan, Golin, Hartman, Klatt, Munz, dan Wolfgang (1997) menemukan bahwa orang-orang yang depressi cenderung lebih berempati denga model yang lebih sedih daripada orang-orang yang tidak depressi. Dalam sebuah kajian yang dilakukan Hammen dan Krantz (1976), para peneliti kaget ketika menemukan bahwa mahasiswa yang depressi sangat lebih tertarik untuk menjadi psikolog klinis dibandingkan mahasiswa yang tidak depressi. Barangkali minat yang lebih besar terhadap karir dalam bidang klinis ini menunjukkan keinginan yang lebih besar sebagai bagian dari orang-orang yang depressi untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki masalah yang sama dengan masalah mereka.

Bukti yang lebih langsung untuk proposisi ini bahwa orang-orang yang saling berbagi perasaan depresif lebih saling menyukai berasal dari sebuah eksperiman yang dilaporkan oleh Coates dan Peterson (1982). Dalam kajian ini, tidak seperti orang-orang yang tidak dpressi, subyek yang depressi paling menikmati mengobrol dengan orang lain yang juga kelihatan tidak bahagia dan setidaknya menikmati percakapan dengan siswa yang kelihatan gembira. Konsisten dengan hasil-hasil ini, Funabiki, Bologna, Pepping & FitzGerald (1980) menemukan bahwa mahasiswa yang depressi agak lebih cenderung melaporkan bahwa mereka ingin bersama dengan orang-orang depressi lain ketika mereka merasa kecewa. Jelas, bahkan orang-orang yang tidak bahagia memiliki beberapa kedekatan satu sama lainnya, bukan berarti bahwa mereka akan merasa nyaman dengan mendiskusikan masalah mereka dan perasaan mereka satu sama lain. Namun, bukti ini menyatakan bahwa akan agak mudah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung di dalam kelompok orang-orang yang saling berbagi kesedihan yang sama.
Walaupun korban-korban biasanya bisa saja berkeinginan untuk berbagi perasaan mereka, hal ini tidak menjamin bahwa mereka akan selalu menemukan validasi untuk perasaan-perasaan tersebut. Ketika banyak korban melaporkan adanya beberapa dysphoria (Silver & Wortman, 1980), sepertinya tidak semua korban akan mengalami intensitas stress yang sama atau gejala terkait yang sama. Konsekuensinya, kemungkinan yang timbul bahwa beberapa anggota PSG berada dalam keadaan emosi yang sangat berbeda dari lainnya. Beberapa anggota bisa saja lebih kecewa dan sedih, dan walaupun korban kadang-kadang bisa saja mampu menghindarkan perbandingan social yang tidak menyenangkan (Taylor dkk, 1983), yang bisa sangat sulit untuk dilakukan dalam PSG. Juga para anggota bisa saja tidak menyukai yang lain yang tidak menggambarkan perasaan yang sama dengan perasaan mereka sendiri (Byrne, 1971), atau mayoritas koalisi bisa saja membentuk kesatuan yang tidak menyukai kelompok yang menyimpang (Allen, 1975; Scharter, 1952). Akibatnya, beberapa peserta bisa menemukan validasi di kelompok ini, tetapi peserta lain bisa saja merasa lebih asing dan aneh daripada sebelumnya.

Walaupun bahkan korban yang menemukan validasi di dalam kelompok bisa saja menemukan bahwa mereka hanya saling bertukang satu jenis indentitas yang menyimpang dengan lainnya. Individu seperti ini bisa saja merasa bahwa mereka memberikan respon dengan cara yang tepat, tetapi akhirnya melihat diri mereka sebagai bagian dari minoritas yang tertindas atau subkultur yang menyimpang (Fine & Kleinman, 1979). Proposisi yang standard dari banyak teori-teori sosiologi tentang penyimpangan adalah bahwa indentitas dan perilaku yang menyimpang dari seorang individu akan diperkuat dengan kontak yang diperluas dengan teman-teman yang menyimpang (Harris & Hill, 1982). Manakala identitas menyimpang semacam ini bisa menjadi dasar untuk tindakan kolektif yang efektif dan positif (……………………), maka hal ini bisa juga menimbulkan emosi yang cukup besar (Goffman, 1963) and memperkuat pandangan korban tentang diri mereka sebagai seseorang yang lebih asing atau di luar dari kebanyakan anggota masyarakat.

Apakah masalah-masalah yang dibahas ini mencegah korban untuk menemukan validasi atas perasaan-perasaan mereka dalam PSG, atau bahkan yang lebih buruknya lagi, membuat mereka lebih merasa menyimpang? Kami akan mempertimbangkan data empiris berikut.

Bukti-bukti Empiris

Kajian-kajian yang menyelidiki efek PSG terhadap anggotanya umumnya agak jarang, dan penelitian yang bahkan berkaitan secara tidak langsung dengan perasaan anggotanya tentang penyimpangan bahkan lebih sulit ditemukan. Tetapi ada setidaknya beberapa laporan empiris yang relevan. Sebagai contoh, Ablon (1981) mendatangi beberapa pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan social dari Little People of America, sebuah organisasi membantu diri sendiri bagi orang-orang kerdil. Berdasarkan pengamatannya dan diskusinya dengan anggota organisasi tersebut, Ablon menyimpulkan bahwa partisipasi dalam kelompok agaknya memiliki efek yang bercampur tetapi pada akhirnya menguntungkan terhadap persepsi diri pesertanya. Di sisi lain, Ablon melaporkan interaksi dengan manusia kerdil lain memaksa para orang kerdil ini memandang diri mereka sebagai orang kerdil, untuk menghilangkan halusinasi bahwa mereka adalah atau bisa menjadi orang-orang dengan ukuran normal. Realisasi sepenuhnya tentang penyimpangan fisik mereka memang tidak nyaman bagi banyak manusia kerdil, dan sangat tidak bisa dihadapi beberapa manusia kerdil. Di sisi lain, walaupun sesuai dengan keterangan Ablon, berinteraksi dengan manusia kerdil lainnya juga akan membantu manusia kerdil untuk melihat identitas kerdil itu sebagai sesuatu yang tidak buruk, tidak terstigmatisasi dan tidak menyimpang. Jadi partisipasi di dalam kelompok dan kegiatan di dalam kelompok sepertinya mengarahkan anggota kepada identitas diri yang lebih realistis tetapi juga lebih positif dan bisa diterima. Para anggota kelompok ini mengakui bahwa mereka manusia kerdil, tetapi tidak lagi merasa bahwa hal itu sebagai sesuatu yang aneh atau asing. Sayangnya, sebagaimana hal ini juga terjadi dengan banyak kajian tentang PSG, kesimpulan Ablon didasarkan hanya kepada pengamatannya yang naturalistic dan berpotensi bias.

McGuire dan Gottlieb (1979) mencoba menguji lebih secara langsung dan sistematis alasan-alasan teoritis Schachter (1959) dalam situasi PSG. Mereka mengkajiulang penelitian yang cukup banyak yang menyoroti stress yang bisa ditimbulkan oleh seorang bayi kepada orangtuanya, dan melakukan sebuah kajian dimana orangtua baru ditugas secara kurang atau lebih acak untuk berpartisipasi dalam PSG atau kondisi control. Mereka beralasan bahwa jika orangtua di dalam PSG membandingkan perasaan mereka dan keyakinan mereka tentang keahlian mereka sebagai orangtua. Namun, mereka tidak menemukan perbedaan apapun antara peserta PSG dan yang bukan peserta tentang tindakan atau langkah-langkah mereka dalam mengasuh anak. Walaupun demikian penulis ini mengatakan bahwa tindakan/ langkah mereka memang tidak memadai, dan berdasarkan pengamatan mereka tentang pertemuan kelompok, para peserta benar-benar saling berbagi perasaan tentang bagaimana mengasuh anak dan benar-benar menggunakannnya satu sama lain sebagai sebuah standar untuk menetapkan ketepatan atau kecocokan respon-respon mereka. Tindakan-tindakan atau langkah-langkah itu juga gagal menunjukkan banyak perbedaan karena orangtua-orangtua baru tersebut di dalam kajian ini lebih senang dengan bertambahnya anggota keluarga mereka. Mereka bisa saja tidak membutuhkan banyak hal dalam validasi karena mereka sebelumnya tidak mengalami perasaan negative yang sangat menegangkan.

Barret (1978) mengkaji efek partisipasi PSG terhadap populasi yang lebih stress, yaitu para janda. Selama 4 bulan setelah para janda ini menyelesaikan keterlibatan mereka dengan PSG, Barret mengirim kuesioner kepada mereka menyangkut perubahan kehidupan yang mereka alami sebagai akibat dari keikutsertaan mereka dalam PSG. Sebagian besar para janda ini melaporkan perubahan yang positif dalam hal kesehatan mental mereka, dan perubahan yang paling banyak disebutkan adalah “perasaan yang berkurang tentang pengalaman yang unik.” Maka walaupun Barret (1978) tidak secara khusus mengukur perasaan sang korban tentang penyimpangan, kelihatannya bahwa banyak janda yang merasa normal dan tervalidasi akibat keterlibatan mereka dalam PSG.

Manakala bukti yang dikajiulang di sini jelas sangat terbatas, adalah suatu hal yang konsisten bahwa para korban akan merasa normal ketika mereka berinteraksi dengan korban lain. Pengamatan peneliti dan peserta sendiri menunjukkan bahwa anggota PSG merasa sedikit tidak asing atau unik lagi setelah mereka memiliki kesempatan untuk bertemu dan membandingkan pengalaman mereka dengan orang lain yang sama dengan mereka. Walaupun demikian, karena adanya keharusan untuk berhati-hati dalam menerima hasil-hasil ini, dan fakta bahwa tidak seorangpun yang pernah secara langsung mengukur penyimpangan diri yang diterima di kalangan korban dalam PSG, kesimpulan-kesimpulan ini harus bersifat sementara. Dalam upaya untuk lebih memperjelas efek dari PSG terhadap perasaan korban tentang penyimpangan dan depressi, kami melakukan sebuah kajian tentang PSG kami sendiri untuk korban perkosaan. Ketika kajian ini akhirnya tidak begitu informative sebagaimana yang kami harapkan, maka hasil-hasilnya mendukung hipotesis bahwa sebagian besar korban benar-benar merasa kurang menyimpang ketika mereka bertemu dengan korban lainnya.