ANALISIS KASUS BLOWFISH AMPERA, JAKARTA SELATAN
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seringnya terjadinya konflik di indonesia dari jaman pra kemerdekaan sampai pada jaman pasca reformasi adalah merupakan suatu yang wajar terjadi. Dengan melihat sejarah berdirinya negara ini yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, ras, mata pencaharian yang berbeda dan didukung oleh letak indonesia yang sangat strategis menimbulkan bermacam permasalahan yang menyebabkan konflik dan tak luput juga dipengaruhi oleh faktor dari luar dan dalam yang menginkan posisi di negeri tercinta ini. Hal ini merupakan ciri dari suatu negara yang sedang berkembang yang selalu diwarnai dengan berbagai konflik yang terjadi.
Konflik sosial pada hakekatnya berawal dari pemahaman individu terhadap suatu permasalahan. Mayoritas penyebabnya adalah karena permasalahan ekonomi, cara pandang yang selanjutnya melahirkan suasana kebathinan pembuatan keputusan individu yang pada saat dikomunikasikan berdampak terhadap kondisi hubungan atau interaksi individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok sampai dengan individu atau kelompok dengan negara. . Permasalahan konflik sosial dapat dikaji dan dimaknai dari perspektif berdasarkan faktor yang ada dari dalam diri setiap individu, kondisi hubungan antar individu, kondisi hubungan individu dengan kelompok, hubungan kelompok dengan kelompok, individu atau kelompok dengan penguasa (perspektif psychologis, sosiologis / anthropologis,manajemen dan hukum).
Berdasarkan definisinya konflik menurut pendapat dari “pace & faules, 1994:249” konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami. Sedangkan definisi konflik social. Konflik mengandung banyak penafsiran seperti : pertentangan, permusuhan, benturan, kekerasan, ketegangan yg konotasinya negatif konflik memiliki dua sisi pengertian : 1) positif, jika konflik mendorong ke arah terjadinya perubahan yg menuju ke arah perbaikan; 2) negatif, jika konflik mengarah pada perbedaan pendapat yg disertai dg pertentangan utk menyingkirkan kelompok yg lain.
Sebagai contoh seperti bentrokan antara dua pihak yang terjadi diclub blowfish, city plaza, komleks wisma mulia, jakarta selatan di klub blowfish. Sebagai akibatnya dari konflik tersebut , sekitar club blowfish mengalami rusak berat, kaca-kaca pecah dan banyak property yang berserakan. Tidak hanya kerugian property tetapi terdapat 3 orang korban dengan 1 orang diantaranya meninggal dunia, korban tewas bernama m soleh alias sony (27) yang beralamat di titin indah blok l 4, bekasi, sedangkan korban luka berat atas nama boy (40) dan nuh (35).
B. Permasalahan
1. Pengatahuan tentang konflik dan penyebab timbulnya konflik.
2. Anailsis kasus Blowfish di Jalan ampera, Jakarta Selatan.

II. PEMBAHASAN

A. PENGATAHUAN TENTANG KONFLIK DAN PENYEBAB TIMBULNYA KONFLIK
Konflik adalah sebuah pertikaian atau perselisihan yang terjadi pada individu atau kelompok masyarakat dengan individu atau kelompok lainnya. Konflik ada beberapa macam, salah satunya menurut Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
1. konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
2. konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
3. konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
4. konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
Faktor penyebab konflik antara lain :
a. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
b. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.
d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Menurut Karl Mark, sejarah umat manusia ditentukan oleh materi/benda dalam bentuk alat produksi. Alat produksi ini menguasai masyarakat atau dengan kata lain bahwa kehidupan manusia sangat tergantung dengan faktor ekonomi. Sehingga muncul teori karl mark yang dikenal dengan teori determisasi ekonomi yang menjelaskan bahwa konflik terjadi karena faktor ekonomi, yang dimaksud dengan faktor ekonomi adalah penguasaan terhadap alat produksi .
Sedangkan konflik dapat berkembang karena berbagai sebab, antara lain sebagai berikut :
• Batasan pekerjaan yang tidak jelas
• Hambatan komunikasi
• Tekanan waktu
• Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal
• Pertikaian antar pribadi
• Perbedaan status
• Harapan yang tidak terwujud

B. ANAILISIS KASUS BLOWFISH
Salah satu teori tentang konflik adalah marx (1818-1883), marx adalah salah satu tokoh yang pemikirannya mewarnai sangat jelas dalam perkembangan ilmu social. Pemikiran marx berangkat dari filsafat dialeka hegel. Sebagaimana yang dijelaskan cambell dalam tujuh teori sosial (1994), bahwa marx menciptakan trasisi materialism historis yang menjelaskan proses dialektika social masyarakat, penghancuran dan penguasaan secara bergilir kekuatankekuatan ekonomis dari masyarakat komunis primitive kepada feodalisme berlanjut kekapitalisme dan terakhir adalah masyarakat komunis. Berkaitan dengan konflik, marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendifinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat pasa abad ke 19 di eropa dimana ia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal dan kelas pekerja miskin.
Kasus Blowfish yang terjadi di Ampera pada dasarnya diawali dari permasalahan pribadi, yaitu dimana ada pengunjung klub yang cukup elite di Plaza City, Jakarta Selatan yang dipukul dan dikeroyok oleh petugas keamanan klub tersebut. Dari permasalahan tersebut meluas dan berkembang menjadi konflik yang terjadi antar suku, yaitu suku ambon dan flores selain itu kemungkinan dari permasalahan tersebut diakibatkan karena perebutan wilayah kekuasaan oleh kelompok-kelompok tersebut . Dalam insiden tersebut terdapat korban tewas sebanyak tiga orang yang diakibatkan karena terluka akibat sabetan senjata tajam, tusukan panah dan tertembak senjata api. Kasus pertikaian tersebut tidak saja terjadi pada awal bermulanya keributan, tetapi berlajut sampat pada persidangan dan paska dilakukannya persidangan. Yang terjadi tidak hanya tindakan saling menyerang antar kelompok tetapi juga disertai perusakan terhadap fasilitas umum yang ada, dan timbul tindakan anarkis yang menggangu ketertiban masyarakat disekitarnya.
Dalam kasus tersebut sesuai dengan teori konflik Karl Mark terdapat kelompok tertentu yang ingin mendominasi terhadap kelompok yang lain. Dapat kita lihat dalam hal ini dengan menggunakan cara kekerasan kedua kelompok saling menyerang yang tujuan utamanya adalah untuk menundukkan lawan dari kelompok tersebut. Pada dasarnya Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Melihat pada kasus Ampera ini konflik yang terjadi semakin tidak terkendali sehingga muncullah penyimpangan yang terjadi “deviation”.
Dalam hal ini penyimpangan yang terjadi bermula terjadi dari tindakan saling menyerang yang semakin brutal, yang sampai mengakibatkan korban jiwa. Melihat pad teori Karl Mark yang menyampaikan bahwa konflik pada dasarnya adalah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan perubahan sosial, masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya yang memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial. Apabila tindakan tersebut sudah tidak terkendali maka akan berkembang dan muncullah suatu penyimpangan perilaku yang dalam hal ini dikenal sebagai deviation, yaitu tingkah laku yang dianggap oleh sejumlah besar orang sebagai sesuatu yang tercela dan diluar batas-batas toleransi penyimpangan (James W. Vander Zanden,1979). Batas toleransi yang telah dilanggar karena tindakan yang terjadi menimbulkan keresahan dalam masyarakat dan selain itu menurut hukum yang berlaku tindakan tersebut telah masuk dalam unsur pidana yang dengan jelas disebutkan dapat dikenakan sanksi hukum pidana yang berlaku.

III. KESIMPULAN

Bahwa pada dasarnya konflik timbul karena adanya pihak yang menguasai dan pihak yang dikuasai dalam hal ini pihak yang menguasai biasanya disebut sebagai pihak yang menguasai alat produksi sedangkan pihak yang dikuasai adalah para pekerja/buruh. Permasalahan tersebut dipicu karena adanya permasalahan dalam perekonomian yang mana salah satu pihak ingin menguasai mata pencaharian pihak lain. Hal ini dapat terjadi seperti pertikaian dua kelompok yang saling menyerang untuk merebut wilayah kekuasaan kelompok lainnya.
Melihat kasus blowfish, seperti yang telah disidik kasusnya oleh pihak Kepolisian bahwa kasus tersebut terdapat indikasi perebutan wilayah kekuasaan oleh kelompok-kelompok preman yang walaupun pada mulanya berawal dari kasus pribadi kemudian meluas menjadi masalah besar yang melibatkan kelompok dalam jumlah besar dan bahkan sampai menelan korban jiwa. Dalam hal ini didapat pengertian seperti yang dikemukakan oleh Karl Mark :
a) Semakin tidak merata distribusi sumberdaya atau kekuasaan yang jumlahnya terbatas maka akan semakin tinggi tingkat konflik.
b) Semakin besar kesadaran kaum subordinat akan kepentingan kolektifnya. semakin baik atau terorganisasi desatuan kelompok maka semakin tinggi kesadaran kolektif. Hal biasanya terjadi kalau ada tokoh yang bisa menyatukan mereka, tokoh ini adalah pemimpin yang dapat menyebarkan ideologi kepada kelompoknya agar mereka semakin sadar akan penderitaannya menjadi marah sehingga dapat bersatu dalam kolktivitasnya.
c) Apabila kesadaran kelompok semakin tinggi dengan tingkat emosionalnya yang “marah” dan lebih terorganisasi dengan baik maka semakin besar kemungkinan mereka untuk mengadakan konflik langsung dengankelompok dominan.
d) Semakin tinggi tingkat konflik semakin besar polarisasi antara kelompok subordinat dan ordinat dalam sebuah sistem, semakin terpolarisasi antar kedua kelompok tersebut semakin tinggi tingkat kekerasan yang ditimbulkan oleh konflik.
e) Semakin tinggi tingkat kekerasan semakin besar perubahan strutural yang terjadi dana akan terjadi redistribusi sumberdaya yang terbatas tersebut

DAFTAR PUSTAKA

1. Materi kuliah konflik
2. http://faisal14.wordpress.com/2010/02/01/contoh-makalah-peran-manajer-dalam-mengelola-konflik-organisasi/
3. http://www.indolawcenter.com/index.php?option=com_content&view=article&id=225%3Apolisi-pastikan-bentrokan-ampera-terkait-blowfish&catid=181
4. http://nasional.kompas.com/read/2010/04/04/1305511/Motif.Bentrokan.di.Blowfish.Perebutan.Lahan.Keamanan