OPTIMALISASI MANFAAT SITUS JEJARING SOSIAL DALAM MEWUJUDKAN KAMSELTIBCAR LANTAS OLEH SAT LANTAS POLRES KEBUMEN

I. Latar Belakang Masalah
Perilaku berlalu lintas suatu masyarakat dapat dikatakan mewakili tingkat penghargaan masyarakat terhadap norma dan lembaga Hukum, Keluhuran budi pekerti, pola komunikasi dan hubungan sosial dalam suatu masyarakat yang bersangkutan.
Perilaku berlalu lintas memberikan pengaruh terhadap tingkat Keamanan , keselamatan, Ketertiban dan kelancaran lalu lintas, ( KAMSELTIBCAR LANTAS) sebagai sebuah Konsep , Kamseltibcar lantas merupakan indikator terhadap 2 permasalahan pokok Lalu lintas yaitu Pelanggaran dan kecelakaan, Data yang dihinpum oleh PBB menunjukkan bahwa jumlah kerugian material maupun jiwa manusia akibat timbulnya suatu kecelakaan lalu lintas dalam setahun adalah melebihi jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat konflik besenjata.
Di beberapa negara ketika perilaku berlalu lintas menjadi perhatian dan masalah bersama antara Pemerintah dan masyarakat , maka tingkat pelanggran lalu lintas menjadi sedemikian rendah dan artinya jumlah kecelakaan lalu lintas juga menjadi sangat rendah,pemerintah dan masyarakat secara sinergi saling bekerja sama untuk mencegah segenap potensi yang memungkinkan adanya pelanggaran yang dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas terjadi, Sinergitas yang terjalin sedemikian erat disebabkan karena adanya pemahaman dikalangan masyarakat bahwa perilaku berlalu lintas memberikan pengaruh kepad jumlah pelanggran dan kecelakaan yang terjadi dalam suatu kurun waktu.
Masyarakat di suatu negara yang dikenal sedemikian tertib , patuh , sopan dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada sesama pengguna jalan adalah bukan suatu fenomena yang terjadi secara tiba tiba, dibutuhkan keterbukaan dan ketekunan dari stake holder masalah lalu lintas dan keselamatan di jalan untuk memberikan bimbingan , pengetahuan dan informasi secara kontinu kepada pemakai jalan.
Diseminasi informasi lalu lintas , pendidikan dan pelatihan safety driving dan pemberdayaan organisasi swadaya masyarakat terhadap upaya mewujudkan KAMSELTIBCAR LANTAS, termasuk mengembangkan organisasi nirlaba yang khusus memberikan perhatian kepad korban kecelakaandilakukan dengan berbagai cara secara langsung antara petugas dengan pengguna jalan, sosialisasi kepada calon pengemudi muda disekolah sekolah umu, kampanye keselamatan mengemudi serta dengan kehadiran petugas pada pertemuan asosiasi pencinta tertib berlalu lintas termasuk kelompok korban kecelakaan lalu lintas.
Salah satu media yang kerap digunakan untuk memberikan informasi, pendidikan, pengetahuan dan komunikasi antara penanggung jawab masalah kamseltibcar Lantas adalah dengan penggunaan situs jejaring Sosial di Internet.
Fenomena pemanfaatan jejaring sosial Internet sebagai corong dalam menyampaikan pesan Kamseltibcar lantas juga dilakukan oleh jajaran Sat lantas Polres Kebumen, tercatat bahwa untuk pertama kali Sat Lantas Polres kebumen mulai menggunakan media jejaring sosial “ facebook” pada tahun 2008 dengan membuat sebuah akun dengan nama “ fanpage Satlantas Polres kebumen” yang sampai saat ini telah memiliki anggota lebih dari 8765 anggota ( maret 2012)
Berangkat dari fenomena tersebut penulis ingin mengetahui mengapa pemanfaatan Situs jejaring Sosial seperti “ Facebook” ingin dioptimalkan oleh jajaran Sat lantas Polres Kebumen untuk mewujudkan Kamseltibcar lantas, adapun judul yang diangkat adalah “OPTIMALISASI MANFAAT SITUS JEJARING SOSIAL “FACEBOOK” DALAM MEWUJUDKAN KAMSELTIBCAR LANTAS OLEH SAT LANTAS POLRES KEBUMEN”.
II. Permasalahan Penelitian
Pemanfaatan situs jejaring sosial telah digunakan semenjak Tahun 2008, tepatnya pada masa kepemimpinan AKP. Denny Haryanto selaku kasat lantas, kemudian ketika Grand Strategy Polri dalam kaitan Reformasi Birokrasi Polri memasuki fase kedua yaitu Partnership / kemitraan, penggunaan jejaring sosial “facebook” semakin gencar , bahkan pada tahun 2009 selain facebook yang sudah ada Sat lantas Polres kebumen mulai menggunakan fasilitas Blog untuk lebih fokus menjalin komunikasi dengan masyarakat khususnya terkait pertanyaan masyarakat maupun informasi yang belum mampu diakomodasi oleh situs jejaring sosial “ Facebook “. Intensifikasi penggunaan media jejaring sosial facebook juga menular kepada jajaran lalulintas di beberapa Polres tetangga, Penelitian yang akan dilakukan ini adalah untuk mengangkat upaya upaya Sat lantas Polres Kebumen dalam mengoptimalkan peran Situs jejaring sosial “ facebook” memberikan informasi dan mendidik masyarakat kebumen mewujudkan Kamseltibcar lantas.
III. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana pemanfaatan Jejaring sosial oleh Sat lantas Polres Kebumen selama ini ?
b. Strategi pemanfaatan seperti apa yang sebaiknya diterapkan dalam jejaring sosial oleh Satlantas Polres Kebumen untuk mewujudkan kamseltibcar Lantas ?
IV. Hipotesa
Pemanfaatan situs jejaring sosial oleh Satlantas Polers Kebumen yang berjalan selama ini belum optimal, khususnya dalam memberikan informasi terkait SP2HP laka Lantas, Mekanisme Tilang, Pembuatan dan Perpanjangan SIM, Informasi keselamatan mengemudi, dan Dinamika lalu Lintas di wilayah Hukum Polres Kebumen, dimana kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor Lingkungan dan Instrumental yang melingkupi dinamika organisasi Satlantas Polres Kebumen.

V. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengoptimalkan manfaat jejaring sosial oleh Satlantas Polres Kebumen dalam mewujudkan Kamseltibcar Lantas.
b. Manfaat teoritis dari penelitian tersebut adalah untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan terutama ilmu kepolisian berdasarkan hasil penelitian serta memberikan sumbangan konseptual dan pemikiran tentang pemanfaatan Situs Jejaring Sosial dalam mewujudkan Kamseltibcar lantas oleh Satlantas polres Kebumen.
c. Manfaat Praktis adalah untuk memberikan rekomendasi dan kontribusi pemikiran untuk menyempurnakan kebijakan yang tepat kepada instansi Polri di tempat lain dalam mengoptimalkan manfaat Situs jejaring Sosial seperti yang dilakukan oleh Sat Lantas Polres kebumen, sehingga reformasi Birokrasi Polri yang mensyaratkan adanya transparansi dan akuntabilitas dapat diwujudkan.

VI. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu pendekatan melalui analisis terhadap gejala-gejala sosial dan budaya masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku umum dianalisis dengan menggunakan teori-teori yang obyektif (Suparlan, 1994: 6).
Dengan pendekatan kualitatif ini diharapkan penulis dapat memberikan gambaran terhadap pemanfaatn Situs jejaring sosial oleh Satlantas Polres Kebumen Selain itu, pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Dalam penelitian kualitatif, kita tidak memulai dengan sebuah teori untuk menguji atau membuktikan. Sebaliknya, sesuai dengan model induktif pemikiran, sebuah teori dapat muncul selama pengumpulan data dan tahap-tahap analisis penelitian atau akan digunakan dalam proses penelitian sebagai dasar perbandingan dengan teori lain (Creswell, 2002:6). Tentang pendekatan kualitatif Parsudi Suparlan mengemukakan bahwa :
Sasaran kajiannya adalah pola-pola yang berlaku yang merupakan prinsip-prinsip yang secara umum dan mendasar berlaku dan menyolok berdasarkan atas perwujudan dari gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia. Pendekatan kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia atau pola-polanya (Suparlan, 1997: 6).
Dalam penelitian kualitatif yang dilakukan ini, digunakan metode penelitian deskriptif, yaitu suatu metode penelitian dengan cara mengemukakan gambaran tentang masalah yang diteliti berupa aktifitas pemanfaatan Situs jejaring Sosial oleh Satlantas Polres Kebumen guna mewujudkan Kamseltibcar lantas sesuai dengan fakta-fakta yang terkumpul, kemudian dianalisis secara ilmiah untuk mengambil suatu kesimpulan.

VII. Sumber Data, Pengumpulan Data, dan Analisa Data
Sumber informasi dalam penelitian ini, diperoleh dari hasil penelitian lapangan secara langsung dan melakukan pengamatan langsung dan wawancara mendalam dengan informan. Sedangkan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan mempelajari buku-buku/literatur, referensi, majalah, dokumen, artikel, internet dan tulisan para sarjana yang berhubungan dengan penelitian ini. Dalam penelitian ini yang di jadikan informan adalah :
a. Kapolres Kebumen
b. Kabag Ops Polres Kebumen
c. Kesat lantas Polres kebumen
d. Jajaran Perwira bidang operasional dan Pembinaan Polres kebumen
e. Ka. Unit Regident, Laka lantas, Dikyasa, Patroli, dan Pembinaan operasi
f. Ba. Urusan SIM, STNK, BPKB dan cek fisik Sat lantas Polres
g. Personil Sat lantas Polres kebumen
h. Pemohon SIM, Pembayar pajak, Korban dan Tersangka laka lantas
i. Masyarakat ( Pendidikan, Profesi Awak kendaraan, klub Otomotif)
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tehnik pengumpulan data berupa pengamatan (Observation), wawancara (Interview), dan penelitian Dokumen (Document Research). Adapaun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif melalui reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.

VIII. Kepustakaan
Kepustakaan Penelitian
Kepustakaan Teori dan Konseptual
a. STOP-SIT (Segmentasi,Targeting,Objective,Positioning,Sequence Of Tools, Itegration,Tools)
Menurut Ilham Prisgunanto (Prisgunanto:2006)pisau analisa data kualitatif cenderung menggunakan Paradigma Konstruktivistik, sehingga kelebihan dalam analisa menggunakan teori STOP-SIT lebih banyak digunakan dalam mengukur strategi dan taktik dari marketing public realtions yang ada, hal ini dimungkinkan karena adanya kedudukan Positioning perusahaan dalam analisis ini walaupun bukan patokan, tetapi keputusan inilah yang membuat analisis ini lebih dipilih oleh kalangan Public realtions.
Hasil analisis dapat dilakukan secara dua tahap, yakni analisis dokumen perusahaan dan wawancara, namun analisis yang memiliki paradigma Konstruktivistik ( mengikuti pola berfikir dan tingkah laku manusia atau obyek penelitian) yang akan menjadidata primer adalah analisis wawancara ( depth interview).
Analisis menggunakan beberapa narasumber yang dianggap kredibel dan kompeten terhadap temuan –temuan strategi dan taktik marketing yang dilakukan perusahaan, biasanya yang menjadi narasumber adalah executive director ( board of direector), General managers, managers of public relations dan marketing manager.
b. TUNED IN STRATEGY.
Adalah 6 langkah sederhana untuk menciptakan produk atau jasa terobosan yang dibeli orang dengan senang hati karena mampu menyelesaikan persoalan mereka, Craig Stull, Phill Myers dan david meerman Scott memberikan penjelan tentang strategy “ Tuned In “ ini kedalam langkah –langkah yang terdiri dari :
a. Temukan persolan yang tak terpecahkan- bagaiman kita mengethaui pasar dan produk sasaran kita.
b. Pahami personality Pembeli.
c. Ukurlah Dampaknya.
d. Ciptakan pengalaman terobosan.
e. Artikulasikan gagasan hebat.
f. Bangunlah Koneksi yang autentik.
c. FIXING THE BROKEN WINDOW
Fixing The broken Window atau memperbaiki jendela rusak adalah suatu imajinasi dari Kelly untuk menjelaskan bagaimana suatu lingkungan bisa memburuk menjadi tidak bahkan menjadi suatukejahatan, apabila tidak seorangpun menaruh perhatian dan terpercaya menangani pemeliharaanya. Kalau jendela suatu kantor rusak, lepas dari pengamatan, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada seorangpun yang mengurusi atau bertugas disana. Dengan begitu, orang lewat dapat iseng melemoarkan batu iseng melemparkan batu dan merusak jendela yang lain. Dan segera semua jendela akan rusak , dan kemudian orang lewat itu berpikir, bahwa tidak hanya tidak ada orang yang menjaga bangunan; tetapi juga tidak ada orang yang menjaga jalanan disana. Ketidak tertiban kecil yang dibiarkan, akan menjadi besar dan semakin besar sampai menjadi kejahatan (Kelling dan Coles, 1996).