SEBUAH TEORI SOSIOLOGI TENTANG PERILAKU PIDANA
Untuk pertama kalinya, seorang ahli sosiologi AS bernama Edwin H. Sutherland, tahun 1934, dalam bukunya Principles of Criminology mengemukakan teori Differential Association. Teori Differential Association terbagi dua versi. Dimana versi pertama dikemukakan tahun 1939, versi kedua tahun 1947. Versi pertama terdapat dalam buku Principle of Criminology edisi ketiga yang menegaskan aspek-aspek berikut :Pertama, setiap orang akan menerima dan mengikuti pola-pola prilaku yang dapat dilaksanakan,Kedua, kegagalan untuk mengikuti pola tingkah laku menimbulkan inkonsistensi dan ketidakharmonisan,Ketiga, konflik budaya merupakan prinsip dasar dalam menjelaskan kejahatan.
Selanjutnya, Edwin H. Sutherland mengartikan Differential Association sebagai “the contens of the patterns presented in association”. Ini tidak berarti bahwa hanya pergaulan dengan penjahat yang akan menyebabkan perilaku kriminal, akan tetapi yang terpenting adalah isi dari proses komunikasi dari orang lain. Kemudian, pada tahun 1947 Edwin H. Sutherland menyajikan versi kedua dari teori Differential Association yang menekankan bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, tidak ada yang diturunkan berdasarkan pewarisan orang tua. Tegasnya, pola perilaku jahat tidak diwariskan tapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. Untuk itu, Edwin H. Sutherland kemudian menjelaskan proses terjadinya kejahatan melalui 9 (sembilan) proposisi sebagai berikut :
(1) Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari. Secara negatif berarti perilaku itu tidak diwariskan.
(2) Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Komunikasi tersebut terutama dapat bersifat lisan ataupun menggunakan bahasa tubuh.
(3) Bagian terpenting dalam proses mempelajari perilaku kejahatan terjadi dalam kelompok personal yang intim. Secara negatif ini berarti bahwa komunikasi interpersonal seperti melalui bioskop, surat kabar, secara relatif tidak mempunyai peranan penting dalam terjadinya kejahatan.
(4) Ketika perilaku kejahatan dipelajari, maka yang dipelajari termasuk : (a) teknik melakukan kejahatan, (b) motif-motif, dorongan-dorongan, alasan-alasan pembenar dan sikap-sikap tertentu.
(5) Arah dan motif dorongan itu dipelajari melalui definisi-definisi dari peraturan hukum. Dalam suatu masyarakat, kadang seseorang dikelilingi orang-orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi, namun kadang ia dikelilingi orang-orang yang melihat aturan hukum sebagai sesuatu yang memberikan peluang dilakukannya kejahatan.
(6) Seseorang menjadi delinkuen karena ekses pola-pola pikir yang lebih melihat aturan hukum sebagai pemberi peluang melakukan kejahatan daripada melihat hukum sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi.
(7) Asosiasi Diferensial bervariasi dalam frekuensi, durasi, prioritas serta intensitasnya.
(8) Proses mempelajari perilaku jahat diperoleh melalui hubungan dengan pola-pola kejahatan dan mekanisme yang lazimterjadi dalam setiap proses belajar secara umum.
(9) Sementara perilaku jahat merupakan ekspresi dari kebutuhan nilai umum, namun tidak dijelaskan bahwa perilaku yang bukan jahat pun merupakan ekspresi dari kebutuhan dan nilai-nilai umum yang sama.
Dengan diajukannya teori ini, Sutherland ingin menjadikan pandangannya sebagai teori yang dapat menjelaskan sebab-sebab terjadinya kejahatan. Dalam rangka usaha tersebut, Edwin H. Sutherland kemudian melakukan studi tentang kejahatan White-Collar agar teorinya dapat menjelaskan sebab-sebab kejahatan, baik kejahatan konvensial maupun kejahatan White-Collar.
BEBERAPA KRITIK DAN DISKUSI
Terlepas dari aspek tersebut, apabila dikaji dari dimensi sekarang, tenyata teori Differential Association mempunyai kekuatan dan kelemahan tersendiri. Adapun kekuatan teori Differential Association bertumpu pada aspek-aspek :
(a) Teori ini relatif mampu untuk menjelaskan sebab-sebab timbulnya kejahatan akibat penyakit sosial ;
(b) Teori ini mampu menjelaskan bagaimana seseorang karena adanya/melalui proses belajar menjadi jahat ; dan
(c) Ternyata teori ini berlandaskan kepada fakta dan bersifat rasional.
Sedangkan kelemahan mendasar teori ini terletak pada aspek :
(a) Bahwa tidak semua orang atau setiap orang yang berhubungan dengan kejahatan akan meniru/memilih pola-pola kriminal. Aspek ini terbukti untuk beberapa golongan orang, seperti petugas polisi, petugas pemasyarakatan/penjara atau krimilog yang telah berhubungan dengan tingkah laku kriminal secara ekstensif, nyatanya tidak menjadi penjahat.
(b) Bahwa teori ini belum membahas, menjelaskan dan tidak peduli pada karakter orang-orang yang terlibat dalam proses belajar tersebut.
(c) Bahwa teori ini tidak mampu menjelaskan mengapa seseorang suka melanggar daripada menaati undang-undang dan belum mampu menjelaskan causa kejahatan yang lahir karena spontanitas.
(d) Bahwa apabila ditinjau dari aspek operasionalnya ternyata teori ini agak sulit untuk diteliti, bukan hanya karena teoritik tetapi juga harus menentukan intensitas, durasi, frekuensi dan prioritasnya.
Identifikasi beberapa cacat yang ditemukan berbagai kritikus dalam teori ini juga harus membuat teori lebih jelas. Lima jenis kritik utama telah dijelaskan di dalam literatur ini. Adalah akan salah menganggap bahwa kritik yang diajukan oleh banyak pembaca lebih valid atau lebih penting dibandingkan dengan satu kritik yang diajukan pembaca tunggal, tetapi mengomentari setiap kritik akan membawa kita terlalu jauh. Kita hanya bisa menyebutkan, tanpa elaborasi, beberapa kritik itu dikemukakan oleh hanya satu atau dua penulis.
Telah dinyatakan atau disiratkan bahwa teori asosiasi diferensial: cacat karena teori ini mengabaikan pertimbangan ‘kehendak bebas’, didasarkan pada psikologi yang mengasumsikan musyawarah rasional,mengabaikan peran korban, tidak menjelaskan asal-usul kejahatan, tidak mendefinisikan istilah-istilah seperti “sistematis” dan “kelebihan,” tidak memperhitungkan atau menjelaskan “faktor biologis,” memiliki sedikit nilai atau tidak ada sama sekali kepada “laki-laki praktis,” tidak cukup komprehensif karena teori ini tidak interdisipliner, tidak bersekutu cukup erat dengan teori dan penelitian sosiologi yang lebih umum, terlalu komprehensif karena teori ini berlaku untuk non-kriminals, mengasumsikan bahwa semua orang memiliki akses yang sama ke pola-pola perilaku kriminal dan anti-kriminal, dan mengasumsikan bahwa beberapa pola perilaku secara objektif “kriminal.” Beberapa komentar ini mewakili pasangan yang berlawanan, satu kritik bertentangan kritik yang lain, dan yang lain-lain tampaknya harus didasarkan pada satu atau lebih kesalahan yang dijelaskan di atas.
Teori asosiasi diferensial tidak hanya berkonsentrasi secara eksklusif hanya pada kriminalitas individu. Teori ini juga terkait dengan membuat pemahaman mengenai fakta-fakta kotor tentang kenakalan dan kejahatan. Penelitian tentang tulisan Sutherland jelas menunjukkan bahwa ketika dia merumuskan teori dia sangat peduli dengan penataan dan pengintegrasian informasi yang faktual tentang tingkat kejahatan.
Dalam penjelasannya tentang bagaimana teori asosiasi diferensial dikembangkan, dia membuat tiga hal berikut yang relevan:
Bagi pengembangan sebuah teori adalah pertanyaan Sutherland ajukan adanya salah satu dari pertanyaan ini adalah pria Negro berusia muda-dewasa laki-laki, dan tinggal di perkotaan semua semuanya memiliki tingkat kejahatan yang relatif tinggi:
Kesamaan apa yang dimiliki tiga kelompok ini sehingga menempatkan mereka dalam posisi ini? Pertanyaan lain adalah, bahkan jika orang-orang yang berpikiran lemah memiliki tingkat kejahatan yang tinggi, mengapa mereka melakukan kejahatan? Bukanlah orang-orang yang berikiran lemah tadi, bagi beberapa orang-orang yang berpikiran lemah tidak melakukan kejahatan.
Kemudian pertanyaan lain yang bahkan menjadi lebih penting dalam penelitian Sutherland adalah untuk membuat generalisasi. Tingkat kejahatan memiliki korelasi yang tinggi dengan kemiskinan jika dipertimbangkan dengan sebuah wilayah sebuah kota tetapi korelasi yang rendah jika dianggap secara kronologis dalam kaitannya dengan siklus bisnis, hal ini jelas berarti bahwa kemiskinan bukanlah merupakan sebuah penyebab yang penting dari kejahatan. Bagaimana asosiasi yang bervariasi antara kejahatan dan kemiskinan dijelaskan?
Tercatat bahwa, dalam tiga kutipan di atas, Sutherland mengacu kepada pernyataan asosiasi diferensial, baik sebagai “teori” dan sebuah “hipotesis”, dan tidak menunjukkan adanya perhatian khusus untuk membedakan antara asosiasi diferensial yang berlaku untuk epidemiologi kejahatan dan asosiasi diferensial yang berlaku untuk sikap individu. Dalam rangka untuk menghindari kontroversi tentang karakteristik penting dari teori-teori dan hipotesis, tampaknya lebih baik untuk menamakannya asosiasi diferensial, seperti yang digunakan dalam referensi untuk tingkat kejahatan, sebuah prinsip. Banyak “teori” di dalam sosiologi yang kenyataannya adalah prinsip-prinsip yang mengatur fakta tentang tingkat—yang sekarang dinamakan epidemiologi—dalam beberapa cara.
Sama halnya dengan pernyataan asosiasi diferensial adalah “prinsip konflik normatif” yang menyatakan bahwa tingkat kejahatan yang tinggi terjadi di masyarakat dan kelompok yang ditandai oleh kondisi-kondisi yang mengarah pada pengembangan subkultur kriminalistik yang luas.
Sutherland menemukan prinsip konflik normatif untuk menjelaskan distribusi tingkat kejahatan yang tinggi dan rendah; dia kemudian mencoba untuk menentukan mekanisme dimana prinsip bisa berfungsi untuk menghasilkan kasus-kasus kriminalitas individu. Mekanisme yang diusulkan adalah asosiasi diferensial. Gagasan bahwa kriminalitas adalah konsekuensi dari kelebihan asosiasi yang intim dengan pola perilaku kriminal memang berharga karena, misalnya, gagasan ini menyangkal penekanan bahwa penyimpangan dari norma-norma hanyalah sebuah produk yang secara emosional tidak aman atau tinggal di sebuah rumah yang rusak, dan kemudian menunjukkan dengan cara yang umum mengapa hanya beberapa orang secara emosional tidak aman dan hanya beberapa orang dari keluarga berantakan melakukan kejahatan.