PENYUSUNAN POLA PENGAMANAN OPERASI KETUPAT CANDI 2011

 DI POLRES KEBUMEN MELALUI PENDEKATAN  MANFAAT DSS

dfggdssgd 

 

PENDAHULUAN

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa bulan suci ramadhan dan hari raya idul fitri merupakan salah satu agenda terpenting dalam kalender kamtibmas karena pada waktu-waktu tersebut dinamika kegiatan masyarakat menuntut peningkatan upaya-upaya pengamanan guna menjamin ketersediaan bahan pokok, menjamin kondisi yang tertib, teratur dan lancar serta situasi yang kondusif agar proses-proses dalam masyarakat tidak berdampak negatif pada ekonomi, sosial dan keamanan, yang dapat bermuara pada ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Berkaitan dengan agenda mudik lebaran yang telah menjadi tradisi masyarakat kita, berdasarkan hasil analisa dan evaluasi dari tahun ketahun memberi tiga petunjuk yang sangat mendasar dan menentukan keberhasilan kita dalam pelaksanaan tugas, yaitu :

Pertama, bahwa perencanaan pengamanan dan perencanaan pelayanan kebutuhan masyarakat, tidak dapat dipisahkan secara parsial melainkan harus merupakan satu kesatuan strategi yang fungsional, utuh terpadu dan koordinatif untuk mengantisipasi kepentingan masyarakat.

Kedua, bahwa sistem lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam memadukan  moda transportasi darat, laut dan udara dengan menghubungkan dan mendinamisasikan antar terminal, bandara, pelabuhan laut dan stasiun kereta api, atau simpul-simpul lainnya sesuai dengan dinamika masyarakat.

Ketiga, penyeberangan armada angkutan kebutuhan pokok  yang tersendat pada pelabuhan fery akan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi rakyat karena harga bahan pokok akan meningkat. Selain itu, antrian panjang kendaraan pada ruas jalan akan menghambat arus kendaraan lainnya dan lebih daripada itu dapat menimbulkan tindak pidana berupa pemerasan, pungutan liar dan sebagainya.

Berkaitan dengan hal tersebut, saya ingin meningkatkan kembali berkenaan dengan kondisi lalu lintas dan angkutan jalan pada saat arus mudik dan arus balik lebaran, pada tahun-tahun yang lalu pengalaman empirik yang senantiasa dapat kita jadikan sandaran sebagai faktor-faktor yang dominan penyebab kemacetan berkepanjangan, kesemerawutan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas adalah :

       pertama, peran sistem jaringan jalan yang tidak fungsional lagi karena ketidak seimbangan intensitas kendaraan dengan kapasitas jalan. Densitas (kepadatan) kendaraan yang bergerak kearah konsentrasi mudik dan karakteristik prasarana jalan menjadi penyebab tersendatnya arus lalu lintas.

kedua, lalu lintas campuran (mix traffic) antara kendaraan bermotor dengan kendaraan tidak bermotor atau kendaraan tradisional dan pejalan kaki pada jalur utama arus mudik, ruang milik jalan yang digunakan sebagai tempat berjualan dan parkir, naik turun penumpang angkutan umum yang tidak di terminal, pasar tumpah dan sebagainya yang berdampak pada kesemerawutan dan timbulnya rebutan penumpang diantara pengemudi angkutan tradisional.

       ketiga, keterbatasan pelayanan SPBU  yang mengakibatkan antrian kendaraan, dan tidak tersedianya spbu pada jalur-jalur alternatif, menimbulkan menjamurnya penjual BBM eceran pada bahu-bahu jalan.

keempat,  merupakan hal yang sangat mendasar adalah pengoperasian armada / kendaraan angkutan massal dalam kota (bus kota) untuk mengangkut penumpang mudik dengan kondisi laik jalan yang rendah dan pengemudi yang tidak mengenal / tidak menguasai medan yang akan ditempuh, sangat rawan serta dapat menimbulkan kecelakaan dengan korban massal.

Bertitik tolak dari permasalahan tersebut diatas, adalah sangat penting untuk merumuskan taktik operasi pengamanan dan pelayanan yang efektif dan  Efisien dalam mengantisipasi arus mudik dan balik lebaran. Dalam hal ini tidak dapat kita pungkiri bahwa salah satu kekurangan Polri selama pelaksanaan pengamanan arus mudik lebaran adalah lemahnya analisis memprediksi situasi lalu lintas pada jalur-jalur atau jurusan yang kerap kita anjurkan sebagai jalur pilihan masyarakat pemudik yang kita sebut sebagai jalur alternatif. Akibatnya adalah ketidaksiapan perencanaan pelayanan pada jalur tersebut.

sdfdsa

Kondisi geografis  Kebumen yang merupakan bagian dari gelaran jalur utama transportasi darat  di wilayah selatan pulau  Jawa memiliki  kekhasan tersendiri  antara lain bahwa : Kebumen  merupakan  daerah titik lelah  dan mengantuk pengemudi  kendaraan  yang melintas dari arah Jakarta menuju Yogyakarta  maupun dari Surabaya menuju  Jakarta dan Bandung, ditambah kontur  jalan yang cenderung datar dan lurus , menggunakan Hotmix dan banyak yang belum dilengkapi sarana penerangan jalan, termasuk lintasan kereta api sebidang jalan raya yang berpalang maupun tidak berpalang pintu.

Polres Kebumen memiliki kewajiban   bersama sama pemangku kepentingan umum untuk merumuskan dan mencarikan solusi  yang berkaitan dengan mewujudkan KAMSELTIBCAR Lantas pada saat Mudik lebaran 2011 agar para pemudik yang melintas di Kebumen memperoleh jaminan Keamanan , Ketertiban, Kelancaran dan Keselamatan  berlalu lintas dengan moda transportasi  dan mobilisasi jasa , barang dan orang. Bahwa  kecenderungan opini  mengatakan  bahwa terjadinya Kecelakaan lalu lintas pada saat Operasi Ketupat Candi Digelar selama ini  adalah merupakan NASIB yang tidak dapat dielakkan, karena sesungguhnya berdasarkan database kecelakaan yang  ada,  terlihat suatu pola yang mengejala sebagai trend kecelakaan  yang memiliki arah dan kualitas yang dapat diprediksi

 

LATAR BELAKANG MASALAH

BAGAIMANA MEMANFAATKAN DSS DALAM  PENYUSUNAN POLA PENGAMANAN OPERASI KETUPAT CANDI 2011 DI WILAYAH HUKUM POLRES KEBUMEN, SEHINGGA  TERCIPTA KEAMANAN , KESELAMATAN,KETERTIBAN DAN KELANCARAN LAULINTAS.

 

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud : Menjajaki penerapkan prinsip dasar DSS dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas Polri Khususnya Polres Kebumen dalam rangka Operasi ketupat Candi 2011

Tujuan : Polres Kebumen dapat memanfaatkan teknologi yang flexibel, adaptif dan mudah dioperasikan dalam mendukung pengambilan keputusan dalam Operasi ketupat Candi 2011

TINJAUAN PUSTAKA

Decision Support system atau sistem penunjang keputusan, secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi-terstruktur. Secara khusus, dss didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semiterstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu.

Sebagai suatu sistem informasi yang diharapkan dapat membantu manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keberadaan dss bukan untuk menggantikan tugas-tugas manajer, tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tools) bagi mereka. DSS merupakan implementasi teori-teori pengambilan keputusan yang telah diperkenalkan oleh ilmu-ilmu seperti operation research dan management science, hanya bedanya adalah bahwa jika dahulu untuk mencari penyelesaian masalah yang dihadapi harus dilakukan perhitungan iterasi secara manual (biasanya untuk mencari nilai minimum, maksimum, atau optimum), saat ini computer PC telah menawarkan kemampuannya untuk menyelesaikan persoalan yang sama dalam waktu relatif singkat

Perintis DSS yaitu : Peter G. W. Keen, bekerja sama dengan Scoot Morton untuk mendefinisikan tiga tujuan yang harus dicapai DSS. Mereka percaya bahwa DSS harus: Membantu manajer membuat keputusan untuk memecahkan masalah semi-terstruktur, Mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya. Dan Meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan manajer daripada efisiensinya. Tujuan-tujuan ini berhubungan dengan tiga prinsip dasar dari konsep DSS – struktur masalah, dukungan keputusan, dan efektivitas keputusan.

saat ini komputer PC telah menawarkan kemampuannya untuk menyelesaikan persoalan yang sama dalam waktu relatif singkat. DSS ini bisa berbentuk sistem manual maupun sistem terkomputerisasi. Namun dalam hal ini ditekankan pada sistem penunjang keputusan yang pelaksanaannya berbasis pada komputer.

 

 

 

 

 

 

 

 

PENERAPAN DAN IMPLEMENTASI

 

Keterangan :

Gambar di atas menunjukkan konfigurasi Decision Support System yang dapat digunakan oleh Polres kebumen dalam OKC 2011. Secara garis besar DSS dibangun oleh tiga komponen besar : Database , Model Base dan Software System . Dalam DSS, data dikumpulkan ke dalam sebuah database dan diorganisasikan oleh database management software (DBMS), dan model penyampaian informasinya dikumpulkan ke dalam model base dan diorganisasikan oleh model base management software (MBMS). Keduanya diorganisasi oleh dialogue generation and management software (DGMS) yang bermanfaat sebagai interface antara user dan sistem.
Aplikasi  DSS yang digunakan  dalam Operasi Ketupat Candi 2011 , menggunakan kumpulan Data  yang diperoleh dari berbagai sumber , Internal, Ekseternal  maupun dari rumusan kebijakan  Pimpinan Polri yang dituangkan dalam  visi dan misi Polres Kebumen.

Data dalam data warehouse kemudian akan digunakan langsung oleh User sebagai report maupun diolah melalui Model Management. Data Management biasanya memanfaatkan Data Base Management System (DBMS) yang ada di pasaran seperti Oracle atau SQL Server.  Model Management melalui Model Base Management melakukan interaksi baik dengan User Interface untuk mendapatkan perintah maupun Data Management untuk mendapatkan data yang akan diolah.

Model Base Management akan menggunakan Model Base yang berisi model-model yang digunakan dalam DSS yang dengan bantuan perangkat lunak atau engine yang ada di dalam Modeling tools melakukan pengolahan data yang kemudian hasilnya ,dikembalikan lewat Model Base Management untuk dikirim ke User Interface.

Contoh model yang disimpan dalam Model Base ini adalah model simulasi, model what-if berupa : model pengalihan arus lalin, Model penanganan Laka lantas, Model kontijensi situasi darurat maupun rusuh masa, dan lain-lainnya, dengan menggunakan perangkat “ Modeling Tool” yang  bisa berisi perangkat lunak yang menjalankan model yang ada di Model Base. Contohnya adalah Microsoft Excel dengan makronya, iDecide, maupun program yang dibuat sendiri untuk merealisasikan suatu model

User Interface digunakan untuk berinteraksi antara user dengan DSS, baik untuk memasukkan informasi ke sistem maupun menampilkan informasi ke user. Karena begitu pentingnya komponen user interface bagi suatu sistem DSS, maka Polrs Kebumen  harus bisa merancang suatu user interface yang bisa mudah dipelajari dan digunakan user, dan laporan yang bisa secara mudah dimengerti oleh jajaran.
Alur berfikir yang digunakan adalah bagaimana user ( kapolres ) dalam hal  membuat keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraan OPS Ketupat Candi 2011 dapat memperoleh masukan masukan positif yang mendekati  kondisi  dilapangan yang akan dihadapi.Aplikasi DSS yang diterapkan  ini   secara ideal akan meberikan gambaran dan perkiraan tantangan yang dihadapi dalam OKC 2011 meliputi :

Jumlah kepadatan arus  menjelang dan sesudah hari  H  lebaran yang akan melintas di wilayah Kebumen , dapat dilihat dari tabel tabel berikut yang menampilkan   perkembangan jumlah arus dan kepadatan  kendaraan  yang melintas di Jalur Pantura dan Pansel Jawa Tengah, dimana  wilayah hukum Polres kebumen merupakan bagian didalamnnya.

Dengan mengetahui perkiraan Kepadatan arus lalin yang akan melintas  pada hari H-7 sampai H+7 lebaran 2011 untuk kemudian dipadukan dengan Jumlah pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di tahun  2008, 2009 dan 2010 akan dapat diketahui bahwa  terdapat pola yang  sama terhadap  angka kecelakaan dengan kepadatan arus lalin yang melintas secara fluktuatif pada rentang kurun waktu OKC mulai tahun 2008, 2009 sampai 2010.

Data yang terkumpul  dari  eksternal terutama berkaitan langsung dengan penyelenggaraan OKC 2011 adalah  data  sarana prasarana jalan yang meliputi : kualitas dan kelas jalan, jumlah rambu dan marka jalan, sarana  angkutan , terminal, hambatan samping ruas jalan,  cekikan arus lalin, kebijakan pembatasan  Truk angkutan barang memiliki keterkaitan dengan  kesiapan polri untuk melibatkan personil , membangun Pos Pengamanan dan Simpatik lebaran , rencana pengalihan arus termasuk penempatan   titik layanan masyarakat.

DSS merupakan suatu sistem informasi yang diharapkan dapat membantu Kapolres selaku user  dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keberadaan DSS bukan untuk menggantikan tugas-tugas manajer, tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tools) bagi mereka. DSS sebenarnya merupakan implementasi teori-teori pengambilan keputusan yang telah diperkenalkan oleh ilmu-ilmu seperti operation research dan management science.
Hanya bedanya adalah bahwa jika dahulu untuk mencari penyelesaian masalah yang dihadapi harus dilakukan perhitungan iterasi secara manual (biasanya untuk mencari nilai minimum, maksimum, atau optimum).

Sumber data pembanding yang digunakan:

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan :

Cara memanfaatkan DSS oleh User ( Kapolres kebumen )  dalam  menyusun pola pengamanan Operasi Ketupat Candi 2011 di wilayah hukum Polres Kebumen, untuk mewujudkan  keamanan , keselamatan,ketertiban dan kelancaran laulintas adalah dengan mempersiapkan  langkah –langkah antisipasi  tindakan atas lonjakan  arus lalin, frekuensi kegiatan masyarakat, potensi ganguan kamtibmas maupun menyusun rencana kontijensi sewaktu waktu terjadi perubahan yang mendadak saat Operasi ketupat Candi 20011 berlangsung .Kemanfaatan  DSS dalam menyusun  Pola Pengamanan dalam OKC 2011 akan  optimal bila Data Management, Model Management, dan User Interface  dalam  DSS Ops Ketupat Candi 2011 dapat dikelola dengan baik, update dan realistis.

Rekomendasi:

  1. DSS memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data / informasi bagi pemakainya sehingga DSS perlu dikembangkan dan dijadikan  kemampuan  yang wajib dimiliki calon calon pengambil keputusan agar dapat kelak  dapat membantu mengambil keputusan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur seperti pola pengamanan dalam Operasi  Ketupat Candi maupun operasi Kepolisian lainnya.
  2. Perlu pengembangan perangkat DSS yang user friendly agar  dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan, Walaupun suatu DSS, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya, karena mampu menyajikan berbagai alternatif pemecahan

 

 

DAFTAR PUSTAKA:

BUKU :

  1. Decision Support Systems and Intelligent Systems;Efraim Turban & Jay E. Aronson,6th edition, Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ, 2001
  2. Komputerisasi Pengambilan Keputusan, 1th edition, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001
  3. Suryadi HS, Sistem Penunjang Keputusan, Gunadarma, Jakarta, 1994

Artikel Internet :

  1. http://www.arinilarasati.info/berita-103-manfaat-data-mining.html
  2. http://ifan89.blogspot.com/2010/10/konsep-pengertian-manfaat-dan-tujuan.html
  3. http://nono.web.id/software-dss-untuk-umkm.html
  4. http://fairuzelsaid.wordpress.com/2009/12/07/data-mining-jawaban-soal-uts-data-mining/
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Decision_support_system